Beda Generasi, Satu Arena: Sepuh dan Anak Muda Taklukkan Lokapasar Digital Dunia

  • 30 Agt 2026 00:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah memperkuat regulasi ekosistem digital melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 untuk melindungi konsumen dan mengutamakan produk dalam negeri.
  • Kementerian Komdigi dan Kementerian UMKM mendorong transformasi usaha mikro agar beralih dari sekadar masuk platform digital menuju peningkatan produktivitas serta adopsi kecerdasan buatan.
  • Pelaku usaha rumahan Sambal RoaRia membuktikan pentingnya penguatan standar mutu dan kejujuran produksi di sektor hulu guna menjamin keberlanjutan pasar domestik maupun ekspor.
Platform lokapasar Shopee

RRI.CO.ID, Depok – Uap panas mengepul dari wajan di dapur kediaman kawasan Raffles Hills, Kota Depok, Jawa Barat. Aroma pedas cabai rawit menguar dengan gurihnya ikan roa asap asal perairan Sulawesi Utara.

Seorang wanita yang bukan lagi separuh baya berdiri di meja dapur granit abu-abu. Tangannya perlahan menuang adonan sambal berminyak ke dalam toples kaca mini berukuran 115 gram.

"Saya Titin Wala. Saya udah sepuh, 65 tahun," kata Titin Wala sembari tertawa saat ditemui RRI pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Ingatannya melayang pada peristiwa sembilan tahun silam saat usaha rumahan bermerek RoaRia bermula. Kala itu keluarganya menerima kiriman ikan roa asap dari Gorontalo yang sangat keras dan kering.

"Jadi udah produksi Sambal Roa tuh udah 9 tahun lah. Itu juga ya tanpa sengaja sih, kejeblos aja gitu," ujar Titin Wala.

Ikan laut kering tersebut sempat tersimpan lama di sudut lemari es tanpa pernah disentuh. Sang suami mengingatkan agar kiriman berharga dari tanah rantau itu tidak berakhir menjadi mubazir.

"Terus suami bilang, 'Bikin dong, sayang masa dikasihin sama keluarga enggak dibikin,' gitu. Akhirnya dibikinlah, dikupas (bumbu-red) ya, pembantu juga sembari cemberutlah karena (ikannya-red) keras itu. Jadi ditumbuk, dibikin," kata Titin Wala.

Ikan roa merupakan hasil tangkapan nelayan perairan laut timur di Maluku dan Sulawesi bagian utara. Bentuk tubuhnya memanjang menyerupai ikan kembung dengan cucut panjang pada bagian bawah mulutnya.

"Mirip gergaji, tapi ini tidak bergergaji. Nah itu ditangkap, kemudian diasap lama sampai kering garing," ujar Clay Wala, suaminya.

Titin Wala sedang menimbang dan menata botol-botol Sambal RoaRia yang sudah dikemas. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Titin membuang bagian kepala serta kulit lalu menumbuk kasar daging punggung ikan yang padat. Kala itu, ia memadukannya dengan racikan bumbu dapur seadanya berupa cabai rawit merah, bawang merah, dan garam.

"Ada yang bilang pakai serai, pakai terasi, kasihin tomat yang banyak. Tapi ya akhirnya udah, karena pada waktu itu dibikin ternyata taste-nya oke, ya itulah yang dipertahankan," kata Clay Wala.

Racikan sambal perdana itu langsung memikat selera seluruh anggota keluarga saat bersantap di rumah. Titin kemudian membagikan sebagian botol olahannya kepada teman-teman satu perkumpulan olahraga senam kebugaran.

"Dia bilang, 'Saya tahu roa itu mahal, Tin. Saya enggak mau gratis.' 'Ya oke.' Kasihin ke dia, dia bilang, 'Oh enak,' dan dia orang ngomongnya pakai bahasa Sunda, 'Ngeunah, Tin. Sambalnya ngeunah (enak-red),' gitulah, cocok, dah," ucap Titin Wala, menceritakan respons sejawatnya.

Bahkan, tetangganya warga perantau asal Gorontalo di kompleks perumahan beralih menjadi pelanggan tetap sambal Titin. Pelanggan tersebut rutin memesan kemasan dus berisi enam hingga 12 botol untuk buah tangan.

"Biasanya dia suka bikin di rumah atau dapat kiriman dari Gorontalo, tapi sekarang enak katanya dekat, pesan di saya. Saya kan siapkan tuh dus yang isi satu, enam, 12, jadi untuk oleh-olehlah," kata Titin.

Tahun 2017 menjadi titik awal bagi pasangan suami istri ini untuk menekuni usaha itu secara serius. Titin mulai menyiapkan 25 botol kaca untuk dibagikan secara cuma-cuma saat mencoba uji pasar.

Suaminya dengan rambut kelabu dan kaus oblong putih berlogo BSN mendampinginya selama perbincangan bersama RRI. Pria bernama Clay Wala ini telah menginjak usia 71 tahun.

"Saya sebagai driver-nya. Ibu mau ke mana-mana, ngantarin. Ya, jadi selama ini bantuin Ibu sebagai suporter, penyemangat," ujar Clay Wala.

Sebagai pensiunan akademisi di bidang grafika, Clay mengambil peran sentral dalam penjaminan mutu kemasan. Ia merancang tata letak brosur promosi dan mencetak label stiker berperekat untuk wadah kaca.

Clay juga yang menolak penggunaan metode sterilisasi bersuhu 121 derajat Celsius untuk produk Sambal RoaRia ini. Suhu setinggi itu terbukti merusak tekstur dan mematikan kenikmatan cita rasa asli olahan ikan roa.

"Pasteurisasi itu artinya kita harus masukkan itu di atas 80 derajat dan langsung ditutup. Dengan begitu, minim oksigen, temperatur tinggi, kedap, dan kadar airnya rendah," ucap Clay Wala.

Tutup botol ulir logam berlapis plastisol karet dipasang rapat saat adonan sambal masih mengepul panas. Ketika mendingin, ruang dalam botol mengedap hampa udara sehingga bakteri berbahaya tidak sanggup berkembang biak.

"Makanya ini kalau (disimpan-red) di suhu ruang 2,5 tahun aman. Tanpa pengawet lho. Tapi ini diakui setahun. Jadi hanya ditulis satu tahun awetnya, kami yang ambil safety-nya aja," kata Clay Wala.

Menurutnya, petugas Dinas Kesehatan Kota Depok mendatangi kediaman mereka untuk menguji higienitas produknya. Alhasil, produk ini dinyatakan lolos uji sertifikasi dengan diberikannya nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

Bahkan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DKUM) Kota Depok turut memfasilitasi penerbitan sertifikasi halal resmi. Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk merek dan logo RoaRia pun didaftarkan.

Tidak main-main, Badan Standardisasi Nasional (BSN) turut membina pasutri lansia ini untuk mendapatkan pengesahan Standar Nasional Indonesia (SNI). Clay menceritakan bagaimana usaha yang termasuk kategori rumahan ini harus menyusun 23 dokumen sistem manajemen mutu secara mandiri.

Dokumen tersebut merinci alur baku proses pengolahan sambal, penanganan keluhan pembeli, hingga penarikan produk cacat. Clay juga melengkapi dapurnya dengan timbangan digital yang telah teruji akurasi kalibrasi resminya.

"Saya punya anak timbangan yang sudah dapat cap segilima dari Metrologi, yang 100 gram dan 200 gram. Dan saya bilang bahwa ini legal lho, terkalibrasi," kata Clay Wala.

Mempertegas keamanan produknya, sampel sambal dikirim ke laboratorium Balai Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan di Surabaya. Hasil laboratorium menyatakan sambal bebas dari cemaran logam berat merkuri, timbal, arsen, serta kadmium.

Sambal RoaRia. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Jadi pertama itu dites karena ingin tahu sebenarnya sambal ini layak sertifikasi apa enggak. Begitu diuji ternyata ini bagus, Surabayanya langsung senang. Sampai ada yang komentar, 'Wah ini ada emas di Depok,' katanya," ucap Clay Wala.

Sertifikasi SNI 9106:2022 untuk kategori sambal ikan akhirnya berhasil mereka genggam pada tahun 2025. Titin menjadi yang pertama pemegang sertifikat standar nasional tersebut di Indonesia.

Langkah mereka merambah dunia perdagangan digital sendiri tidak menunggu lama, yakni setahun setelah memulai. Namun, tantangan utama pasangan lansia ini adalah dihantui rasa rendah diri terhadap perkembangan teknologi gawai pintar.

"Tadinya kan enggak kepikiran mau jualan online. Karena ya biasalah, seuzur, seumur gini selalu bilangnya saya gaptek," ujar Clay Wala sembari terkekeh.

Dan jalan hidup penjualan digital mereka pun menjadi berbeda kala tokoh Asosiasi Belimbing Kota Depok mendatangi mereka. Mereka diperkenalkan dan didaftarkan untuk masuk ke dalam aplikasi Shopee.

Bahkan, Titin mengajak para pelaku usaha mikro di sekitar lingkungannya untuk ikut mendaftarkan produk mereka. Berbagai produk olahan makanan khas Depok lantas didaftarkan bersamaan ke dalam sistem lokapasar digital tersebut.

Berikutnya, Titin mengundang seorang rekanan fotografer untuk membuat dokumentasi produk botol kaca miliknya. Menurutnya, kejelasan visual kemasan tersebut menjadi pemikat utama calon pembeli di etalase lokapasar daring.

"Seminggu bersorak di grup WA itu karena mulai pecah telur. RoaRia-nya terjual satu. Terus, yang pertama, kedua, produk teman-teman menyusul ikut terjual," kata Clay Wala.

Prestasi konsistensi mutu yang dijaga tersebut mengantarkan pasutri sepuh ini diundang ke panggung perayaan mall Kota Kasablanka. Clay mengatakan produk sambal rumahan asal Depok ini berdiri sejajar menerima penghargaan bersama jenama Samsung dan Philips.

Kami mengamati bagaimana Titin menimbang sambal-sambal tersebut ke atas timbangan digital bersertifikat metrologi di dapur bersihnya. Ada banyak cerita menantang di balik setiap toples-toples kaca yang kini merambah lokapasar digital.

Deru perputaran ekonomi digital

Platform lokapasar Shopee menjadi salah satu layanan yang dirambah etalase digital Sambal RoaRia. Penjualan di platform Shopee mencatatkan pergerakan transaksi yang memuaskan bagi pasangan lansia ini.

"Udah mulai jualan di Shopee, ternyata penjualannya juga bagus, bersaing dengan penjualan di tempat lain," ujar Clay Wala.

Fitur bebas ongkos kirim menjadi jembatan yang memudahkan pembeli menjangkau produk rumahan mereka. Clay memahami bahwa tambahan ongkir sering kali memberatkan pembeli sambal kemasan botol kaca.

"Kami jual sambalnya di Shopee itu Rp39.000. Kalau misalnya kena ongkir Rp10.000 jadi Rp49.000, udah hampir Rp50.000, udah berasa mahal," ucap Titin.

Uniknya, aktivitas berniaga daring ini perlahan menumbuhkan kebiasaan baru bagi sepasang lansia tersebut. Titin dan suaminya turut memanfaatkan aplikasi digital untuk memenuhi berbagai kebutuhan harian keluarga.

"Di Shopee itu jadi akhirnya kita memang hari-hari belanja di Shopee. Vitamin aja di Shopee, terus itu lotion apa di Shopee, beli ragi bikin tape ketan dari Shopee," kata Titin Wala yang tengah menunggu kedatangan pesanan kacang mete dari Shopee, sembari di-iya-kan suaminya yang penggemar tape.

Tantangan teknis muncul ketika platform mewajibkan penggunaan plastik pembungkus gelembung tebal berlapis-lapis. Clay mengkhawatirkan ancaman timbulan sampah plastik yang terus menumpuk di perairan pesisir Jakarta.

"Waktu Anies baru jadi gubernur, 6 bulan kemudian dia bilang sampah di Teluk Jakarta, sampah plastik, itu naik 16 persen gara-gara Covid. (Ini karena-red) banyak yang pesan online," ujar Clay Wala.

Hal tersebut yang membuat Clay merancang alternatif bantalan peredam menggunakan cacahan kertas karton bergelombang yang ramah lingkungan. Ia menguji paket sambal dengan menjatuhkannya dari ketinggian satu meter tanpa mengalami pecah wadah.

Di balik optimisme kelancaran transaksi digital, tantangan lain tetap membayangi dapur produksi mereka. Kenaikan harga bahan baku pokok menuntut keuletan ekstra agar usaha mereka tetap dapat bertahan.

Harga komoditas cabai rawit merah sempat melesat hingga mencapai angka Rp110.000 per kilogram. Minyak goreng kemasan dan wadah botol kaca impor pun turut mengalami kenaikan harga.

Sejumlah penghargaan yang diterima oleh Titin Wala dengan produk Sambal RoaRia. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Sekarang kan kebayang enggak ya ibu-ibu nih yang UKM, gas aja dari Rp215 (ribu-red) naik Rp225 (ribu-red), naik Rp250 (ribu-red). Terus dari minyak nih Rp28, Rp30, Rp35, sekarang Rp45 (ribu-red). Terus botol, botol dari Rp4.000, Rp4.200 sekarang Rp4.400," kata Titin Wala.

Meningkatnya biaya produksi tersebut membuat sejumlah sejawat UMKM di lingkungannya juga menyerah. Sebagian pelaku usaha mikro terpaksa menghentikan aktivitas produksi akibat ketiadaan modal cadangan.

"Teman-teman saya UKM tuh, yang jual sambal tuh, kasihan loh banyak yang berhenti karena cabai rawit," ujar Titin Wala.

Pasokan bahan baku utama ikan roa asap dari Gorontalo bahkan melonjak ke angka Rp250.000 per kilogram. Gelombang laut musim barat membuat para nelayan tradisional timur kesulitan melaut menangkap ikan.

"Roanya sendiri saya punya keluarga, jadi pesanlah dari sana. Sekarang naik Rp250 (ribu-red). Kalau misalnya musim hujan kayak kemarin, susah banget karena nelayannya susah katanya. Jadi dari Rp200, Rp225, Rp250 (ribu-red), gitu ajalah," ucap Titin Wala.

Kendati margin keuntungan kian tipis, Titin pantang mengurangi takaran daging ikan roa. Ia tetap menahan harga jual pada kisaran Rp35.000 hingga Rp39.000 per botol kemasan.

Pengadaan bahan baku ikan roa pun sempat menorehkan pengalaman pahit berupa hilangnya kiriman uang pesanan. Uang jutaan rupiah yang dikirim ke perairan timur raib tanpa ada kejelasan kabar.

"Kalau yang pesan ikan itu, kami sudah bayar tapi ikannya enggak datang. Nah, itu kita enggak berani ngomong ketipu karena takutnya orangnya waktu itu kan kalau melaut ada musim barat," kata Clay Wala.

Peristiwa serupa terulang saat memesan pasokan ikan melalui perantara agen penampung di Jakarta. Surat konfirmasi resmi yang dikirimkan pasutri sepuh ini tak pernah berbalas jawaban.

"Terus kita susulin pakai surat. Saya pikir ah mungkin siapa tahu dianya ke mana atau hilang HP-nya. Tapi tetap enggak ada jawaban, ya gitulah, sudah," ujar Titin Wala.

Di tengah berbagai aral tersebut, Sambal RoaRia berhasil menembus kurasi ketat Clubhouse Stamford. Dari 14 pelaku usaha mikro yang mendaftar, hanya sambal Titin yang lolos bermitra.

"Dikumpullah dari 14 UKM, masukkan produk di sana, dikurasi, yang lolos cuman satu, Sambal Roa, sampai sekarang," ujar Clay Wala.

"Ada juga itu hotel yang beli sambal roanya aja tanpa botol. Jadi dikilo untuk menu nasi goreng. Hotel mana, harus rahasia katanya," ucap Titin Wala.

Cita rasa autentik sambal rumahan ini melanglang buana melintasi berbagai benua di dunia. Istri-istri duta besar membawa botol kemasan kaca ini hingga ke Jerman, Jepang, dan Puerto Riko.

Clay bercerita sebotol Sambal RoaRia dipotret tepat di depan patung Nelson Mandela Afrika Selatan. Kemasan sambal berhias pita merah putih juga dibagikan dalam perayaan di KBRI Beijing.

Koki ternama Filipina, RV Manabat, bahkan mendemonstrasikan kelezatan sambal ini pada siaran televisi nasionalnya. Di London, seorang diaspora Indonesia menemukan sebotol Sambal RoaRia dijual seharga Rp400.000 per kemasan.

"Sempat ke Amazon internasional, sempat muncul dengan bahasa Spanyol. Sempat juga ada teman yang kabarin bahwa di Inggris juga dijual dan harganya itu, dalam rupiah kita, bisa Rp400.000 per botol," kata Clay Wala.

Kiprah sambal rumahan ini tercatat dalam buku kuliner khusus karya pakar lingkungan Amanda Katili. Buku tersebut merangkum kisah para juru masak nasional bersama RoaRia sebagai pelaku UMKM.

"Ini juga nih ada buku mengenai sambal roa, yang nulisnya Dr. Amanda Katili. Jadi yang diundang chef-chef nasional lah, ya UKM-nya saya," ujar Titin Wala.

Kementerian Perdagangan pun menobatkan Sambal RoaRia sebagai 10 Besar Finalis UMKM Pangan Award 2024. Pemerintah Kota Depok turut menganugerahkan penghargaan prestisius kategori UMKM Sepanjang Masa tahun 2026.

Kami memandangi berbagai deretan dokumen penghargaan dan sertifikasi yang tertata rapi di atas meja kayu ruang tamu. Dokumen-dokumen ini menjadi bukti ketangguhan mereka menapaki belantara lokapasar digital di tanah air.

Pemerintah merespons

Deru perputaran ekonomi digital menampakkan wajah yang berbeda di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Fikri, pengusaha madu muda, mengawali langkah wirausaha sejak akhir tahun 2019 sebelum gelombang pandemi Covid-19 melanda.

"Jadi Madu Azura itu kami tuh sebenarnya brand madu yang relatif baru, yaitu sekitar 5 tahunan. Waktu itu kami produksinya sebenarnya dulunya gak banyak, tapi waktu itu pas Covid booming," kata Fikri yang mengenakan kemeja lapangan merah marun dengan emblem jenama Madu Azzura.

Kebutuhan masyarakat terhadap produk peningkat daya tahan tubuh melonjak tajam pada masa pandemi. Fikri memanfaatkan peluang tersebut dengan memformulasi madu herbal bercampur ekstrak daun mint segar.

"Iya, Madu Mint. Jadi madu dikasih herbal mint. Jadi itu bagus banget buat recovery orang Covid," ujar Fikri saat ditemui di kawasan Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Rabu, 13 Agustus 2026.

Inovasi produk terus berlanjut hingga melahirkan dua kategori utama berupa madu murni dan madu herbal. Masing-masing varian memiliki kekhasan rasa yang bersumber dari kekayaan nektar vegetasi alam nusantara.

"Kalau madu murni tuh contoh Madu Odeng Banten, Madu Multiflora, Madu Sumbawa, Madu Kelengkeng—jadi rasa kelengkeng dari pohon kelengkeng. Tapi ada juga madu yang herbal, contoh madu herbal tuh madu hitam, itu dicampur sama herbal seperti habbatussauda," ucap Fikri.

Fikri juga meracik varian madu khusus anak-anak dengan menambahkan ekstrak buah goji beri. Ia merancang produk tersebut guna membantu pemenuhan vitamin dan meningkatkan nafsu makan anak.

"Ada juga Madu Kids yang dikasih Goji Berry, bagus buat vitamin dan nafsu makan anak-anak," kata Fikri.

Fikri, pemilik usaha Madu Azzura. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Keunikan rasa lain hadir lewat olahan madu lebah yang menghisap nektar perkebunan tanaman kopi. Cairan manis tersebut secara alami mengeluarkan aroma serta sensasi rasa seduhan kopi asli.

"Ada juga Madu Kopi yang dari nektar kopi, jadi rasanya bener-bener kayak kopi. Terus Madu Hitam, mint tadi ya, dari Odeng Banten, jadi banyak banget dari seluruh Indonesia, banyak, (ada-red) 20 varian lebih," ujar Fikri.

Proses pengumpulan madu dari para peternak mitra membutuhkan waktu berkisar satu hingga dua bulan. Waktu panen sarang lebah sangat ditentukan oleh siklus mekarnya bunga dan iklim setempat.

"Sebenarnya madu itu beda-beda ya, maksudnya kayak gak bisa 2 minggu, sebulan. Kadang cepat, kadang lambat. Tapi rata-rata 1 sampai 2 bulan. Kenapa begitu? Karena biasanya tergantung musim bunganya, dan juga cuacanya," ucap Fikri.

"Contoh misalkan kalau dia hujan, dia madunya bisa lebih banyak tapi agak kandungan airnya lebih banyak. Sebenarnya masih ditolerir, kayak di bawah 10 persen gitu. Kan madu kan bisa dites tuh, kalau misalkan madu hujan sama madu nggak," kata Fikri.

"Petani madu tuh enggak fix tempatnya, tapi dia suka nomaden. Sarang lebahnya dia itu kan ada box-nya, tapi box-nya ini jadi mobile, suka pindah-pindah. Recommended-nya sebenarnya pindah, Pak, karena biar regenerasi dulu di situ," ujar Fikri.

Fikri sempat mengalami kegagalan pada sejumlah varian rasa yang kurang diminati oleh pasar digital. Uji coba bertahap akhirnya menyaring 20 varian unggulan yang paling laris dipesan konsumen.

"Ada varian apa nih kita cobain, trial dan error juga. Jadi sebenarnya dari banyaknya varian, udah beberapa banyak yang gugur juga. Karena misalkan dia kurang cocok, market-nya kurang, tapi akhirnya kita udah nemuin sekitar 20-an yang paling rame," ucap Fikri.

Fasilitas produksi dan pencampuran madu tersebar di beberapa kota termasuk Jakarta serta Bandung. Fikri memastikan seluruh tetes madu yang ia pasarkan murni bersumber dari peternak lokal Indonesia.

"Soalnya kan gini, madu tuh ada yang Arab juga, ada yang dari Yaman, ada yang dari apa, kan banyak ya? Kalau kami full Indonesia," kata Fikri.

Pusat pengemasan di Jakarta Timur menjadi simpul utama pengiriman barang ke wilayah Jabodetabek. Fikri mengakui secara terbuka bahwa target omzet menjadi motor penggerak utama ekspansi usahanya.

"Motivasinya jelas omzet, karena waktu itu jelas waktu zaman 2020 kan, ini sekitar 2019 akhir. Waktu 2020 itu booming-nya sangat booming, sampai kita produknya habis, habis, habis terus. Akhirnya apa? Ya udah, kita inovasi terus, inovasi," ujar Fikri.

Fikri memutuskan menutup skema titip jual di toko luring demi fokus berniaga daring. Aplikasi lokapasar Shopee menyumbang porsi terbesar hingga 90 persen dari total transaksi penjualannya.

"(Kita-red) 100 persen udah online. Dulunya, saya pakai reseller juga, jadi kayak nitip di toko. Tapi sekarang udah 99 persen online, termasuk Shopee. Shopee tuh mungkin kayak 90 persen," ucap Fikri.

Fikri mengamati peta persaingan niaga elektronik di tanah air secara berkala dan terukur. Ia menilai ekosistem Shopee masih memegang kendali pangsa pasar terbesar di Indonesia.

"Menurut saya emang market dibandingin TikTok masih gedean Shopee. Mungkin kayak 70 persen jualan di Indonesia bisa Shopee menurut saya. Dibandingkan Tokopedia, TikTok, dan teman-teman saya penjual-penjual lain juga ngomongnya sama, Shopee masih nomor satu," kata Fikri.

Keberanian berinvestasi pada iklan berbayar menjadi strategi andalan Fikri dalam merebut pasar digital. Total biaya periklanan yang ia belanjakan dalam tiga tahun telah mencapai angka miliaran rupiah.

Produk Madu Azzura. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Selain jenama madu dan tas grosir, Fikri mengibarkan merek busana muslim perempuan bernama Zenita. Penjualan busana Zenita bahkan mencatatkan perputaran omzet yang jauh melampaui produk madunya.

"Tahun lalu juga Shopee tuh bikin acara Shopee UMKM Juara, Zenita tuh juara 6. Tereliminasi gara-gara salah packing, karena ada challenge salah packing, saya salah. Tapi intinya Zenita tuh kalau produk baju kami itu udah jauh lebih settle," ucap Fikri.

Lini busana Zenita memanfaatkan program Shopee Ekspor untuk merambah konsumen di kawasan Asia Tenggara. Ribuan potong pakaian telah terkirim menuju pembeli di pasar Malaysia dan Singapura.

"Baju saya udah kirim ratusan lah, hampir ribuan deh. Pengiriman ke Malaysia, Singapura banyaknya. Nomor satu Malaysia, nomor dua Singapura," kata Fikri.

Produk pakaian lebih mudah diekspor karena berupa benda padat yang aman selama proses pengiriman. Sebaliknya, madu murni berkualitas tinggi menghasilkan gas alami yang berisiko bocor dalam perjalanan kargo.

"Kalau baju kan aman tuh, baju kan benda mati kan, maksudnya gak bercecer, gak apa. Kalau madu itu emang salah satu tantangannya pengirimannya, Pak. Jadi kalau madu bagus, dia justru banyak gasnya di dalamnya, dan itu bisa bocor di jalan," ujar Fikri.

Fikri menempatkan dirinya sebagai generasi penjual baru yang melesat lewat penguasaan algoritma niaga. Kecepatan adaptasi teknologi menjadikannya salah satu mitra binaan yang diperhitungkan di platform digital.

"Jadi kenapa saya dilirik sama Shopee, karena saya salah satu yang akselerasinya cepat. Jadi saya bukan sepuh, kalau saya dari tiga tahunan," ucap Fikri.

Pemerintah merespons cepat perubahan lanskap perdagangan digital melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026. Regulasi tersebut menegaskan kewajiban pengutamaan produk dalam negeri dan transparansi struktur biaya layanan lokapasar.

"Jadi ini salah satunya adalah menindaklanjuti Permendag 19 ya, di mana salah satu poinnya adalah bagaimana kita bisa mengutamakan produk-produk lokal," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso saat berbicara pada Program Akselerasi Produk Lokal Shopee-Kementerian Perdagangan di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 13 Agustus 2026.

Budi Santoso menekankan pentingnya menjaga keselarasan hubungan pedagang, platform, dan konsumen. Ia memaparkan data struktur impor nasional yang didominasi pasokan bahan baku industri manufaktur.

"Struktur impor kita itu dari 100 persen, impor kita itu 91 persen itu produk bahan baku dan barang modal. 9 koma sekian persennya itu barang-barang konsumsi. B2B, tapi pemerintah tetap mengawasi agar lebih fair antara seller, platform, dan juga untuk kepentingan konsumen," ujar Budi Santoso.

Pemerintah membuka akses pasar internasional melalui pameran tahunan Trade Expo Indonesia (TEI). Program kurasi Pilihan Busan turut memasok produk pelaku usaha mikro ke jejaring toko modern.

"Tahun lalu buyer dari luar negeri yang datang itu 8.045, transaksi dagangnya itu mencapai 22,8 miliar US Dollar, untuk UMKM sendiri mencapai 474 juta US Dollar. Produk-produk Pilihan Busan kalau sudah masuk maka bisa diterima di Indomaret, Indogrosir, dan Point Coffee," ucap Budi Santoso.

Arah transformasi digital nasional turut ditekankan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menghadiri pertemuan Komunitas Tangan Di Atas (TDA).

"Kalau dulu kita masih pakai bendera 'go digital', UMKM 'go digital', sekarang saya kira kita harus mengarah kepada 'go produktif' dan 'go kompetitif'," kata Nezar Patria, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Tingkat penetrasi internet nasional kini telah menjangkau angka 80,6 persen populasi penduduk. Data Sistem Informasi Data Tunggal mencatat 30,12 juta unit usaha mikro di Indonesia.

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat berbicara pada Program Akselerasi Produk Lokal Shopee-Kementerian Perdagangan di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 13 Agustus 2026. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Ada banyak sekali contoh-contoh yang bisa kita lihat, dengan adanya 'go produktif' dan 'go kompetitif' melalui platform digital ini, sejumlah UMKM naik kelas, sejumlah UMKM juga bisa besar. Dan ada banyak yang sudah 'go global' juga," ujar Nezar Patria.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kemen UMKM) mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Pelaksana tugas Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, memaparkan arah kebijakan tersebut.

"Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi AI. Kita harus menjadi pemain aktif dalam membentuk ekosistem di mana AI memperkuat usaha, memberdayakan pengusaha UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau dan merata," ucap Riza Damanik di Bali, Sabtu, 18 April 2026.

Kementerian meluncurkan platform SAPA UMKM serta program Entrepreneur Hub guna memperkuat inovasi usaha. Penerapan teknologi cerdas diarahkan untuk memperluas akses penyaluran program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pihak platform lokapasar merespons integrasi ekosistem tersebut lewat peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal. Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang memaparkan rangkaian dukungan pilar 3A.

"Program Akselerasi Produk Lokal dengan semangat dukungan 3A di dalamnya, yaitu Akselerasi Usaha, Akselerasi Operasional, dan Akselerasi Perlindungan, yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan bagi usaha lokal," kata Balques Manisang.

Balques menguraikan enam tantangan besar yang dihadapi pelaku usaha dalam persaingan ekonomi digital. Keterampilan pemasaran daring dan efisiensi operasional harian menjadi kebutuhan mutlak bagi pedagang lokal.

"Di tengah dinamika ekonomi, mungkin kalau bahasa saat ini dibilangnya squeeze economy, kondisinya penuh tantangan. Ada tantangan krusial, yaitu keterampilan digital dan pemasaran online, pelaku usaha dalam negeri harus terus meningkatkan lagi kemampuan digital mereka," ujar Balques Manisang.

Platform lokapasar ini mentransformasikan ruang pelatihan fisik menjadi Kampus Shopee Kelas Online terpadu. Aplikasi ini menyediakan 400 modul pelatihan gratis yang mencakup fitur siaran langsung dan optimasi iklan.

"Di kelas ini yang sudah melatih jutaan UMKM di berbagai kota-kota di Indonesia, ada lebih dari 350 jam latihan. Fasilitasnya gratis dan silakan pilih jadwal sendiri, hanya dari app, mau affiliate marketing, mau fitur interaktif Shopee Live, optimasi iklan, mau belajar pengelolaan toko Shopee," ucap Balques Manisang.

Shopee meluncurkan inovasi dashboard program guna menjamin transparansi biaya promosi secara terbuka. Fitur ini membantu para pedagang menghitung margin keuntungan setiap produk secara presisi dan terukur.

"Dashboard ini juga menghadirkan transparansi informasi soal detail program dan struktur biaya yang jelas untuk setiap program promosi opsional. Fitur ini juga bisa membantu penjual menghitung margin dari setiap produk secara presisi untuk memastikan pertumbuhan bisnis yang aman dan berkelanjutan," kata Balques Manisang.

Dukungan operasional digital diperluas melalui fasilitas layanan Dikelola Shopee berbasis pergudangan strategis nasional. Pelaku usaha lokal dibebaskan dari biaya layanan operasional selama tiga bulan pertama masa bergabung.

"Ini juga bisa membantu pelaku usaha mengatur pengelolaan pesanan dan stok hingga pengiriman dengan bantuan tim operasional. Shopee akan membantu penjual menjalankan operasional bisnis dengan lebih efisien lewat kehadiran lokasi-lokasi gudang yang strategis untuk menjangkau pembeli di berbagai wilayah Indonesia," ujar Balques Manisang.

Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang saat berbicara pada Program Akselerasi Produk Lokal Shopee-Kementerian Perdagangan di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 13 Agustus 2026. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Jalur ekspor digital dibuka melalui skema Shopee Ekspor reguler dan program ekspor fleksi mandiri. Pedagang diberikan kebebasan penuh dalam menentukan margin keuntungan dan strategi penetapan harga luar negeri.

"Kalau yang fleksi, monggo bisa dikelola sendiri, kebebasan untuk menentukan margin, harga, strategi, dan lain-lain. Untuk fleksi, itu gratis biaya layanan dan biaya administrasi yang lebih rendah selama 3 bulan," ucap Balques Manisang.

Shopee juga menyalurkan subsidi voucer promosi Rp100 miliar serta kanal perlindungan merek digital. Laporan pelanggaran hak cipta ditindaklanjuti secara tegas dalam waktu tiga hari kerja.

"Seratus persen laporan di Brand IP Portal yang terbukti melanggar telah ditindaklanjuti dengan produk terkait diturunkan, dan melanggar dikenakan sanksi tegas dalam waktu 3 hari kerja saja. Di semester pertama tahun 2026, sudah Rp100 miliar yang kita berikan, beragam jenis voucher senilai lebih dari Rp100 miliar," kata Balques Manisang.

Rentetan kebijakan dan dukungan teknologi digital tersebut dicermati Clay Wala di Depok. Clay menegaskan kemudahan perangkat digital akan berbuah manis bila dibarengi penguatan mutu hulu.

"Terkait dengan digital, yang pertama, digitalisasi itu media yang bisa membuat semua proses menjadi efisien. Tetapi di hulunya sendiri kalau masih tidak benar, yang efisien ini jadi sia-sia," ujar Clay Wala.

Clay menguraikan data neraca perdagangan ekspor komoditas kertas dan barang cetakan nasional. Kelemahan standardisasi membuat produk olahan bernilai tambah tinggi sulit menembus pasar luar negeri.

"Indonesia itu ekspor kertasnya tahun 2025 bisa sampai 10 miliar dolar lebih. Ekspor barang cetakan hanya 0,4 persen-nya. Padahal harga kertas yang diekspor per kilonya di bawah 1 dolar, sedangkan harga barang cetakan yang diekspor 6 dolar per kilogram. Sama urusannya, standarisasi dan digitalisasi," ucap Clay Wala.

Praktik manipulasi bahan dan ukuran pakaian oleh pedagang nakal pun turut merusak kepercayaan konsumen lokapasar. Clay menegaskan bahwa perlindungan konsumen harus bermula dari kejujuran takaran dan kesesuaian fisik produk.

"Terlalu banyak pedagang-pedagang yang jualan online itu model tipu-tipu gitulah. Yang beli jadi kapok, ya akhirnya dia enggak mau belanja lagi gitu," kata Clay Wala.

Clay mengusulkan pembentukan konsolidator muatan kapal laut guna menekan biaya logistik produk mikro. Pengiriman terpadu dalam kuota dua kubik laut terbukti jauh lebih murah dibandingkan kargo pesawat.

"Konsolidator itu artinya dia bisa mengumpulkan produk-produk UMKM yang kira-kira bisa dijual di satu negara. Kalau produknya bisa bertahan setahun, kita ngirimnya pakai kapal laut. Sekali ngirim 2 kubik itu kira-kira 350 US dollar," ucap Clay Wala.

Sore merayap di kawasan Raffles Hill Depok. Titin merapikan seluruh botol Sambal RoaRia yang sudah dikemas dan ditimbangnya.

Ia membawanya masuk dan memasukkan ke dalam etalase berpendingin yang berada di ruang tamu. Di ruang dapur bersih yang kembali sepi produksi, sepasang tangan sepuh itu masih bertahan menapaki dunia digital di hadapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....