Menjaga Detak Jantung Pulau Tidung lewat Skrining Dini

  • 26 Agt 2026 00:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan menggencarkan program Cek Kesehatan Gratis guna mendeteksi dini penyakit diabetes dan hipertensi pada warga pesisir.
  • Pasien yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit kronis langsung mendapatkan penanganan medis dan obat-obatan secara cuma-cuma hingga tuntas.
  • Integrasi sistem rujukan BPJS Kesehatan kini mempermudah warga pulau untuk mengakses pengobatan darurat ke RSUD Tangerang dan rumah sakit daratan Jakarta.

Lantai keramik putih Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan mengkilap berpadu serasi dengan dinding pilar bercat hijau tosca terang. Sebuah papan berdiri berukuran besar memajang rincian tarif layanan kesehatan secara terbuka dan transparan.

Di sudut ruang tindakan, seorang pasien tampak berbaring tenang di atas tempat tidur beroda. Kerabat keluarganya tampak mendampingi sambil berbincang bersama petugas medis yang berjaga.

Di ruang tunggu, kami menjumpai seorang perempuan muda asli Pulau Tidung bernama Dewi Riantriani. Mengenakan kerudung cokelat tua, wanita berusia 26 tahun itu tersenyum ramah menyapa kami.

Dewi menceritakan pengalamannya saat menjalani pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas tersebut. Baginya, program skrining kesehatan ini sangat praktis dan tidak memakan waktu lama.

"Pemeriksaan kesehatan secara gratis ini untuk tahun sekarang tidak harus menunggu tanggal ulang tahun. Untuk Puskesmas juga setiap ada kegiatan dibarengin sama CKG, ada kerja sama lintas sektoral. Dari awal pendaftaran sampai selesai paling kisaran 10 sampai 15 menit saja," kata Dewi.

Alur pemeriksaan dimulai dari pendataan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada kartu tanda pengenal. Petugas kemudian mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, serta memeriksa tekanan darah pasien.

Tahapan berikutnya berlanjut pada pengambilan sampel darah melalui tusukan kecil di ujung jari. Petugas laboratorium menguji kadar gula darah, kolesterol, hingga asam urat dalam hitungan menit.

"Pemeriksaannya lengkap, ada cek gula darah, asam urat, kolesterol, sampai skrining telinga dan mata juga dibarengin. Nanti hasilnya dikasih selembar kertas untuk catatan pribadi kita. Kalau hasilnya aman ya alhamdulillah, jadi kita merasa tenang," ucap Dewi.

Dewi mengakui bahwa deteksi dini sangat penting bagi generasi muda usia produktif di pulaunya. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis kekinian kerap menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan mereka.

"Anak muda zaman sekarang kebanyakan minum es teh poci atau es kopi-kopian yang manis. Jadi deteksi gula darah itu kelihatan, kalau sudah warning, kita diedukasi supaya tidak berlebihan. Kalau hasilnya tinggi langsung dirujuk ke dokter Puskesmas buat konsul dan obatnya langsung dikasih gratis," ujarnya.

Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (Kasatpel UKM) Haji Budiman (kiri) saat diwawancarai RRI. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Semangat “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” terbukti nyata di ruang tindakan tersebut. Pasien yang terindikasi memiliki masalah kesehatan langsung ditangani dokter tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Langkah ini sejalan dengan fokus Kementerian Kesehatan dalam pelaksanaan CKG tahun 2026. Pemerintah menjamin pemberian obat gratis pada hari yang sama bagi penderita hipertensi dan diabetes.

"Target kita di 2026 bukan hanya melakukan cek kesehatan, tetapi memastikan masyarakat benar-benar sehat. Bukan hanya pemeriksaannya yang gratis, pencegahan dan penanganannya juga gratis," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam siaran resminya, Minggu, 23 Januari 2026.

Jaminan pengobatan cuma-cuma selama 15 hari pertama itu kemudian dilanjutkan melalui skema JKN. Kebijakan terintegrasi ini memastikan setiap temuan penyakit tertangani tuntas hingga ke pelosok kepulauan.

Transformasi layanan juga dirasakan warga melalui kemudahan integrasi jalur rujukan medis antar-wilayah. Pasien pulau kini dapat langsung dirujuk menyeberang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang.

"Secara geografis pulau kita lebih dekat ke Tangerang ketimbang Jakarta, hanya butuh 15 sampai 30 menit. Alhamdulillah sekarang masyarakat sudah bisa langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang. Pelayanan makin cepat dan tidak ada kendala berarti di lapangan," ujar Sidartawan.

Rata-rata puskesmas ini melayani sekitar 60 pasien setiap hari dari berbagai penjuru pulau. Setiap hari Selasa dan Kamis, antrean didominasi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Yayak Nugroho saat diwawancarai RRI di Pulau Tidung. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Momentum bulan kemerdekaan pada Agustus 2026 ini sekaligus menghadirkan refleksi mendalam mengenai arti kedaulatan warga. Kemerdekaan sejati kini diwujudkan melalui semangat gotong royong menjaga kesehatan seluruh lapisan masyarakat.

"Kalau dulu tahun 1945 merdeka dengan melawan penjajah, sekarang merdekanya dengan gotong royong layanan kesehatan. Dulu orang takut ke rumah sakit karena takut miskin, takut uangnya habis. Sekarang alhamdulillah warga mudah mengakses layanan kesehatan dan bebas dari ketakutan finansial saat mereka sakit," kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Yayak Nugroho.

"Arti merdeka dalam kesehatan bagi saya itu artinya kita bisa dilayani di mana saja. Dengan adanya jaminan kesehatan ini, pelayanan masyarakat tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat wilayah," ucap Sidartawan membenarkan penjelasan Yayak Nugroho.

Mentari siang itu bergeser sedikit ke barat saat perahu motor kami bersiap meninggalkan dermaga Pulau Tidung. Deburan ombak laut mengiringi langkah kami kembali menuju daratan metropolitan Jakarta.

Slogan “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” bukan sekadar deretan kata manis. Dari tapak pesisir, negara membuktikannya, menjaga setiap detak jantung anak bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....