Menjaga Detak Jantung Pulau Tidung lewat Skrining Dini

  • 26 Agt 2026 00:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan menggencarkan program Cek Kesehatan Gratis guna mendeteksi dini penyakit diabetes dan hipertensi pada warga pesisir.
  • Pasien yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit kronis langsung mendapatkan penanganan medis dan obat-obatan secara cuma-cuma hingga tuntas.
  • Integrasi sistem rujukan BPJS Kesehatan kini mempermudah warga pulau untuk mengakses pengobatan darurat ke RSUD Tangerang dan rumah sakit daratan Jakarta.
Lantai keramik putih

RRI.CO.ID, Pulau Tidung – Angin laut berembus hangat menyambut kedatangan langkah kaki kami di dermaga Pulau Tidung. Udara pesisir terasa menyengat di bawah langit biru cerah Kepulauan Seribu Selatan.

Hari itu, Kamis, 6 Agustus 2026, kami melangkah menuju aula pertemuan kelurahan. Lantai keramik putih berderit pelan saat puluhan pasang sepatu mulai memadati ruangan.

Dinding aula bercat putih bersih berpadu kontras dengan aksen lis kuning menyala. Deretan kursi lipat biru bersablon tulisan kelurahan tertata rapi menyambut kehadiran warga.

Suara pendingin ruangan berpadu lembut dengan tawa renyah para peserta pertemuan. Gelak tawa pecah saat pemateri menceritakan perjalanan laut yang penuh guncangan ombak.

Namun, di balik keceriaan hari itu tersimpan ancaman nyata bagi kesehatan warga kepulauan. Tradisi melaut semalaman dan kebiasaan warganya menyantap ikan asin menjadi bagian hidup harian.

Pola makan tinggi natrium tersebut diam-diam memicu lonjakan tekanan darah tanpa gejala. Sementara, generasi muda pulau ini pun kini juga mulai gemar mengonsumsi aneka minuman manis berpemanis.

"Yang kata-kata orang tua kita dulu itu, mencegah lebih baik daripada mengobati, itu memang bener, Pak. Contoh yang paling gampang, kita ngadain cek kesehatan gratis seperti yang dicanangkan oleh pemerintah. Itu bagus karena secara kesadaran masyarakat, dengan dia tahu, dia akan sama-sama membangun kesehatan buat keluarga," kata sosok Wakil Camat Kepulauan Seribu Selatan, Sidartawan, yang duduk tegak memegang pengeras suara, memberikan sambutan.

"Contoh saat cek gula darahnya tinggi, dia minta konsul apa yang tidak boleh dimakan dan pola hidupnya seperti apa. Setidaknya masa umur panjang manusia bisa bertambah," kata Sidartawan dengan kemeja batik sutra cokelat bermotif parang membungkus perawakannya yang tegas dan bersahaja.

Wakil Camat Kepulauan Seribu Selatan Sidartawan (kedua kanan) dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Yayak Nugroho (kanan) saat membuka kegiatan sosialisasi JKN. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Pria berkumis tebal itu telah bertugas di gugusan pulau sejak tahun 1995. Pengalaman panjangnya sebagai mantan tenaga kesehatan membuatnya sangat memahami kerentanan warga pesisir.

Kami mencatat setiap penuturannya yang lugas dengan dialek khas Betawi pesisir. Baginya, pencegahan penyakit merupakan harga mati demi menyelamatkan ekonomi keluarga nelayan.

Jarak tempuh menuju fasilitas rujukan daratan Jakarta kerap menyedot biaya yang besar. Biaya transportasi perahu dan akomodasi pendamping pasien sering kali menguras tabungan keluarga.

"Sebetulnya kami dari pemerintah terus bekerja sama dengan Puskesmas untuk menyosialisasikan bahwa kesehatan ini nggak murah. Mahal kesehatan ini," katanya kepada RRI.

"Waktu zaman saya di Puskesmas dulu, orang kaya aja kalau sakit di pulau jadi susah karena harus nunggu ongkos dan kapal ke darat. Jadi, program pencegahan dan BPJS Kesehatan ini sangat berharga sekali pada saat warga sakit," ucap Sidartawan.

Kesadaran serupa digaungkan oleh Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (Kasatpel UKM) Haji Budiman. Sebagai pejabat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, ia membenarkan pandangan tersebut.

Mengenakan kemeja batik hijau bernuansa daun, pria berkacamata itu membeberkan realitas lapangan. Pihaknya terus menggencarkan Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui berbagai kegiatan publik terbuka.

Tim medis pulau tidak tinggal diam menunggu warga datang berobat ke klinik. Petugas kesehatan aktif mendirikan posko pemeriksaan di arena senam dan jalan santai.

"Kalau untuk kesehatan gratis, kita melaksanakan bisa di Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu-red) atau bareng kegiatan di Jembatan Cinta. Misalkan ada kegiatan senam massal atau jalan sehat di daerah wisata ujung Pulau Tidung, kita nimbrung melakukan cek kesehatan gratis. Semua peserta kita periksa secara cuma-cuma dan animonya cukup tinggi karena kita selalu berikan edukasi," ujar Budiman saat ditemui RRI di Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan.

Kami mendengarkan secara saksama pemaparan Budiman mengenai pemicu utama hipertensi nelayan. Kebiasaan memancing di tengah laut dingin memicu konsumsi makanan asin berlebihan.

"Kebanyakan nelayan pola makannya begadang mancing malam sampai pagi, lalu pagi mancing lagi. Di samping itu, masyarakat kita daerah kelautan banyak mengonsumsi ikan asin. Jadi, pola begadang dan makan asin itulah yang secara tidak langsung menyebabkan mereka menderita hipertensi," ucap Budiman.

Penanggung Jawab Penyakit Tidak Menular (PJ PTM) Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Rahmawati. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Di sudut ruangan, Penanggung Jawab Penyakit Tidak Menular (PJ PTM) turut menyimak. Rahmawati, tenaga kesehatan berkerudung rapi, memegang catatan capaian skrining kesehatan warga.

Wanita ramah itu menjelaskan pergeseran usia penderita penyakit degeneratif di pulau tersebut. Penyakit gula dan darah tinggi kini tak lagi hanya menimpa kaum lansia.

"Untuk hipertensi dan diabetes, indikatornya di atas 15 tahun sudah kita skrining tekanan darah dan gula darahnya. Dulu risikonya di atas usia 40 atau 50 tahun, tapi sekarang umur 20 dan 30 tahun sudah ada yang terkena. Ini warning banget karena faktor pola hidup dan jajanan manis zaman sekarang," kata Rahmawati.

Data Puskesmas mencatat capaian skrining CKG semester ini telah menyentuh 30 persen. Pihaknya terus berjuang mengejar sisa target Triwulan III sebesar 36 persen.

Tantangan terbesar para petugas medis adalah melawan rasa takut di benak masyarakat. Sebagian warga kerap enggan memeriksa tubuh karena khawatir mengetahui penyakit parah.

"Sebenarnya dengan pemeriksaan kesehatan itu, warga yang tidak pernah periksa jadi tahu kondisi badannya. Kalau tahu lebih dini kan bisa diantisipasi, daripada tidak mau periksa karena takut, lalu tiba-tiba sudah parah atau stroke baru berobat. Lebih enak kita cegah sejak awal," ujarnya.

Ketua Rukun Tetangga (RT) 01 Nur Hayati Nupus membenarkan situasi tersebut. Perempuan yang mengayomi 67 keluarga itu duduk tegak dengan tangan bertaut.

Keterbatasan armada perahu ambulans menjadi alasan utama perlunya deteksi dini penyakit. Karena, menunggu evakuasi rujukan ke daratan Jakarta akan membawa risiko kecemasan yang mendalam.

"Kendala di pulau ini ambulans cuma satu, jadi kalau ada pasien gawat darurat harus nunggu kiriman (perahu ambulans-red) dari darat Jakarta. Di situ kendalanya, ngeri juga kalau tidak siap di lokasi. Makanya sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan dari awal ini sangat membantu warga pulau," ucap Nur Hayati.

Secara umum, Sidartawan menilai kesadaran kolektif menjaga kesehatan kini tumbuh di benak warga Pulau Tidung. Deteksi dini menjadi kunci utama memutus rantai keterlambatan penanganan medis darurat.

“Indikasinya tadi, 30 persen cek kesehatan gratis sudah berjalan. Terus alhamdulillah, di Pulau Tidung ini bebas penyakit demam berdarah. Jadi, (menjaga-red) kesehatan (dengan-red) mencegah lebih daripada mengobati itu, setiap hari Jumat itu PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk-red) bener-bener jalan kalau di sini."

Lantai keramik putih Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan mengkilap berpadu serasi dengan dinding pilar bercat hijau tosca terang. Sebuah papan berdiri berukuran besar memajang rincian tarif layanan kesehatan secara terbuka dan transparan.

Di sudut ruang tindakan, seorang pasien tampak berbaring tenang di atas tempat tidur beroda. Kerabat keluarganya tampak mendampingi sambil berbincang bersama petugas medis yang berjaga.

Di ruang tunggu, kami menjumpai seorang perempuan muda asli Pulau Tidung bernama Dewi Riantriani. Mengenakan kerudung cokelat tua, wanita berusia 26 tahun itu tersenyum ramah menyapa kami.

Dewi menceritakan pengalamannya saat menjalani pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas tersebut. Baginya, program skrining kesehatan ini sangat praktis dan tidak memakan waktu lama.

"Pemeriksaan kesehatan secara gratis ini untuk tahun sekarang tidak harus menunggu tanggal ulang tahun. Untuk Puskesmas juga setiap ada kegiatan dibarengin sama CKG, ada kerja sama lintas sektoral. Dari awal pendaftaran sampai selesai paling kisaran 10 sampai 15 menit saja," kata Dewi.

Alur pemeriksaan dimulai dari pendataan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada kartu tanda pengenal. Petugas kemudian mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, serta memeriksa tekanan darah pasien.

Tahapan berikutnya berlanjut pada pengambilan sampel darah melalui tusukan kecil di ujung jari. Petugas laboratorium menguji kadar gula darah, kolesterol, hingga asam urat dalam hitungan menit.

"Pemeriksaannya lengkap, ada cek gula darah, asam urat, kolesterol, sampai skrining telinga dan mata juga dibarengin. Nanti hasilnya dikasih selembar kertas untuk catatan pribadi kita. Kalau hasilnya aman ya alhamdulillah, jadi kita merasa tenang," ucap Dewi.

Dewi mengakui bahwa deteksi dini sangat penting bagi generasi muda usia produktif di pulaunya. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis kekinian kerap menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan mereka.

"Anak muda zaman sekarang kebanyakan minum es teh poci atau es kopi-kopian yang manis. Jadi deteksi gula darah itu kelihatan, kalau sudah warning, kita diedukasi supaya tidak berlebihan. Kalau hasilnya tinggi langsung dirujuk ke dokter Puskesmas buat konsul dan obatnya langsung dikasih gratis," ujarnya.

Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (Kasatpel UKM) Haji Budiman (kiri) saat diwawancarai RRI. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Semangat “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” terbukti nyata di ruang tindakan tersebut. Pasien yang terindikasi memiliki masalah kesehatan langsung ditangani dokter tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Langkah ini sejalan dengan fokus Kementerian Kesehatan dalam pelaksanaan CKG tahun 2026. Pemerintah menjamin pemberian obat gratis pada hari yang sama bagi penderita hipertensi dan diabetes.

"Target kita di 2026 bukan hanya melakukan cek kesehatan, tetapi memastikan masyarakat benar-benar sehat. Bukan hanya pemeriksaannya yang gratis, pencegahan dan penanganannya juga gratis," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam siaran resminya, Minggu, 23 Januari 2026.

Jaminan pengobatan cuma-cuma selama 15 hari pertama itu kemudian dilanjutkan melalui skema JKN. Kebijakan terintegrasi ini memastikan setiap temuan penyakit tertangani tuntas hingga ke pelosok kepulauan.

Transformasi layanan juga dirasakan warga melalui kemudahan integrasi jalur rujukan medis antar-wilayah. Pasien pulau kini dapat langsung dirujuk menyeberang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang.

"Secara geografis pulau kita lebih dekat ke Tangerang ketimbang Jakarta, hanya butuh 15 sampai 30 menit. Alhamdulillah sekarang masyarakat sudah bisa langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang. Pelayanan makin cepat dan tidak ada kendala berarti di lapangan," ujar Sidartawan.

Rata-rata puskesmas ini melayani sekitar 60 pasien setiap hari dari berbagai penjuru pulau. Setiap hari Selasa dan Kamis, antrean didominasi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Yayak Nugroho saat diwawancarai RRI di Pulau Tidung. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

Momentum bulan kemerdekaan pada Agustus 2026 ini sekaligus menghadirkan refleksi mendalam mengenai arti kedaulatan warga. Kemerdekaan sejati kini diwujudkan melalui semangat gotong royong menjaga kesehatan seluruh lapisan masyarakat.

"Kalau dulu tahun 1945 merdeka dengan melawan penjajah, sekarang merdekanya dengan gotong royong layanan kesehatan. Dulu orang takut ke rumah sakit karena takut miskin, takut uangnya habis. Sekarang alhamdulillah warga mudah mengakses layanan kesehatan dan bebas dari ketakutan finansial saat mereka sakit," kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Yayak Nugroho.

"Arti merdeka dalam kesehatan bagi saya itu artinya kita bisa dilayani di mana saja. Dengan adanya jaminan kesehatan ini, pelayanan masyarakat tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat wilayah," ucap Sidartawan membenarkan penjelasan Yayak Nugroho.

Mentari siang itu bergeser sedikit ke barat saat perahu motor kami bersiap meninggalkan dermaga Pulau Tidung. Deburan ombak laut mengiringi langkah kami kembali menuju daratan metropolitan Jakarta.

Slogan “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” bukan sekadar deretan kata manis. Dari tapak pesisir, negara membuktikannya, menjaga setiap detak jantung anak bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....