Hari Radio Nasional: Ketika Suara Tetap Menemani di Era Digital
- 11 Sep 2026 08:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat komunikasi Universitas Tarumanegara, Farid Rusdi, melihat radio masih memiliki peran penting di tengah derasnya arus konten media sosial.
- Pada 11 September 2026, ketika Hari Radio Nasional diperingati bersamaan dengan HUT ke-81 RRI, tantangan radio bukan sekadar mempertahankan pendengar.
RRI.CO.ID, Jakarta - Suara radio masih menemani perjalanan Yoyon Pujo Utomo menuju sekolah tempatnya mengajar di Jakarta Barat. Di tengah padatnya aktivitas dan lalu lintas ibu kota, radio menjadi salah satu sumber informasi yang tetap ia andalkan.
Guru sekolah dasar itu biasanya mendengarkan radio untuk mengetahui kondisi lalu lintas. Informasi mengenai kemacetan, banjir hingga aksi demonstrasi menjadi alasan Yoyon tetap memilih radio sebagai teman perjalanan.
"Saya mendengarkan radio untuk mengetahui kondisi jalan macet di ibu kota. Ataupun situasi lainnya seperti banjir atau demo masyarakat," kata Yoyon kepada RRI.
Bagi Yoyon, radio bukan sekadar sumber informasi. Ketika perjalanan melelahkan atau aktivitas mulai membuat jenuh, musik menjadi hiburan yang membuat perjalanan lebih menyenangkan.
Ia mengaku menyukai beragam jenis musik, mulai dari pop hingga dangdut. Pilihan tersebut membuat radio tetap memiliki tempat dalam kesehariannya.
"Kalau lagi suntuk, saya mendengarkan hiburan di radio seperti lagu-lagu yang saya senangi, baik itu pop, dangdut dan lain-lain. Ini menjadi sesuatu yang menarik bagi pendengar," ujarnya.
Pengalaman Yoyon menunjukkan radio masih memiliki ruang di tengah perubahan kebiasaan masyarakat. Kini, masyarakat semakin dekat dengan telepon pintar dan berbagai platform digital.
Bagi penyiar RRI Pro 2 FM, Ivone, kedekatan dengan pendengar menjadi salah satu kekuatan radio. Ia menilai radio tidak hanya menghadirkan musik dan informasi, tetapi juga interaksi.
"Kita mendengarkan lagu dan juga informasi, itu happy banget," kata Ivone.
Sejak menjadi penyiar RRI pada 2013, Ivone terus mengikuti perkembangan isu yang menjadi perhatian masyarakat. Dalam siarannya, ia khususnya mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi di Jakarta.
"Kita harus update isu-isu yang terjadi di Jakarta dan disukai para pendengar," ujarnya.
Selain informasi, pilihan lagu juga menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan dengan pendengar. Permintaan lagu menjadi salah satu bentuk interaksi yang terus dijaga dalam siaran.
Menurut Ivone, interaksi tersebut mampu menciptakan keterikatan antara penyiar dan pendengar. Komunikasi juga membuat masyarakat semakin aktif berpartisipasi dalam siaran radio.
"Itu bikin engagement sama pendengar ya. Dan alhamdulillah sekarang banyak masyarakat yang aktif di radio," katanya.
Dalam sehari, Ivone mengaku dapat menghabiskan sekitar lima jam untuk siaran. Ia melayani permintaan lagu sekaligus berinteraksi dengan pendengar melalui berbagai kanal komunikasi.
Radio Tak Lagi Sekadar Frekuensi
Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi membuat industri radio harus beradaptasi. Radio kini tidak cukup hanya mengandalkan siaran melalui frekuensi.
Ketua Umum Persatuan Penyiar Radio Seluruh Indonesia (Persiari), Suwiryo, mengatakan Hari Radio Nasional 2026 harus menjadi momentum transformasi. Perubahan tersebut diperlukan agar radio tetap relevan di tengah perkembangan digital dan multiplatform.
"Di tengah disrupsi digital dan multiplatform, apakah radio masih relevan? Jawabannya, masih sangat relevan. Tetapi radio tidak boleh lagi memaknai dirinya hanya sebagai suara yang keluar dari frekuensi," kata Suwiryo kepada RRI.
Menurut Suwiryo, radio tidak mati, tetapi cara masyarakat mendengarkan radio telah berubah. Tantangan industri radio bukan sekadar kehadiran YouTube, TikTok, Instagram, podcast, streaming, atau platform digital lainnya.
Perubahan yang lebih mendasar adalah perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi dan hiburan. Kini, masyarakat memiliki banyak pilihan melalui telepon genggam, media sosial, video pendek, podcast hingga portal berita.
"Radio tidak mati, tetapi cara orang mendengarkan radio telah berubah," ujarnya.
Karena itu, menurut Suwiryo, pertanyaan industri radio bukan lagi apakah masyarakat masih mendengarkan radio. Persoalannya adalah apakah suara radio masih memiliki alasan untuk didengarkan masyarakat.
"Persoalannya bukan lagi apakah masyarakat masih mendengarkan radio, tetapi apakah suara radio masih memiliki alasan untuk didengarkan masyarakat," katanya.
Suwiryo menilai radio memiliki kekuatan yang sulit digantikan media lain, yakni kedekatan dengan manusia. Radio dapat menjadi teman ketika seseorang berkendara, bekerja, beraktivitas, bahkan menghadapi situasi darurat.
Namun, kekuatan tersebut harus dibawa keluar dari perangkat radio. Radio perlu mengembangkan kontennya agar dapat hadir di berbagai platform digital.
"Radio masa depan tidak cukup hanya menjadi audio broadcaster. Radio harus menjadi content broadcaster," ujarnya.
Sebuah wawancara, kata Suwiryo, tidak harus berhenti sebagai suara yang hanya terdengar melalui frekuensi. Materi tersebut dapat dikembangkan menjadi berita daring, video pendek, potongan wawancara, podcast maupun artikel.
Dengan cara tersebut, satu materi dapat hidup di berbagai platform. Jangkauan radio pun dapat diperluas tanpa kehilangan kekuatan utamanya.
Penyiar Menjadi Konten Kreator
Transformasi radio juga menuntut perubahan pada profesi penyiar. Penyiar tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan berbicara di depan mikrofon.
Suwiryo mendorong penyiar radio untuk terus bertransformasi menjadi konten kreator. Menurutnya, penyiar memiliki modal penting berupa kemampuan membangun komunikasi dan kedekatan dengan audiens.
"The real influencer adalah para penyiar radio," katanya.
Modal tersebut dapat dikembangkan ke berbagai platform digital. Dengan demikian, penyiar dapat memperluas jangkauan sekaligus mempertahankan hubungan dengan audiens.
"Dengan demikian, satu suara bisa hidup di banyak platform. Inilah yang disebut transformasi radio dari single platform menjadi multiplatform," ujarnya.
Ivone mengatakan RRI Pro 2 FM juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan siaran. Salah satunya melalui kanal YouTube yang memungkinkan masyarakat menikmati kembali konten yang telah diproduksi.
"Kita juga punya kanal di YouTube yang bisa ditonton kapan pun oleh masyarakat. Kalau podcast yang kita buat bisa diputar berkali-kali," katanya.
Menurut Ivone, kehadiran RRI di media sosial membuka peluang menemukan pendengar baru. Respons tersebut terlihat dari interaksi masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi.
"Responsnya bagus dan banyak pendengar baru. Itu terlihat dari chat di grup WhatsApp kita, setiap hari ada pendengar baru," ujarnya.
Radio dan Ruang Kemanusiaan
Pengamat komunikasi Universitas Tarumanegara, Farid Rusdi, melihat radio masih memiliki peran penting di tengah derasnya arus konten media sosial. Menurutnya, radio dapat menjadi ruang yang menjaga kejernihan informasi dan solidaritas masyarakat.
Farid menilai media sosial tidak jarang dipenuhi konten gaya hidup, flexing hingga berbagai materi yang berpotensi memunculkan kecemburuan dan polarisasi. Di tengah kondisi tersebut, radio dapat menghadirkan ruang kebersamaan melalui empati dan komunikasi.
"Radio hadir sebagai ruang dengar yang memulihkan rasa kemanusiaan melalui kekuatan intim dari suara," kata Farid kepada RRI.
Menurut Farid, kekuatan radio terletak pada keintiman suara. Tutur kata penyiar, cerita pendengar hingga musik yang dipilih dapat membangun kedekatan emosional tanpa distraksi visual.
Karena itu, integrasi dengan media sosial menjadi kebutuhan untuk memperluas jangkauan. Namun, radio tidak boleh kehilangan karakter utamanya.
"Media sosial seyogianya dimanfaatkan sekadar sebagai pintu masuk dan pengeras suara," ujarnya.
Farid menekankan, roh radio tetap berada pada keintiman tutur suara, kedalaman kurasi narasi dan koneksi antarmanusia. Di tengah algoritma media sosial yang sering mengejar sensasi dan popularitas sesaat, radio berpeluang menjadi ruang jeda yang lebih tenang dan autentik.
Kompetensi Penyiar Jadi Kunci
Transformasi digital juga harus diikuti peningkatan kompetensi penyiar. Kemampuan teknis dan adaptasi terhadap perkembangan digital menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan industri.
Suwiryo mengatakan Persiari akan mendorong peningkatan kompetensi penyiar radio melalui kolaborasi dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Langkah tersebut diharapkan memperkuat kualitas penyiar dalam menghadapi perkembangan media.
"Ke depan Persiari akan berkolaborasi dengan KPI untuk memberlakukan kompetensi bagi para penyiar radio," katanya.
Farid sepakat kompetensi teknis dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital menjadi hal penting bagi penyiar. Namun, kemampuan tersebut harus tetap dibarengi pemahaman mengenai karakter dasar radio.
Radio berbeda dengan media visual maupun teks. Sebagai media yang dapat dinikmati sembari melakukan aktivitas lain, radio bekerja melalui kekuatan suara, imajinasi dan kedekatan emosional.
Karena itu, penyiar yang kompeten bukan sekadar piawai merangkai kata atau tampil menarik di depan kamera. Penyiar juga harus mampu menempatkan diri sebagai teman bagi pendengar.
"Penyiar yang kompeten bukan sekadar piawai merangkai kata atau tampil menarik di kamera media sosial, melainkan mampu menjiwai sifat dasar radio sebagai teman setia pendengar," kata Farid.
Pada akhirnya, perjalanan radio mungkin memang tidak lagi hanya berada di udara. Suara penyiar kini dapat berpindah dari frekuensi ke layar telepon genggam, dari studio ke media sosial, hingga menjadi podcast dan potongan video.
Namun, satu hal yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk didengar, ditemani dan mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan radio tetap memiliki ruang di tengah perubahan teknologi.
Pada 11 September 2026, Hari Radio Nasional diperingati bersamaan dengan HUT ke-81 RRI. Tantangan radio bukan sekadar mempertahankan pendengar, tetapi membuktikan relevansinya di tengah dunia digital.
Lebih dari itu, radio dituntut membuktikan bahwa suara yang dekat, hangat dan tepercaya masih memiliki tempat di hati masyarakat. Perubahan platform boleh terjadi, tetapi kedekatan radio dengan manusia tetap menjadi kekuatan yang harus dipertahankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....