Suara Guru di Pedalaman Sawa Erma Asmat, Merdeka Itu Tidak Pernah Berhenti Belajar
- 17 Agt 2026 23:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Guru di SMP Negeri 1 Sawa Erma, Kabupaten Asmat, menghadapi tantangan mengajarkan teknologi komputer kepada siswa yang belum pernah melihatnya sebelumnya.
- Ruang kelas di wilayah pedalaman Asmat masih menunggu akses listrik yang stabil sebelum dapat menggunakan perangkat pembelajaran berbasis teknologi.
- Laurensius Reginaldus, seorang guru di Asmat, memahami dengan mendalam kesulitan-kesulitan pendidikan yang dihadapi di daerah terpencil.
RRI.co.id, Agats -- Di tengah hamparan wilayah pedalaman Asmat, pendidikan berjalan dengan cerita yang tidak selalu sederhana. Ada guru yang harus mengenalkan komputer kepada siswa yang bahkan belum pernah melihatnya.
Ada pula ruang kelas yang menunggu listrik menyala sebelum teknologi pembelajaran dapat digunakan. Laurensius Reginaldus, guru SMP Negeri 1 Sawa Erma, Kabupaten Asmat, memahami betul cerita itu.
Sebagai seorang guru yang hidup era digitalisasi, ia harus membiasakan diri dengan teknologi. Namun, ketika mengajar siswa dari wilayah pedalaman, teknologi tidak selalu menjadi sesuatu yang akrab bagi anak-anak.
Sebagian siswa bahkan datang ke jenjang SMP tanpa pengalaman menggunakan komputer atau laptop. "Saya itu sebenarnya mengajar di SMP, tapi bisa juga dibilang mengajar siswa SD, karena harus menjelaskan dari awal,” ujar laki-laki yang kerap disapa Regis itu saat bercerita kepada RRI.CO.ID, Kamis, 15 Agustus 2026.
Ia tidak melihat kondisi itu sebagai alasan untuk berhenti. Justru di situlah peran guru menjadi penting, memperkenalkan sesuatu yang baru dan perlahan membuka pintu pengetahuan bagi siswa.
Kini, Papan Interaktif Digital (PID) memberi warna berbeda dalam pembelajaran di sekolahnya. Video, permainan, dan media interaktif membuat siswa lebih antusias mengikuti pelajaran.
Baginya, teknologi bukan sekadar perangkat yang berada di depan kelas, tetapi sarana untuk membuat anak lebih tertarik belajar. Karena itu, ia berharap para guru tidak berhenti belajar.
Perkembangan teknologi menuntut guru untuk terus beradaptasi dan mengenal berbagai media pembelajaran. Namun, cerita tentang pendidikan di Asmat tidak berhenti pada perangkat dan teknologi.
Ada harapan agar fasilitas pendidikan juga semakin dekat dengan anak-anak yang berada jauh dari pusat daerah. Ada pula harapan agar kehadiran perangkat selalu disertai pendampingan, sehingga guru tidak belajar sendirian.
Bagi Regis, semua itu kemudian bermuara pada satu kata. Kemerdekaan.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ia memaknainya dengan rasa syukur. “Saya, untuk Indonesia yang ke-81, saya memaknai dengan rasa syukur,” katanya.
Syukur itu lahir dari kesempatan yang ia rasakan sebagai guru. Kemerdekaan memberinya ruang untuk mengolah materi ajar, mengeksplorasi pendidikan, dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah.
Lebih dari itu, ia bersyukur ketika perhatian pendidikan dari pusat datang menyapa guru-guru di wilayah pedalaman. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih, terlebih khusus untuk hari ini," ucapnya.
"Ada pihak pemerintah yang langsung dari pusat. Langsung menyapa kami yang di pedalaman,” ujar Guru yang sudah 10 tahun mengabdi di pedalaman Sawa Erma.
Bagi seorang guru yang mengajar jauh dari hiruk-pikuk kota, kemerdekaan mungkin terasa melalui hal-hal sederhana. Kesempatan untuk belajar, ruang untuk mencoba, dan fasilitas untuk mengajarkan sesuatu yang baru kepada anak-anak.
Karena itu, harapan Regis pun sederhana, tetapi penting. Ia ingin fasilitas pendidikan terus menjangkau wilayah pedalaman dan diikuti pelatihan yang membuat guru mampu menggunakannya.
Sebab, bagi anak-anak di pedalaman Asmat, sebuah layar digital bukan hanya benda baru di ruang kelas. Ia bisa menjadi jendela untuk mengenal dunia yang lebih luas.
Dan bagi gurunya. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk terus membuka jendela itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....