Revitalisasi Satuan Pendidikan, Fondasi SDM Unggul Indonesia Emas 2045
- 18 Jul 2026 01:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah mempercepat Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sebagai strategi membangun SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
- Revitalisasi tidak hanya memperbaiki gedung sekolah, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
- Pemerintah menargetkan seluruh sekolah di Indonesia direvitalisasi secara bertahap hingga 2028 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
MASA depan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi. Lebih dari itu, masa depan ditentukan oleh kualitas manusia yang dipersiapkan sejak dini.
Di Indonesia, ruang kelas menjadi titik awal lahirnya generasi yang kelak memimpin negeri. Karena itu, pemerintah menjadikan revitalisasi satuan pendidikan sebagai salah satu langkah strategis untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak sekadar menghadirkan gedung sekolah yang lebih layak. Di balik pembangunan fisik tersebut, pemerintah ingin menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong lahirnya pembelajaran berkualitas, meningkatkan kompetensi guru, serta memperluas akses pendidikan yang merata hingga pelosok negeri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat diukur dalam waktu singkat.
"Anggaran pendidikan bukanlah pengeluaran yang habis digunakan, melainkan investasi untuk membangun generasi Indonesia yang unggul. Dampak pembangunan pendidikan baru akan benar-benar dirasakan satu hingga dua dekade mendatang, ketika anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah memasuki usia produktif dan menjadi penggerak pembangunan nasional," ujarnya dalam Dialog Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Membangun Sekolah Bermutu dan Pembelajaran Bermakna untuk Semua".
Cara pandang tersebut menjadi dasar pemerintah dalam merancang revitalisasi sekolah. Bukan hanya memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang mampu menciptakan proses belajar yang lebih efektif.
Lingkungan sekolah yang bersih, aman, dan nyaman diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Ruang kelas yang layak memberi kesempatan bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, sementara siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih menyenangkan.
Transformasi itu juga diwujudkan melalui penguatan empat fondasi utama pendidikan. Pemerintah meningkatkan kualitas guru sebagai pilar utama pembelajaran, menyempurnakan regulasi pendidikan, membangun budaya sekolah yang positif, serta melengkapi sekolah dengan sarana belajar yang lebih modern.
"Hasil pembangunan pendidikan memang tidak bisa dilihat dalam satu atau dua tahun. Dampaknya baru akan terasa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Apa yang kita tanam hari ini akan dipanen pada 2045," kata Abdul Mu’ti.
Pelaksanaan revitalisasi pun dilakukan secara bertahap dengan menetapkan prioritas bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah terdampak bencana, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah yang mengalami kerusakan berat. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah sekaligus memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pelajaran dari pandemi Covid-19 turut menjadi pengingat penting. Learning loss yang dialami jutaan peserta didik menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas pendidikan dapat berdampak panjang terhadap kualitas sumber daya manusia apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, revitalisasi sekolah juga dibarengi dengan percepatan digitalisasi pendidikan. Pemerintah menyalurkan Interactive Flat Panel (IFP), menyediakan laptop, memperluas akses internet, hingga menghadirkan panel tenaga surya bagi sekolah yang belum menikmati layanan listrik. Para guru juga mendapatkan pelatihan agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal dalam kegiatan belajar mengajar.
Berbagai hasil pemantauan di sejumlah daerah, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur hingga Nias Utara, menunjukkan pemanfaatan teknologi tersebut mulai menghadirkan perubahan. Siswa menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran, sementara guru memiliki lebih banyak pilihan metode untuk menyampaikan materi secara interaktif.
Transformasi pendidikan tidak berhenti di jenjang sekolah dasar dan menengah. Pemerintah juga memperkuat pendidikan anak usia dini sebagai bagian dari kebijakan wajib belajar 13 tahun. Melalui kerja sama dengan Kementerian Desa, ditargetkan setiap desa memiliki sedikitnya satu taman kanak-kanak, disertai peningkatan kompetensi guru PAUD melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan perluasan penerima Program Indonesia Pintar (PIP).
Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi menilai revitalisasi pendidikan akan memberikan hasil optimal apabila pembangunan fisik diiringi peningkatan kualitas tenaga pendidik.
"Sekolah yang lebih baik harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih bermutu, bukan sekadar bangunan yang lebih indah," ujarnya menegaskan.
Unifah juga mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari percepatan sertifikasi guru, peningkatan kompetensi melalui pelatihan digital, kecerdasan buatan (AI), coding, hingga penguatan budaya berbagi praktik baik antarguru sebagai bagian dari transformasi pendidikan yang berkelanjutan.
Untuk menjaga akuntabilitas pelaksanaan program, Kemendikdasmen menerapkan prinsip tata kelola yang baik. Setiap sekolah penerima bantuan memperoleh pendampingan konsultan, pengawasan Inspektorat Jenderal, serta monitoring bersama pemerintah daerah dan masyarakat agar pembangunan berjalan tepat sasaran dan transparan.
Pada akhirnya, revitalisasi satuan pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah yang lebih kokoh. Program ini merupakan investasi untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan bangsa.
Sebab, Indonesia Emas 2045 tidak hanya akan ditentukan oleh megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Masa depan itu akan lahir dari jutaan ruang kelas yang mampu menumbuhkan karakter, pengetahuan, kreativitas, dan harapan bagi anak-anak Indonesia. Dari sanalah fondasi sumber daya manusia unggul mulai dibangun—hari ini, untuk Indonesia pada 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....