Merangkai Cerita Lewat Clay, Perjalanan 'Brombie Lab' Tumbuh Menjadi Studio Kreatif
- 05 Jul 2026 17:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Brombie Lab lahir dari hobi yang berkembang menjadi studio kreatif sejak 2012.
- Amalia Permahani menjadikan eksperimen dan proses sebagai filosofi utama dalam setiap karya.
- Sempat terdampak pandemi, Brombie Lab bangkit hingga menembus pasar internasional seperti Singapura dan Thailand.
RRI.CO.ID, Jakarta - Di sudut booth yang dipenuhi gantungan, pin, aksesori, hingga ilustrasi berwarna cerah, Amalia Permahani tampak sibuk menyapa pengunjung. Di balik karya-karya yang terlihat jenaka itu, ada perjalanan panjang yang dimulai lebih dari satu dekade lalu.
Perempuan yang akrab disapa Amel itu mendirikan Brombie Lab pada 2012, saat masih menempuh pendidikan Seni Rupa Murni dengan peminatan lukis. Saat itu, ia sama sekali tidak membayangkan akan membangun sebuah studio kreatif yang kini dikenal lewat merchandise, ilustrasi, hingga karya clay.
Keputusan membangun Brombie Lab juga tidak berangkat dari rencana menjadi pebisnis. Justru sebaliknya, semuanya berjalan secara alami.
Saat merasa jenuh mengerjakan tugas melukis, Amel mulai mencoba membuat clay sebagai selingan. Ternyata, karya-karya kecil itu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
“Karena aku stres ngerjain tugas, ngelukis, Jadi aku bikin deh tuh clay. Awalnya buat diri sendiri, terus lama-lama kayak orang-orang tertarik beli dari situ akhirnya mulai dijual,” kata Amel saat ditemui RRI.CO.ID di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Kesempatan pertama datang ketika ia bersama teman-temannya memberanikan diri mendaftar sebuah acara kreatif di Yogyakarta. Mereka diterima sebagai peserta dan untuk pertama kalinya harus menyiapkan produk untuk dijual.
"Langsung nyemplung saja. Waktu itu benar-benar iseng, tapi dari situ akhirnya keterusan sampai sekarang,” ujarnya.

Nama Brombie Lab sendiri lahir dari rasa penasaran Amel terhadap sebuah kata yang menurutnya terdengar menarik. Setelah menemukan kata "Brombie", ia merasa nama tersebut memiliki karakter yang sesuai dengan dirinya dan kata "Lab" dipilih karena mencerminkan cara ia berkarya.
“Brombie itu aslinya aku dapat nyari-nyari aja sendiri. Kayak kata-kata keren gitu slang word dan itu di luar artinya keren banget. Jadi kayak, ini kayak cocok ya Brombie,” ucapnya.
Filosofi itu kemudian menjadi fondasi Brombie Lab. Studio kreatif tersebut bukan hanya tempat memproduksi barang, tetapi juga ruang untuk mencoba berbagai ide tanpa takut gagal.
“Nah karena aku suka kayak eksperimen, nyoba hal baru dan sebagainya makanya namanya ‘Brombie Lab’. Karena lab tempat kita bereksperimen, jadi nggak ada benar dan salah karena itu adalah sebuah proses,” kata Amel.
Meski kini dikenal luas, perjalanan Brombie Lab tidak selalu mulus. Setelah lulus kuliah dan memutuskan tidak bekerja di kantor, Amel harus kembali memulai dari awal ketika berpindah ke Jakarta.
Amel pun harus memulai dari nol ketika dipindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Namun, belum lama usahanya berkembang di pandemi COVID-19 datang dan mengubah hampir seluruh rencana yang sudah disusun.
Saat itu Brombie Lab lebih banyak mengadakan workshop membuat clay. Ketika pandemi membuat kegiatan tatap muka berhenti, bisnis pun ikut melambat.
"Rasanya waktu itu semua orang lagi fokus bertahan. Jadi aku juga memilih mengikuti alurnya dulu,” ujarnya.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali membangun semangat berkarya lagi. Keputusan besar pun diambil, Brombie Lab memberanikan diri mengikuti pameran di Singapura dengan modal yang tidak sedikit.
Hasilnya justru di luar dugaan, produk-produk Brombie Lab mendapat sambutan hangat. Antrean pembeli bahkan membuat dirinya nyaris tidak memiliki waktu untuk berbincang dengan pengunjung.
"Kalau di Singapura kami benar-benar seperti robot, antreannya panjang, jadi tinggal melayani pembeli saja. Mereka biasanya cuma bilang, 'We love your works', lalu lanjut belanja."
Keberhasilan itu membuat Brombie Lab kembali diundang ke Singapura, sekaligus membuka jalan ke pasar internasional lainnya, termasuk Thailand. Dari sana, Amel mulai memahami bahwa karya yang berangkat dari pengalaman pribadi ternyata mampu diterima oleh banyak orang.
Baginya, hampir semua produk Brombie Lab lahir dari keseharian. Perjalanan bersama teman, suasana kota yang dikunjungi, hingga cara pandangnya tentang kehidupan menjadi sumber inspirasi yang diterjemahkan menjadi produk.
Salah satu karya favoritnya terinspirasi dari perjalanan bersama teman-teman ke Bandung. Lewat ilustrasi tersebut, ia mencoba menceritakan bagaimana bayangan tentang orang dewasa saat masih kecil ternyata sangat berbeda dengan kenyataan.
"Waktu kecil kita pikir orang dewasa itu selalu serius dan kerja kantoran. Pas sudah dewasa, ternyata hidupnya tidak seperti itu, pengalaman itu akhirnya aku jadikan gambar,” katanya.
Bagi Amel, setiap karya selalu memiliki cerita yang sangat personal. Karena itulah, ada rasa sayang setiap kali harus melepasnya ke tangan pembeli.
"Semua yang aku buat pasti aku suka dulu. Tapi aku tidak mau egois, jadi aku bagikan juga ke orang-orang supaya mereka bisa memiliki cerita itu."

Di balik proses kreatifnya, kebuntuan tetap menjadi bagian yang tidak bisa dihindari. Ketika ide menggambar tidak kunjung datang, Amel tidak memaksakan diri.
Ia memilih kembali bermain dengan clay atau berjalan-jalan untuk mencari pengalaman baru. "Kalau lagi buntu, biarkan tangan yang bergerak dulu, nanti tiba-tiba muncul lagi keinginan buat gambar,” ujarnya.
Lebih dari sepuluh tahun setelah pertama kali berdiri, Brombie Lab masih terus bertumbuh. Bukan karena Amel selalu tahu langkah berikutnya, melainkan karena ia tidak pernah berhenti mencoba.
Baginya, setiap eksperimen selalu membuka kemungkinan baru. Sama seperti laboratorium yang menjadi inspirasi nama studionya, proses jauh lebih penting daripada takut melakukan kesalahan.
Pesan itu pula yang ingin ia sampaikan kepada anak-anak muda yang baru memulai usaha kreatif. “Hidup adalah pertaruhan maka jadi jangan menyerah,” ucapnya memberikan semangat.
“Mungkin belum ketemu saja market yang tepat tapi kalau kalian membuat sesuatu, pasti karena kalian menyukainya. Percaya saja, di luar sana pasti ada banyak orang yang juga akan menyukainya,” ucap Amel.
Amel percaya, perjalanan membangun karya memang tidak pernah benar-benar pasti. Namun selama seseorang terus mencoba, kesempatan akan selalu datang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....