Jejak Azril Azahari, Merajut Pariwisata dari Akar Rumput

  • 20 Jun 2026 09:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Azril Azahari membangun pemikiran pembangunan berbasis masyarakat sejak kecil melalui pengalaman hidup di berbagai kawasan perkebunan dan pedesaan Indonesia.
  • Perjalanan kariernya mencakup pengembangan ekonomi kerakyatan, program PIR, pengembangan Edamame di Jember, hingga komunikasi pembangunan melalui Kelompencapir, RRI, dan TVRI.
  • Azril berperan penting dalam pengembangan ilmu pariwisata Indonesia, termasuk mendorong konsep Community Based Tourism dan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Langit Pontianak menjadi halaman pertama dari kisah menapak panjang hidup Azril Azahari. Dari kota di tepian Kapuas, seorang anak Rantau Minang tumbuh akrab dengan kehidupan perantauan sejak kecil.

Ia mengikuti perpindahan orang tua yang bekerja di berbagai kawasan perkebunan di sejumlah daerah. Perjalanan tersebut membawanya dari Pontianak hingga Bogor dan Medan, Sumatera Utara, selama masa pertumbuhan.

Masa kecilnya diwarnai hamparan perkebunan, jalan tanah panjang, dan perjumpaan dengan masyarakat desa yang beragam. Dari sanalah ia belajar bahwa pembangunan bukan sekadar angka, melainkan kehidupan masyarakat yang bekerja keras.

Mereka berjuang setiap hari untuk menyambung harapan dan membangun masa depan yang lebih baik. Baginya, pembangunan harus tumbuh dari dalam masyarakat atau development from within yang berkelanjutan.

"Saya lahir di Pontianak. Jadi saya orang rantau katakanlah di dalam mengembangkan konsep-konsep pembangunan ya saya besar kebanyakan di rantau gitu," kata Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azahari kepada RRI, Selasa, 16 Juni 2026.

Ketika Indonesia memasuki era Pelita Pertama pada 1969, Azril memilih jalan pengabdian yang berbeda. Saat banyak pihak membahas target produksi dan pertumbuhan ekonomi, ia turun langsung ke lapangan.

Ia mendatangi sawah, kebun, dan pesisir untuk mendengar cerita para petani serta nelayan. Bagi Azril, pelaku pembangunan harus menjadi pusat dalam pembangunan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

Di desa-desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ia menemukan ruang belajar yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah. Baginya, percakapan sederhana di beranda rumah warga sering kali menghadirkan pemahaman yang lebih jernih tentang kehidupan dibandingkan teori yang tertulis di buku.

Banyak teknologi tepat-guna sehari-hari sudah di aplikasikan masyarakat tani tanpa disadarinya. Inilah suatu bangunan konsep dan teori dari pengalaman petani itu sendiri (induction theory).

"Saya itu bukan orang akademisi semulanya, saya orang praktik industri. Saya orang lapangan ya karena saya itu kerjanya di lapangan sehingga saya senang tinggal tidur di petani ngobrol sama mereka," ujarnya.

Kehausan untuk memahami pembangunan masyarakat community development) membawanya melintasi samudra. Dari Texas, Amerika Serikat, hingga University of the Philippines Los Baños di Filipina, Azril memperdalam ilmu yang kelak menjadi fondasi bagi berbagai gagasannya tentang pembangunan berbasis masyarakat.

Di ruang-ruang akademik itu, ia mempelajari Community Development dan Rural Economics. Namun bagi Azril, ilmu bukan sekadar kumpulan teori, melainkan alat untuk memastikan kesejahteraan benar-benar hadir di tengah masyarakat, artinya dari dan untuk serta oleh masyarakat.

"Saya lebih kepada pengembangan ekonomi kerakyatannya itu, itu dasar dasar ilmu saya gitu. Sehingga bagaimana income petani ini naik, kemudian bagaimana masyarakat itu naik," ucap Azril.

Pemikiran tersebut kemudian tumbuh menjadi berbagai program pemberdayaan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Salah satunya melalui pengembangan Perusahaan Inti Rakyat (PIR), sebuah model yang memperkuat hubungan antara petani sebagai plasma dan perusahaan negara sebagai inti untuk menciptakan manfaat langsung ke masyarakat yang lebih merata.

Kepercayaan terhadap kapasitasnya terus bertambah seiring berbagai keberhasilan yang diraih di lapangan. Bahkan, sejumlah gagasannya mendapat perhatian langsung dari Presiden Soeharto.

Salah satu penugasan yang paling membekas adalah pengembangan kedelai Edamame di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Melalui kolaborasi dengan perusahaan perkebunan, akademisi, dan pelaku usaha, komoditas yang sebelumnya belum populer itu berkembang menjadi identitas baru daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

"Kemudian Pak Harto menunjuk Menteri Pertanian itu, tolong perintahkan saja Pak Azril (didampingi Sigit Samsu) pergi. Saya bilang di Jember karena di sana ada," ujarnya.

Kerja panjang tersebut membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi. Edamame berkembang menjadi berbagai produk olahan dan menjadikan Jember dikenal sebagai salah satu sentra Edamame nasional.

"Kami kembangkan, berhasil sekali sehingga Edamame itu menjadi kue brownies, segala macam sudah dibikin macam-macam. Makanya Jember itu menjadi kota Edamame," kata Azril.

Namun perjalanan Azril tidak hanya berlangsung di ladang dan kawasan pertanian. Ia juga menemukan panggung pengabdian lain melalui dunia komunikasi pembangunan yang kala itu berkembang pesat di Indonesia.

Melalui Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa atau Kelompencapir, Azril ikut menjembatani pengetahuan dengan kehidupan masyarakat. Ia terlibat dalam penyusunan materi siaran, film pembangunan, hingga berbagai model komunikasi yang menyentuh masyarakat pedesaan.

Hubungannya dengan Radio Republik Indonesia dan Televisi Republik Indonesia terjalin begitu erat. Ruang siaran bahkan pernah menjadi rumah keduanya, tempat ide dan gagasan pembangunan terus dirajut hingga larut malam.

"Saya kadang-kadang tidurnya di RRI kadang-kadang di TVRI ya. Jadi dua itu semua saya senang saja gitu," ucapnya.

Waktu kemudian membawanya memasuki dunia akademik melalui Universitas Trisakti. Di kampus itulah ia melihat potensi besar pariwisata sebagai jalan pembangunan yang berakar pada masyarakat.

Pada masa itu, pariwisata masih sering dipandang sebagai keterampilan vokasi praktis semata. Azril melihat sesuatu yang lebih besar: sebuah bidang yang menyatukan ekonomi, sosial budaya, lingkungan, kesehatan, hingga teknologi dalam satu ruang keilmuan.

Perjuangan panjang itu mencapai tonggak penting pada 13 Februari 2008 ketika pariwisata diakui sebagai disiplin ilmu mandiri. Bagi Azril, pengakuan tersebut bukan sekadar capaian akademik, melainkan langkah penting untuk membangun sektor pariwisata yang lebih kuat dan berkelanjutan berbasis saintifik.

"Kalau tidak, pariwisata itu tidak bisa menjadi unggulan harus ada ilmunya pariwisata. Maka pendidikan pariwisata yang sebelumnya hanya masuk ke ilmu sosial dan humaniora," ujarnya.

Ia terus mendorong agar pariwisata ditempatkan dalam rumpun ilmu Profession and Applied Sciences atau ilmu profesi dan ilmu terapan. Menurutnya, sektor ini memiliki pendekatan saintifik yang dapat diukur, dianalisis, dan dikembangkan secara sistematis.

"Pariwisata itu serumpun dengan ilmu kesehatan, ilmu engineering, ilmu pertanian yang memiliki eksaktanya bukan hanya sekadar ilmu sosial maupun ilmu humanioranya. Dasarnya itu ada hitungannya, ada pengukurannya, ada pendekatan ilmiah seperti gizi makanan, desain interior hotel dan resto, arsitek dan teknik landscape lapangan yang harus digunakan," ujar Azril.

Dari pemikiran itu lahir berbagai konsep yang kini akrab di dunia pariwisata Indonesia. Salah satunya Community Based Tourism, dan Ekosistem Kepariwisataan, sebuah gagasan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama pembangunan destinasi.

Pemikirannya membuat Azril dipercaya menjadi penasihat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. Ia juga didapuk menjadi Ketua Dewan Juri Anugerah Desa Wisata Indonesia yang mendorong lahirnya ratusan desa wisata di berbagai daerah.

"Saya diminta oleh waktu Pak Sandiaga Uno menteri pariwisata saya diminta oleh beliau menjadi membantu beliau sebagai penasihatnya untuk mengembangkan desa wisata. Karena konsep saya tuh mengembangkan pariwisata itu harus dari bawah yaitu dari masyarakat," katanya.

Selain mengembangkan konsep desa wisata, Azril juga dikenal melalui gagasan gastronomi, health tourism, dan ekonomi pariwisata berbasis komunitas. Baginya, pariwisata bukan sekadar menghadirkan wisatawan, melainkan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di sekitar destinasi.

Kini, ketika usianya telah melewati banyak musim kehidupan, Azril masih setia menyalakan rasa ingin tahunya. Di depan layar laptop dan di dalam laboratorium, ia terus mencari jawaban atas berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia.

"Saya lebih senang di 2L yaitu Laptop sama Laboratory. Makanya saya lebih banyak ke riset sekarang, lebih kepada lab segala macam, seperti makanan bisa jadi obat probiotics untuk pencegahan penyakit autoimmune, diabetes melitus, cancer," kata Azril.

Dari hamparan perkebunan masa kecilnya, ruang siaran RRI dan TVRI, kampus, hingga forum-forum internasional, perjalanan Azril Azahari selalu dituntun oleh keyakinan yang sama. Bahwa pembangunan sejatinya berawal dari manusia, tumbuh bersama masyarakat, dan pada akhirnya harus kembali untuk menyejahterakan mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....