Sekolah Ekologi Pesisir: Wajah Baru CSR AMMAN di Sumbawa

  • 09 Jul 2026 02:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Di pesisir, pelajaran tentang lingkungan tidak selalu dimulai dari papan tulis
  • Ia bisa dimulai dari lumpur yang menempel di sepatu anak-anak, dari bibit mangrove yang ditanam pelan-pelan, dari cerita nelayan tentang arus, atau dari tukik kecil yang dilepas kembali ke laut
  • Di ruang seperti itu, keberlanjutan tidak hadir sebagai istilah besar dalam laporan perusahaan, melainkan sebagai pengalaman yang dapat disentuh, dilihat, dan diwariskan

Ketika Pesisir Menjadi Ruang Belajar

Di pesisir, pelajaran tentang lingkungan tidak selalu dimulai dari papan tulis. Ia bisa dimulai dari lumpur yang menempel di sepatu anak-anak, dari bibit mangrove yang ditanam pelan-pelan, dari cerita nelayan tentang arus, atau dari tukik kecil yang dilepas kembali ke laut.

Di ruang seperti itu, keberlanjutan tidak hadir sebagai istilah besar dalam laporan perusahaan, melainkan sebagai pengalaman yang dapat disentuh, dilihat, dan diwariskan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang alam sebagai materi pelajaran, tetapi sebagai bagian dari ruang hidup mereka sendiri.

Karena itu, program keberlanjutan perusahaan tambang sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai CSR dalam arti pemberian bantuan. Dalam konteks masyarakat pesisir, CSR dapat menjadi ruang belajar bersama: bagaimana warga memahami ekosistemnya, bagaimana anak-anak mengenal lingkungan tempat mereka tumbuh, dan bagaimana konservasi dapat dihubungkan dengan ekonomi lokal.

Di titik inilah program sosial dan lingkungan PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMAN di Sumbawa menarik untuk dibaca lebih jauh. Bukan semata sebagai rangkaian program, melainkan sebagai upaya membangun literasi ekologis masyarakat pesisir.

CSR sebagai Literasi Ekologis

Bantuan pendidikan, konservasi penyu, penanaman mangrove, atau pengembangan ekowisata tidak berdiri sebagai program terpisah. Semuanya dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun daya tahan sosial-ekologis masyarakat.

Dalam literasi internasional, pendekatan seperti ini dekat dengan gagasan place-based environmental education. Pendidikan lingkungan yang efektif tidak hanya mengenalkan teori, tetapi menghubungkan proses belajar dengan tempat hidup peserta didik. Anak-anak tidak sekadar diberi tahu bahwa mangrove penting. Mereka diajak mengenali akar, lumpur, pasang surut, dan fungsi ekosistem yang melindungi pesisir.

Dari sana, pengetahuan tumbuh menjadi kedekatan. Kedekatan dapat berubah menjadi kepedulian. Pada akhirnya, kepedulian itulah yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan jangka panjang.

AMMAN memiliki titik masuk melalui Sekolah Mangrove di SDN Labuhan Lalar. Dalam Laporan Keberlanjutan 2024, program ini disebut sebagai inisiatif untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum lokal dengan fokus pada ekosistem mangrove. Kegiatannya mencakup pengenalan ekosistem, pembibitan, penanaman bersama, pemeliharaan, pemantauan, dan aksi lingkungan.

Hingga akhir 2024, sebanyak 5.000 bibit mangrove telah ditanam bertahap di area 5.000 meter persegi. Program tersebut melibatkan 500 peserta, termasuk siswa, masyarakat, pemerintah daerah, dan karyawan AMMAN. Pelatihan juga diberikan kepada 26 guru dan dua instruktur nasional.

Mangrove, Penyu, dan Pengetahuan yang Tumbuh

Data itu penting, tetapi yang lebih penting adalah maknanya. Ketika mangrove masuk ke kurikulum lokal, konservasi tidak lagi hanya menjadi acara seremonial. Ia berubah menjadi proses pendidikan yang berulang.

Anak-anak belajar bahwa mangrove bukan sekadar pohon di tepi laut. Mangrove adalah benteng alami pesisir, tempat hidup berbagai biota, penyerap karbon, dan bagian dari identitas ekologis kampung mereka. Dalam jangka panjang, pengetahuan seperti ini dapat membentuk generasi yang lebih peka terhadap perubahan lingkungan.

Dimensi lain terlihat dalam konservasi penyu. AMMAN melaporkan bahwa pada 2024 sebanyak 5.078 tukik penyu dilepasliarkan ke perairan Sumbawa Barat. Secara kumulatif, total 61.925 penyu telah dilepas sejak awal program. Program ini juga mencakup pendidikan konservasi berbasis masyarakat dan pemetaan lokasi peneluran penyu untuk memperkuat perlindungan jangka panjang.

Di sini, konservasi tidak berhenti pada pelepasan satwa. Ia bergerak menuju pengetahuan komunitas tentang habitat, siklus hidup spesies, dan hubungan antara manusia dengan ekosistem pesisir. Penyu tidak hanya menjadi simbol lingkungan, tetapi juga pintu masuk untuk memahami bahwa laut memiliki siklus kehidupan yang harus dijaga bersama.

Dari Konservasi ke Ekonomi Lokal

Kekuatan CSR lingkungan terletak pada partisipasi. Kajian internasional tentang environmental CSR menunjukkan bahwa pengetahuan ekologis dan keterlibatan masyarakat penting dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan program. Artinya, CSR yang kuat bukan hanya yang terlihat ramai saat peluncuran, tetapi yang memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut merancang, menjalankan, dan mengawasi.

Dari sudut ini, pengembangan Transformasea Gili Balu juga menarik. AMMAN menyebut Gili Balu sebagai gugusan delapan pulau di lepas pantai timur laut Sumbawa Barat yang memiliki nilai ekologis dan ditetapkan sebagai zona konservasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbawa Barat.

Program ini diarahkan pada ekowisata, perlindungan habitat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk profesi pemandu wisata, serta promosi perikanan berkelanjutan. Hingga laporan 2024, sebanyak 1.756 orang disebut menerima manfaat dari inisiatif ini.

Di sinilah CSR menemukan dimensi ekonomi yang lebih halus. Ekowisata tidak boleh dibaca sekadar sebagai usaha menarik wisatawan. Dalam konteks pesisir, ekowisata dapat menjadi jembatan antara konservasi dan penghidupan. Warga tidak hanya menjadi penonton dari program lingkungan, tetapi dapat mengambil peran sebagai pemandu, penjaga kawasan, pelaku usaha kecil, atau penerjemah pengetahuan lokal bagi pengunjung.

Dari CSR ke Warisan Sosial-Ekologis

Literasi global tentang nature-positive mining dapat memperkaya cara membaca program semacam ini. Konsep tersebut mendorong sektor tambang tidak berhenti pada pengurangan dampak, tetapi ikut melindungi, memulihkan, dan memberi manfaat bagi alam serta masyarakat lokal.

Tentu, program seperti ini tetap harus dibaca secara kritis. CSR lingkungan mudah terjebak menjadi cerita indah bila tidak disertai ukuran keberhasilan yang jelas. Berapa tingkat kelangsungan hidup mangrove? Apakah warga ikut menentukan arah program? Apakah ekowisata benar-benar memberi manfaat ekonomi lokal? Apakah pendidikan lingkungan berlanjut setelah kegiatan seremoni selesai?

Pertanyaan semacam itu penting agar keberlanjutan tidak berhenti sebagai narasi, melainkan menjadi praktik yang dapat diuji. AMMAN dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk membahas perubahan cara pandang CSR pertambangan di Indonesia: dari bantuan menuju pengetahuan, dari seremoni menuju partisipasi, dari konservasi tunggal menuju ekosistem sosial-ekologis.

Sehingga, masa depan keberlanjutan di wilayah tambang tidak hanya ditentukan oleh reklamasi, bantuan sosial, atau laporan tahunan. Masa depan itu juga ditentukan oleh apakah masyarakat memiliki pengetahuan untuk menjaga ruang hidupnya sendiri.

Di Sumbawa, pelajaran itu bisa dimulai dari mangrove, penyu, dan pulau-pulau kecil. Dari sana, CSR tidak lagi sekadar hadir sebagai kewajiban perusahaan, melainkan sebagai sekolah ekologis yang menumbuhkan warga, alam, dan ekonomi lokal secara bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....