Enam Kali Mencoba, Perwira Anak Petani Temanggung Akhirnya Berdiri Tegak di Istana

  • 23 Jul 2026 06:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Achmad Muzaki, putra pasangan petani dari Dusun Keblukan, Temanggung, Jawa Tengah, resmi dilantik menjadi Letnan Dua Infanteri TNI Angkatan Darat di Istana Merdeka pada Rabu, 22 Juli 2026.
  • Orangtua Achmad Muzaki, Marsodo dan Siti Nurkofivah, hadir menyaksikan pelantikan putra mereka di tengah ribuan keluarga perwira baru lainnya dengan perasaan bangga dan haru.
  • Pencapaian Achmad Muzaki menjadi bukti bahwa latar belakang sebagai anak petani tidak menghalangi seseorang untuk meraih karir cemerlang di institusi militer Indonesia.

SENYUM itu tidak pernah lepas dari wajah Marsodo dan Siti Nurkofivah di halaman Istana Merdeka, Rabu, 22 Juli 2026. Pagi itu, di tengah ribuan keluarga perwira baru, keduanya bergantian memeluk putra sulung mereka sambil mengusap mata yang mulai basah.

Di hadapan mereka berdiri seorang perwira muda TNI Angkatan Darat dengan seragam hijau yang baru saja menerima pangkat pertamanya. Ia adalah Letnan Dua Infanteri Achmad Muzaki, putra pasangan petani asal Dusun Keblukan, Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Momen itu menjadi penutup perjalanan panjang yang tidak pernah dibayangkan keluarganya akan berakhir di halaman Istana Merdeka. Di balik seragam yang dikenakan Muzaki hari itu, tersimpan cerita tentang enam kali percobaan masuk Akademi Militer dan keyakinan yang tidak pernah benar-benar padam.

Bapak Marsodo dan Ibu Siti Kofivah, orang tua dari Letnan Dua Infanteri Achmad Muzaki saat diwawancarai RRI.CO.ID di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Air Mata Seorang Ibu

Usai pelantikan, keluarga kecil itu berkumpul untuk berfoto bersama di antara lautan manusia yang memenuhi halaman Istana. Sesekali mereka saling memandang, lalu tersenyum bersama kebanggan keluarga.

"Akhirnya mbak, sangat senang tentunya. Saya sangat bangga," ujar sang ibu, Siti Nurkofivah, sambil menatap putra sulungnya.

Di sampingnya berdiri Marsodo yang sejak awal lebih banyak tersenyum daripada berbicara. Petani berusia 63 tahun itu mengaku satu hal paling berat selama anaknya menjalani pendidikan adalah menahan rindu.

"Saat menunggu kepulangan anak. Kami semua sangat bangga," ucapnya pelan.

Rasa bangga itu juga terlihat dari dua adik Muzaki yang ikut hadir di Istana. Mata Achmat Mufi Asyiri tampak berkaca-kaca ketika menceritakan kakaknya.

Achmat Mufi Asyiri dan Dhisani Nimatul Kamilla, kedua orang adik Letnan Dua Infanteri Achmad Muzaki, saat berbagi kisah dengan RRI.CO.ID di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

"Bangga sekali karena kakak saya jadi Taruna, bisa membanggakan kedua orang tua saya dan juga menjadi kebanggaan desa. Di desa kami belum ada yang menjadi taruna seperti ini," katanya.

Sementara sang adik perempuan, Dhisani Nimatul Kamilla, beberapa kali menarik napas sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Saya sangat terharu karena kakak saya menjadi TNI Angkatan Darat, dia lulus tahun ini," ujarnya dengan suara bergetar.

Sebelum menutup cerita, keluarga juga menitipkan doa bagi perjalanan pengabdian Muzaki sebagai perwira TNI Angkatan Darat. "Semoga jadi anak yang amanah dengan kelulusan ini," ujar sang ibu sambil tersenyum.

Achmat Mufi Asyiri berharap kakaknya kelak menjadi prajurit yang memegang teguh kejujuran dan selalu berpihak kepada masyarakat. "Semoga dapat menjadi tentara yang amanah, jujur, dan bermanfaat untuk masyarakat," katanya.

Harapan serupa disampaikan sang adik perempuan, Dhisani Nimatul Kamilla. "Semoga menjadi tentara yang dapat menjaga amanah dan menjadi contoh untuk masyarakat, khususnya untuk kami selaku keluarga," ujarnya.

Doa-doa sederhana dari keluarga petani di Temanggung itu kemudian mengiringi langkah Muzaki memasuki babak baru kehidupannya. Namun, perjalanan menuju titik tersebut ternyata jauh lebih panjang daripada yang terlihat di halaman Istana Merdeka pagi itu.

Enam Kali Mencoba

Kebanggaan itu tidak datang dalam semalam. Muzaki merupakan lulusan SMA tahun 2020, tahun yang sama menjadi awal perjuangannya mengejar mimpi menjadi taruna Akademi Militer.

Ia mendaftar Akmil pada 2020 namun gagal, kemudian kembali mencoba pada 2021 bersamaan dengan seleksi Bintara dan kembali gagal. Padahal saat itu sudah sampai di tingkat pusat.

Lalu Muzaki kembali mengulang seleksi Akmil dan bersamaan juga dengan seleksi Bintara pada 2022 tapi lagi-lagi ia belum berhasil. Kesempatan terakhir datang pada 2023, tahun yang akhirnya mengubah seluruh perjalanan hidupnya.

"Kami daftar enam kali," tulis Muzaki saat melanjutkan wawancara melalui pesan WhatsApp kepada RRI.co.id sesaat setelah pertemuan di Istana Merdeka. Di sela kegagalan demi kegagalan itu, hidup harus tetap berjalan.

Letnan Dua Infanteri Achmad Muzaki didampingi Sang Ibu Siti Kofivah dan Sang Bapak Marsodo saat berbagi kisah dengan RRI.CO.ID di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Muzaki pernah menjadi kuli bangunan, buruh tani, penjual es kelapa. Hingga akhirnya ia bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi di Jakarta Timur.

"Di setiap kami gagal, kami selalu bekerja. Dari kuli bangunan, buruh tani, penjual es kelapa, sampai barista di Jakarta Timur," katanya.

Ia bercerita, semasa menjadi buruh tani, ia hanya menerima upah sekitar Rp50 ribu setiap hari. Ketika menjadi barista, penghasilannya sekitar Rp1,5 juta setiap bulan.

Namun, uang itu tidak seluruhnya digunakan untuk dirinya sendiri. "Lima ratus ribu kami kirim ke orang tua, isanya kami tabung untuk fotokopi berkas pendaftaran, bayar kos, dan kebutuhan tes," tuturnya.

Hampir Menyerah, 2023 Menjadi Titik Paling Berat

Usia pendaftaran hampir habis. Muzaki sudah bekerja di luar daerah dan mulai menerima kenyataan bahwa cita-citanya mungkin tidak akan tercapai.

"Pernah ingin menyerah. Di tahun terakhir itu kami sudah sangat pasrah dengan keadaan," ungkapnya.

Namun, harapan datang ketika ia bersilaturahmi ke rumah keluarganya di Bogor. Di sana ia memperoleh kesempatan berlatih kembali sekaligus mendapat suntikan semangat untuk mencoba sekali lagi.

"Kami diberikan motivasi dan kesempatan latihan di sana. Sehingga semangat kembali dan akhirnya mendaftar untuk yang terakhir kalinya," katanya.

Kesempatan terakhir itu justru menjadi pintu menuju Akademi Militer. "Jatuh bangun sudah kami lalui hingga akhirnya tahun 2023 kami bisa masuk Akademi Militer tanpa uang sepeser pun," ujarnya.

Telepon yang Membuat Semua Menangis

Selama mengikuti seleksi akhir, telepon genggam seluruh peserta dikumpulkan hampir satu bulan. Orang pertama yang dihubungi Muzaki ketika dinyatakan lulus bukanlah teman ataupun kerabat lainnya.

"Orang pertama yang kami hubungi adalah orang tua karena. Selama tes kami tidak diperbolehkan menggunakan HP dan saat itu sangat merindukan mereka," katanya.

Di Temanggung, kabar itu langsung disambut tangis haru seluruh keluarga. "Semuanya nangis bangga, bahkan sekolah kami sampai membuat poster besar di sepanjang jalan karena saking bangganya," kenangnya.

(dari kiri ke kanan) Adik Pertama Achmat Mufi Asyiri, Adik Kedua Dhisani Nimatul Kamilla, Sang Bapak Marsodo, dah Sang Ibu Siti Kofivah saat berbagi kisah dengan RRI.CO.ID selepas Upacara Praspa Perwira TNI-Polri di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Didikan Orang Tua

Bagi Muzaki, keberhasilan itu bukan semata hasil kerja kerasnya sendiri. Ia menyebut didikan sederhana dari kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani menjadi bekal terbesar menghadapi berbagai kegagalan.

"Terima kasih untuk seluruh keluarga yang telah membimbing, mendukung, dan mendoakan kami sehingga bisa sampai di titik ini. Didikan mandiri dari keluarga menjadikan kami kuat menghadapi segala rintangan," ujarnya.

Dukungan itu pula yang membuatnya tidak pernah benar-benar berhenti mencoba. "Keluarga kami selalu mendukung sehingga kami selalu semangat meraih cita-cita," katanya.

Kini Giliran Mengabdi

Kini perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Muzaki resmi mengucapkan sumpah sebagai perwira TNI Angkatan Darat.

Baginya, pangkat Letnan Dua bukanlah garis akhir. Melainkan ini adalah awal pengabdian.

"Kami berharap dapat selalu bekerja dengan tulus dan ikhlas, mengabdi, menjaga bangsa dan negara. Untuk keluarga, saya berharap mereka selalu mendukung saya dalam setiap tugas yang diemban," ujarnya.

Ia juga menitipkan pesan kepada generasi muda. Khususnya bagi yang sedang mengejar mimpi serupa.

"Tetap semangat, jangan minder, tunjukkan bahwa dirimu berkualitas. Apa pun halangan dan rintangannya, tetap optimistis bahwa dirimu mampu mencapainya," pesannya.

Sore itu, ketika ribuan keluarga mulai meninggalkan halaman Istana Merdeka, Marsodo dan Siti masih beberapa kali meminta anak sulungnya berfoto bersama. Setelah enam kali mencoba, perjalanan panjang seorang anak petani akhirnya mengantarkannya berdiri tegak sebagai perwira, tepat di halaman Istana Negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....