Nada-Nada Mengawang, Senandung Biola di Bawah Langit Cawang

  • 18 Jul 2026 22:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Agai dan rekannya adalah dua pengamen yang berdiri di persimpangan Cawang Jakarta, mengubah hiruk pikuk lalu lintas menjadi panggung seni mereka.
  • Penampilan dan pakaian Agai mencerminkan perjalanan hidupnya yang penuh pasang surut

DI persimpangan Cawang, di mana deru mesin adalah napas kota dan asap knalpot menjadi kabut abadi, dua pengembara nasib berdiri. Mereka bukanlah sekadar pengamen, mereka adalah penyair yang menuliskan elegi di atas papan tuts biola, di tengah riuh rendah Jakarta yang seringkali lupa cara mendengarkan.

Agai, dengan rambut gondrong yang tersembunyi di balik topi khas pelukis, berdiri tegak layaknya penjaga gerbang waktu. Kemeja hitamnya yang bermotif bunga, ombak, nyiur kelapa seolah menceritakan perjalanan hidupnya yang pasang surut.

Di sisinya, Manik berdiri dengan rambut yang lebih liar, seperti jejak kenangan akan masa lalu saat rambutnya masih terjalin gimbal. Sebuah mahkota yang ia lepaskan setahun silam di altar pernikahan, demi menyongsong hari esok yang lebih pasti.

"Rambut saya dulu seperti ini," ucap Manik lirih sambil menatap layar ponsel, memperlihatkan gumpalan memori yang telah ia pangkas demi menafkahi cinta.

Agai (kiri) dan Manik (kanan) mulai memainkan biolanya saat lampu merah menyala (Foto: RRI.CO.ID/Cecep)

Sejak fajar milenium baru, mereka telah menapaki jalanan. Dari bangku-bangku Metro Mini yang kini telah menjadi fosil sejarah, hingga kini berpijak di atas aspal perempatan.

Manik memeluk biola akustiknya dengan hangat, sementara Agai membiarkan biola elektriknya meraung, menyalurkan jerit suaranya melalui pengeras suara yang tergeletak di kaki lampu merah. Sebuah altar beton tempat mereka memuja kehidupan.

Mereka belajar musik dari bisikan angin dan sisa-sisa ilmu yang tertular antar sahabat. Tak ada sekolah musik untuk mereka, kecuali kehidupan yang keras dan perempatan yang kejam.

"Yang penting halal. Untuk makan anak istri," tutur Agai.

Suaranya datar, namun di sana tersimpan kedalaman seorang pejuang. Manik menimpali dengan anggukan yang serupa, sebuah mantra yang mereka pegang erat di tengah badai ekonomi yang tak menentu.

Hidup mereka adalah cermin bagi kita. Terkadang, pengendara menyambut mereka dengan kemurahan hati.

Namun lebih sering, mereka berhadapan dengan tatapan curiga. Ada tangan-tangan yang merapat ke ponsel mereka, seolah takut jemari musisi ini akan merenggut benda itu, sebuah prasangka yang menyayat lebih dalam daripada kemiskinan itu sendiri.

Ada pula kaca mobil yang terbuka hanya untuk menyisakan keheningan. Sebuah ketidakhadiran rasa yang jauh lebih dingin daripada tatapan benci.

Apalagi kini, saat tanggal tua menjepit dan biaya sekolah anak menjadi beban yang menumpuk di pundak, seratus ribu rupiah terasa seperti puncak gunung yang sulit didaki. "Sulit sekali. Tapi tetap kami syukuri," bisik Manik.

Mereka juga mengenal rasa takut. Agai mengenang masa-masa pengejaran oleh aparat, saat mereka diciduk oleh dinas sosial dan Satpol PP.

Namun, kini mereka telah meminta izin ke kelurahan Kramat Jati, mencoba mencari kedamaian di tengah rimba birokrasi. Mereka mengerti, dan para penjaga kota pun mulai memahami, bahwa mereka bukanlah ancaman.

Mereka hanyalah dua jiwa dari Manggarai yang sedang mencoba menyambung hidup dengan gesekan dawai.

Dua biola yang mereka gunakan saat mengamen (Foto: RRI.CO.ID)

Saat senja mulai meluruh dan muda-mudi memadati jalanan, mereka memainkan lagu-lagu Dewa. Menabur melodi cinta di antara kepulan polusi.

Dan saat malam beranjak dewasa, saat nurani kota mulai mendingin, mereka akan berganti haluan ke tembang-tembang Iwan Fals atau Chrisye. Tembang yang menyentuh akar kepedihan dan harapan

Di perempatan Cawang, Agai dan Manik adalah pengingat bahwa seni tidak selalu lahir di gedung-gedung megah. Kadang, ia lahir di sudut jalan, dalam peluh yang bercampur debu.

Di antara keinginan untuk tetap mulia di tengah dunia yang tak selalu ramah. Mereka terus menggesek biola, karena bagi mereka, selama nada masih bisa mengalun, maka harapan akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....