Edik Widodo, Menembus Sunyi Penuh Kasih lewat Bahasa Isyarat
- 27 Jul 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Edik Widodo bertugas sebagai juru bahasa isyarat di Gereja Gembala GSKI Rehobot Mall untuk melayani jemaat penyandang disabilitas rungu.
- Edik Widodo secara konsisten menerjemahkan khotbah pendeta ke dalam bahasa isyarat sehingga jemaat rungu dapat memahami pesan ibadah dengan baik.
- Kehadiran juru bahasa isyarat sangat penting bagi disablitas rungu dan masyarakat
Suara pujian memenuhi setiap sudut di Gembala GSKI Rehobot Mall Artha Gading, Kelapa Gading, Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026 pagi. Ribuan jemaat larut dalam kidung, memuliakan Tuhan dengan suara yang menyatu dalam keheningan yang menenangkan.
Namun, di balik alunan musik dan khotbah yang mengalir dari mimbar, ada bahasa lain yang bergerak tanpa suara. Sepasang tangan menari lincah, wajah berbicara lewat ekspresi, dan gerak bibir menjadi bagian dari pesan yang tak boleh hilang.
Di ruangan khusus bagi jemaat penyandang disabilitas rungu, Edik Widodo berdiri menghadap kamera sebagai juru bahasa isyarat. Tangannya bergerak cepat, sesekali melambat, lalu kembali membentuk makna.
Bagi sebagian orang, itu hanya rangkaian isyarat. Namun, bagi belasan jemaat di hadapannya, itulah suara.
Setiap ayat, setiap penghiburan, hingga setiap doa diterjemahkan menjadi bahasa yang dapat mereka pahami. Tidak ada satu pun firman yang ingin dibiarkan berhenti di udara tanpa sampai kepada mereka yang tak mampu mendengarnya.
"Saya cuma merasa bahwa saya harus berguna bagi orang lain. Ini salah satu jalan Tuhan yang dipilih untuk saya," kata Widodo sapaan karibnya, saat ditemui RRI di Gembala GSKI Rehobot Mall Artha Gading, Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026.
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi alasan yang menggerakkan langkahnya selama hampir tiga dekade. Bagi Widodo, menjadi juru bahasa isyarat bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup yang ia yakini diberikan Tuhan untuk melayani sesama.
Ia percaya manusia tidak diciptakan hanya untuk memikirkan dirinya sendiri. Kepedulian, menurutnya, dimulai ketika seseorang mau melihat kebutuhan orang lain.
"Belajar melihat sekeliling, melihat orang lain butuh ditolong, jangan hanya menolong diri sendiri tapi menolong orang lain. Dengan bahasa isyarat, kita menolong orang lain tapi kita menjadi telinga untuk mereka," ujarnya.

Ungkapan "menjadi telinga" bukan sekadar kiasan, ia benar-benar menjadi penghubung antara suara dan keheningan. Ketika pendeta menyampaikan khotbah, ia menerjemahkan setiap makna agar tidak ada jemaat yang kehilangan kesempatan merasakan berkat yang sama.
Pelayanan itu bermula dari kebutuhan gereja. Saat itu, ada kesadaran bahwa firman Tuhan harus dapat diakses semua orang, termasuk penyandang disabilitas rungu.
"Awalnya gereja yang membutuhkan supaya firman Tuhan diberitakan semua orang tanpa kecuali termasuk teman tuli. Selama ini ke gereja tapi tidak memiliki berkat yang sama, datang kosong karena tidak dengar apa-apa," katanya mulai bercerita.
Sejak saat itu, perjalanan panjang dimulai. Kini wajah Widodo juga kerap muncul di layar televisi nasional.
Ia menjadi penerjemah bahasa isyarat dalam debat calon presiden, berbagai konferensi pers pemerintah. Bahkan, hingga kegiatan resmi di Mabes Polri.
Meski sering tampil dalam acara besar, pelayanan di gereja tetap memiliki tempat istimewa di hatinya. Di sanalah ia pertama kali belajar bahwa bahasa isyarat bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan jembatan kasih.
Tantangan terbesar justru hadir ketika harus menerjemahkan konsep-konsep yang tak kasatmata. Bagaimana menjelaskan surga, roh, dosa, hati nurani, atau kasih karunia kepada mereka yang memahami dunia melalui visual?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Widodo terus belajar. Setelah 27 tahun menjadi penerjemah bahasa isyarat, ia masih menempuh pendidikan magister untuk memadukan bahasa isyarat dengan teologi.
"Sehingga apa yang disampaikan pendeta di depan itu menjadi lebih nyambung. Contohnya roh, suasana surga, dosa, atau hati nurani yang sifatnya abstrak," ucapnya.

Baginya, belajar tidak pernah selesai. Setiap istilah baru harus dipahami bersama komunitas tuli agar makna yang diterima tetap utuh.
Di Indonesia, jumlah juru bahasa isyarat diperkirakan belum mencapai 500 orang. Angka itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan akses informasi jutaan penyandang disabilitas rungu.
Karena itu, Widodo memimpikan lahirnya lebih banyak penerjemah muda. Harapan itu bahkan tumbuh di keluarganya sendiri.
Sang istri juga menjadi penerjemah bahasa isyarat. Sementara putranya mulai menunjukkan ketertarikan mengikuti jejak orang tuanya.
Menurutnya, kemampuan bahasa isyarat tidak cukup dipelajari di ruang kelas. Seorang penerjemah harus hidup bersama komunitas tuli agar memahami budaya, cara berpikir, dan kebutuhan mereka.
“Kursus pasti dengan teman-teman tuli, tapi yang lebih pasti lagi adalah dia harus tetap dalam komunitas. Kalau dia tidak boleh lepas dari komunitas teman-tuli,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Widodo menyampaikan harapan sederhana. Ia ingin pemerintah membuka akses pelatihan yang lebih luas sehingga regenerasi penerjemah bahasa isyarat dapat berjalan lebih cepat.
"Perbanyak akses. Undang-undangnya sudah jelas, tinggal implementasinya," ucapnya.
Minggu siang itu, ibadah pun berakhir, jemaat perlahan meninggalkan gereja. Suara pujian telah usai, tetapi sepasang tangan yang sejak pagi tak henti bergerak meninggalkan pesan yang jauh lebih panjang.
Bahwa di dunia yang dipenuhi suara, masih ada orang-orang yang memilih menjadi telinga bagi mereka yang hidup dalam sunyi. Di balik setiap gerakan tangan Edik Widodo, selalu ada keyakinan bahwa setiap manusia berhak mendengar harapan, meski tanpa suara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....