Omar Al Fahd, Menjahit Luka Menjadi Harapan lewat Wastra dan Anak Disabilitas
- 02 Mei 2026 19:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Latar budaya Bali dan Arab Betawi membentuk karakter dan perspektif hidup Omar Alfahd
- Mendirikan Anggalang by Omar sebagai ruang kreatif berbasis kepedulian sosial
- Omar pernah meraih beasiswa di LaSalle College melalui lomba desain
- Omar menggagas Ratu Putri Kebaya sebagai ajang fashion show untuk mengenalkan kebaya
LANGKAH hidup Omar Al Fahd tidak pernah benar-benar lurus sejak awal perjalanannya menjadi fashion desainer yang penuh luka dan kehilangan. Dari ruang sederhana masa kecilnya, ia perlahan menenun harapan, hingga kini menjadi ruang bagi banyak orang menemukan makna hidup.
Omar lahir dari latar budaya yang berbeda, membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan sejak dini. Ia tumbuh dari perpaduan kultur Bali dan Arab Betawi yang sama-sama kuat memengaruhi perjalanan hidupnya.
Perbedaan tersebut tidak selalu mudah dijalani, terutama ketika ia harus menemukan jati dirinya sendiri. Namun, dari situ ia belajar memahami identitas dan nilai yang kemudian dirinya pegang hingga kini.
Masa kecilnya diwarnai keterbatasan ekonomi dalam keluarga besar yang membuatnya terbiasa berbagi banyak hal. Pakaian yang dikenakan saat hari raya pun harus digunakan secara bergantian oleh saudara-saudaranya.
“Kalau lebaran, misalkan bajunya tahun lalu dipakai kakak saya. Ntar tahun ini dipakai saya, tahun depan dipakai adik saya, kayak gitu,” ujar sosok yang lebih senang dikenal sebagai aktivis wastra itu pada rri.co.id di Jakarta, Jumat, 1 Mei 2026.
Dari pengalaman sederhana itu, muncul keinginannya untuk tampil berbeda dengan cara yang lain. Ia mulai berkreasi dengan apa yang ada, meski jauh dari kata sempurna.
“Akhirnya baju merah itu aku pake lehernya kerang-kerang. Aku tempel pake lem,” katanya sambil tertawa mengingat kejadian waktu itu.
Pengalaman kecil itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia kreatif. Meski hasilnya sederhana dan bahkan tidak bertahan lama, hal itu menumbuhkan keberaniannya untuk mencoba.

Namun, di balik itu semua, ada luka yang jauh lebih dalam yang dirasakannya sejak kecil. Sosok Omar yang dikenal ceria, tiba-tiba kehilangan sosok ibu membuatnya harus tumbuh lebih cepat dari usianya.
Saat di bangku SMA, ia berpindah-pindah tempat dan merasakan hidup yang tidak selalu memberi ruang nyaman. Namun, dari situ Omar belajar bertahan dan membangun kekuatan dalam dirinya.
Namun, perjalanan hidupnya kemudian membawanya menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Desainer kebaya ini sempat mengambil fokus komunikasi politik yang sebenarnya jauh dari dunia fashion.
Meski demikian, lingkungan tempatnya belajar justru mempertemukannya dengan kekayaan budaya yang mengubah cara pandangnya. Dari sana, ia mulai jatuh cinta pada kain, motif, dan filosofi wastra Indonesia.
“Karena saya kuliahnya di Yogya saya pelajari batik. Sambil iseng-iseng, walaupun kuliah saya gak ada hubungannya dengan dunia fashion,” ucapnya.
Beberapa bulan kuliah, Omar mendapatkan kesempatan besar yang datang secara tidak terduga ketika seorang temannya mendaftarkannya dalam lomba desain. Tanpa persiapan matang, anak ke delapan dari 13 bersaudara itu, mengikuti kompetisi tersebut hanya dengan modal keberanian.
Tetapi dengan keberanian itu, ia berhasil melangkah jauh dalam kompetisi tersebut, bahkan bersaing dengan peserta berpengalaman. “Ternyata hadiahnya bukan duit, tapi beasiswa di lasalle college, senilai total-total 50 juta lah,” kata dia.
LaSalle College merupakan sekolah desain internasional yang banyak diimpikan karena reputasinya dalam melahirkan talenta kreatif berkelas dunia. Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan sesuai harapan yang dibayangkan.
Keputusan hidup yang ia ambil tidak selalu mendapat dukungan dari keluarga yang diharapkan menjadi tempat pulang. “Pialanya malah dibakar ayah saya, itu sedih banget deh pokoknya, karena apa yang aku lakukan selalu salah,” ujarnya dengan kesedihan.
Tidak hanya itu, karya-karya yang telah ia perjuangkan belum pernah benar-benar dilihat oleh keluarganya. “Selama aku berkarya, keluarga saya tidak pernah ada yang melihat hasil karya saya,” katanya.
Rasa sedih itu tidak hanya hadir sesekali, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dijalaninya. Namun, ia memilih untuk tidak berhenti dan menjadikan luka sebagai bahan bakar untuk terus berkarya.
Ia mengaku setiap jatuh, dirinya selalu kembali melalui karya yang diciptakannya. Baginya, proses berkarya menjadi cara untuk bertahan dari berbagai tekanan hidup.
“Setiap saya dijatuhkan, saya larikan dengan karya, kalo lagi ada masalah saya mayet sampai jadi satu motif. Mayet sambil nangis-nangis,” ungkapnya sambil tertawa.
Meski demikian, Omar tidak memilih berhenti di tengah jalan yang berat. Ia justru menjadikan luka itu sebagai alasan untuk terus berkarya dan melangkah lebih jauh.
Dari perjalanan tersebut, ia mendirikan Anggalang by Omar sebagai ruang kreatif yang berangkat dari kepedulian sosial. Baginya, fashion bukan sekadar karya, tetapi cara untuk menyentuh kehidupan orang lain.
Ketulusannya semakin terlihat ketika ia mulai merangkul anak-anak difabel dalam berbagai kegiatan. Omar menciptakan ruang yang hangat, di mana mereka bisa merasa diterima tanpa batas.
“Jadi, aku mengasuh ada sekitar 65 anak difabel atau different ability. Jadi, aku ngebangkitin lagi kepercayaan mereka,” ucap pria asal Bali ini.

Ia menghadirkan pendekatan berbeda melalui fashion, catwalk, dan interaksi sosial yang membangun kepercayaan diri. Bahkan, melalui pelatihan tersebut, ia berhasil membawa anak-anak disabilitas tampil di panggung internasional hingga tingkat ASEAN.
Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar prestasi, tetapi bukti bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersinar. Sosok yang bercita-cita menjadi duta besar ini ingin menunjukkan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk bermimpi.
Di sisi lain, kecintaannya terhadap budaya membawa langkahnya menjadi aktivis wastra. Fashion desainer ini tidak ingin warisan kain nusantara hilang tanpa dikenali generasi muda.
Dari kegelisahan itu, ia menggagas gerakan Ratu Putri Kebaya sebagai ajang fashion show yang memperkenalkan kebaya kepada generasi muda. Ia ingin kebaya tidak hanya hadir dalam acara formal, tetapi menjadi bagian dari keseharian.
Uniknya, ajang ini juga turut menjadi ruang inklusif dengan melibatkan anak-anak disabilitas untuk tampil di atas panggung. Bagi Omar, kebaya bukan sekadar busana, tetapi juga medium untuk menghadirkan kesetaraan dan kepercayaan diri bagi semua.
“Maka itu pada saat itu saya bikinlah Ratu Putri Kebaya. Tujuannya untuk mengingatkan generasi muda,” kata pemilik Anggalang by Omar ini.
Ia menyadari banyak warisan budaya Indonesia yang belum mendapatkan pengakuan layak di tingkat dunia. Bahkan, beberapa di antaranya terancam hilang akibat kurangnya perhatian dan regenerasi.
“Karena ini bukan cuma tanggung jawab pemerintah. Menurut saya kita semua harus bergerak,” ujarnya.
Bagi Omar, wastra bukan sekadar kain, melainkan jejak sejarah yang menyimpan nilai dan filosofi kehidupan. Ia percaya, menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa secara utuh.
Di tengah perjalanan hidup yang penuh luka, ia tetap memilih berjalan dengan ketulusan. Omar tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga membuka ruang bagi orang lain untuk menemukan harapan.
Dari seorang anak yang tumbuh dalam keterbatasan, kini ia menjadi cahaya bagi banyak orang. Perjalanannya menjadi bukti bahwa luka tidak selalu melemahkan, tetapi mampu melahirkan kekuatan yang bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....