Di Bawah Terik May Day, Suara Perempuan Tak Pernah Padam

  • 01 Mei 2026 20:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Isu kedaulatan tubuh pekerja, termasuk penolakan pemaksaan kontrasepsi, menjadi sorotan dalam perlindungan hak buruh migran
  • Harapan pada lapangan kerja dalam negeri, upah layak, dan stabilitas kebutuhan pokok untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga buruh migran
  • Iwenk Karsiwen menyuarakan pentingnya keterbukaan revisi undang-undang pelindungan agar buruh migran turut dilibatkan

DI bawah terik matahari yang menyengat, langkah-langkah panjang peserta aksi damai May Day mengalir dari Dukuh Atas menuju kawasan Sarinah. Perjalanan itu dimulai sejak pagi buta.

Peluh dan panas tak memadamkan suara-suara yang ingin didengar. Justru menguatkan irama perjuangan yang hari itu terasa lebih hangat, lebih manusiawi.

Di tengah lautan massa yang datang dari berbagai latar, Iwenk Karsiwen dari Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI) hadir bersama Aliansi Perempuan Indonesia. Iwenk menyuarakan aspirasi yang ia bawa lintas pengalaman sebagai pekerja migran.

Di momen peringatan Hari Buruh tahun ini, ia kembali menegaskan pentingnya ruang dialog yang terbuka. Menurutnya, hal itu merupakan kunci awal dari lahirnya kebijakan yang adil.

Sosok yang pernah bekerja di luar negeri ini mengajak semua pihak untuk lebih menghargai kedaulatan tubuh para pekerja. Menurut beliau, penghapusan praktik pemaksaan kontrasepsi akan menjadi kemajuan besar dalam menghormati hak asasi setiap individu yang ingin bekerja.

“Jadi kami melihat ini adalah salah satu bentuk kekerasan seksual yang saat ini KABAR BUMI sedang melakukan penelitian itu. Kami sedang melakukan penelitian di empat wilayah di Indonesia,” ucapnya saat aksi damai Aliansi Perempuan Indonesia berlangsung di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Mei 2026.

Iwenk juga memberikan perhatian pada pentingnya keamanan dokumen pribadi agar para pekerja merasa lebih tenang saat menjalankan tugas mereka. Perlindungan terhadap identitas asli merupakan bentuk dukungan nyata bagi buruh agar dapat bekerja dengan perasaan aman tanpa tekanan.

Harapan terbesar beliau adalah terciptanya lebih banyak lapangan pekerjaan di tanah air agar kehangatan keluarga tetap selalu terjaga. Beliau percaya bahwa upah yang layak di negeri sendiri akan menjadi kado terindah bagi para ibu dan keluarga.

Ketua Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI) Iwenk Karsiwen saat aksi damai Aliansi Perempuan Indonesia berlangsung di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Mei 2026 (Foto: RRI/Sasa Haniyah)

“Terus menurunkan biaya penempatan, menghapuskan penahanan dokumen, memberikan sanksi kepada PT yang melakukan tindak-tindak. Dan juga khususnya tentang bagaimana menciptakan lapangan kerja dengan upah yang layak supaya kami tidak terpisah dengan keluarga,” kata Iwenk dengan penuh harap.

Upaya pemerintah dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok sangat dinantikan agar hasil kerja keras para migran bisa dinikmati secara maksimal. Kesejahteraan keluarga di rumah tentu akan semakin meningkat apabila biaya pendidikan serta kesehatan dapat terjangkau oleh semua lapisan.

Iwenk mengingatkan bahwa perjuangan memperbaiki nasib bangsa adalah hak setiap warga negara yang harus terus diupayakan secara bersama. Beliau mengajak seluruh elemen untuk tetap kritis dan optimis dalam mengawal setiap perubahan kebijakan demi kebaikan seluruh rakyat.

Perempuan tangguh ini mengajak kawan-kawan sejawatnya untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan selalu mencintai diri. Bergabung dalam komunitas adalah cara yang indah untuk saling merangkul, belajar bersama, dan memastikan tidak ada perempuan merasa sendirian.

“Perempuan yang cerdas dan mandiri itu satu, kita harus mengetahui hak-hak ketenagakerjaan kita. Sehingga ketika kita, hak-hak kita diambil ataupun tidak diberikan, ketika kita dieksploitasi, kemudian kita tahu kemana kita harus mengadu,” ujarnya sembari tersenyum.

Di bawah langit May Day yang masih menyisakan panas dan riuh suara perjuangan, langkah para perempuan pekerja itu seolah meninggalkan jejak. Yang tak hanya tertulis di jalanan Sarinah, tetapi juga di ingatan tentang keberanian untuk bersuara.

Dari sana, harapan terus menyala pelan. Bahwa kerja layak, perlindungan, dan martabat bukan sekadar tuntutan, melainkan hak yang tak boleh lagi ditunda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....