Asa di Balik Tukang Bangunan

  • 20 Nov 2025 06:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Bekerja sebagai tukang bangunan di zaman ini tentu bukan menjadi pilihan banyak orang. Alasannya sederhana: upahnya tidak menentu, pekerjaannya menguras tenaga, hingga proyek yang belum tentu selalu ada.

Namun bagi Asep, warga Purwakarta, Jawa Barat, tidak banyak pilihan yang dimiliki. Ia pun memilih profesi tukang bangunan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Di gedung lantai dua Pusbangkom RRI, Jakarta Selatan, pria berusia 30 tahun itu terus bekerja dengan semangat.I Asep mengukur dan memasang keramik dari satu ruangan ke ruangan lain, dibantu dua tukang lainnya.

Sambil mengaduk semen untuk pemasangan keramik, Asep tetap sabar menikmati pekerjaannya. Saat RRI coba mendekati, ia dengan ramah menerima ajakan mengobrol.

Menurutnya, pekerjaan sebagai tukang bangunan sudah dijalani selama belasan tahun. Kini Asep sedang bekerja di lantai dua bangunan Pusbangkom LPP RRI.

“Sebelumnya saya bekerja di Purwakarta dan lanjut lagi di Jakarta. Jadi tukang bangunan sudah 15 tahun, karena saya hanya tamat SD,” kata Asep.

Jauh dari istri dan anak yang baru berusia empat tahun sudah menjadi risiko perjalanan pekerjaan yang harus diterima. Sebab, bekerja sebagai tukang bangunan memang tidak bisa menetap di satu tempat dalam jangka lama.

“Ya mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali bekerja seperti ini,” ucapnya.

Asep lalu mengungkapkan penghasilannya sebagai tukang bangunan. Per hari ia dapat bayaran sekitar Rp130 ribu, tinggal dikalikan berapa hari kesepakatan bekerja dari pelaksana proyek.

Lantai dua Gedung Pusbangkom RRI yang telah selesai dilakukan pemasangan keramik (Foto: RRI Pusat Pemberitaan/Tinus Ohoira)

Bila melihat kebutuhan istri dan anak sehari-hari, bisa jadi belum mencukupi semua. Namun, kemampuan sebagai sebagai tukang bangunan itu yang dimiliki dan bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga.

Sementara, Anwar selaku mandor proyek pemasangan keramik di Pusbangkom RRI memuji dedikasi Asep dalam bekerja. Walau berpindah-pindah tempat, keseriusan dan ketekunan bekerjanya relatif stabil.

“Saya melihat semangatnya luar biasa, dari Purwakarta sampai Jakarta sama saja. Misalnya pasang keramik sekalian juga yang mencampur semen,” ujar Anwar.

Anwar mandor proyek pemasangan keramik lantai dua Gedung Pusbangkom RRI, Jakarta Selatan (Foto: RRI Pusat Pemberitaan/Tinus Ohoira)

Pekerjaan sebagai tukang memang menuntut semangat, keseriusan, dan ketekunan yang tinggi karena berkaitan dengan kepuasan pemberi proyek. Meski pekerjaan dan pendapatan yang didapatkan tukang bangunan tidak menentu setiap harinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....