Merajut Asa, Meraih Prestasi, Saat Perpisahan Pelajar SD Menjadi Awal Perjalanan
- 17 Jun 2026 18:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari itu bukan sekadar acara pelepasan dalam bentuk tasyakuran, siswa kelas enam SDN Lowokwaru 3 Malang, dengan tema 'Merajut Asa, Meraih Prestasi'
- Seolah menjadi simbol berakhirnya satu fase kehidupan, atribut itu dilepaskan perlahan
- Di balik ketegasan seorang guru, ternyata tersimpan kehangatan yang begitu dekat
- Capaian Kota Malang berhasil melampaui rata-rata nasional maupun Provinsi Jawa Timur
SUARA musik mengalun pelan di sebuah hotel di Kota Malang, Rabu, 17 Juni 2026, pagi. Di tengah ruangan itu, ratusan pasang mata menyimpan cerita tentang perjalanan, harapan, dan perpisahan.
Hari itu bukan sekadar acara pelepasan dalam bentuk tasyakuran, pelajar kelas enam SDN Lowokwaru 3 Malang, dengan tema 'Merajut Asa, Meraih Prestasi'. Lebih dari itu, hari tersebut menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan panjang yang ditempuh bersama.
Perjalanan yang dimulai dari langkah-langkah kecil menuju ruang kelas enam tahun silam. Kini perjalanan itu sampai pada satu titik penting sebelum mereka melanjutkan langkah berikutnya.
Di deretan kursi tamu, para orang tua hadir dengan wajah berbinar penuh kebanggaan. Batik beragam warna yang dikenakan seolah melengkapi suasana syukur yang memenuhi ruangan.
Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan sebuah acara seremonial. Melainkan, untuk melihat hasil dari proses panjang yang tumbuh setiap hari bersama anak-anaknya.

Tak lama kemudian, satu per satu penampilan siswa mulai menghidupkan suasana. Panggung berubah menjadi ruang ekspresi yang menampilkan bakat sekaligus keberanian mereka.
Tari Pitik Walik membuka rangkaian pertunjukan dengan gerakan yang lincah dan enerjik. Setelahnya, Tari Onclang Kidang, Tarian Nusantara, drama musikal, dan modern dance memukau penonton.
Tepuk tangan para orang tua terdengar nyaris tanpa jeda sepanjang pertunjukan berlangsung. Kebanggaan mereka terlihat jelas saat menyaksikan putra-putrinya tampil penuh percaya diri.
Di balik penampilan yang terlihat sempurna itu, ada peran para guru yang tak pernah jauh. Mereka berdiri di sisi ruangan sambil memberi aba-aba dan menyuntikkan rasa percaya diri.
Tatapan para guru sesekali tertuju kepada anak didiknya yang berada di atas panggung. Tatapan yang menyimpan kebanggaan setelah menyaksikan perkembangan mereka selama bertahun-tahun.


Namun, kemeriahan itu perlahan bergeser menjadi suasana yang jauh lebih emosional. Sebuah prosesi sederhana kemudian mengubah ruangan menjadi lautan keharuan.
Ketika sesi penyerahan kembali siswa kepada orang tua dimulai, suara riuh perlahan mereda. Semua perhatian tertuju ke panggung utama yang menjadi pusat acara pagi hingga siang itu.
Di sana berdiri Kepala SDN Lowokwaru 3 Malang, Dra Anis Yuniati, bersama sejumlah siswa. Dengan penuh kasih, ia memimpin pelepasan atribut sekolah yang selama ini melekat pada mereka.
Atribut itu mungkin hanya berupa seragam dan lambang sekolah. Namun bagi banyak orang tua, atribut tersebut menyimpan kenangan tentang proses tumbuh yang panjang.
Seolah menjadi simbol berakhirnya satu fase kehidupan, atribut itu dilepaskan perlahan. Dan pada saat itulah, banyak mata mulai berkaca-kaca menahan haru.
"Hari ini kami mengembalikan putra dan putri kepada Bapak Ibu. Semoga mereka terus tumbuh, berkembang, dan berhasil meraih impian terbaiknya," ujar Anis.
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam bagi para orang tua. Sebab, selama enam tahun terakhir, sekolah telah menjadi rumah kedua bagi anak-anak mereka.
Sebelumnya, Anis mengingatkan, bahwa pendidikan tidak hanya berbicara mengenai nilai akademik. Menurutnya, keberhasilan sejati lahir dari karakter yang tumbuh bersama ilmu pengetahuan.
"Tetapi bagaimana siswa menjadi pribadi berakhlak mulia. Selain itu, jujur, tangguh, peduli, mandiri, berani, dan bertanggung jawab," ujar Anis.
Pesan itu seakan menemukan buktinya beberapa saat kemudian. Ketika siswa diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan, kedewasaan mereka terlihat jelas.
Afifah Ulul Azmi maju mewakili teman-temannya menuju podium. Dengan suara bergetar namun tetap tegar, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru.
Ucapan itu sangat terasa bukan sekadar formalitas dalam sebuah acara perpisahan. Ada ketulusan yang membuat banyak orang tua terdiam mendengarkannya.
"Kini kami kembali kepada Bapak dan Ibu di rumah. Doakan kami terus berjuang menjadi pribadi terbaik di masa depan," ucap Afifah.
Dari cara Afifah berbicara, tampak jelas perubahan yang terjadi selama enam tahun terakhir. Anak-anak yang dahulu memasuki sekolah dasar kini tumbuh menjadi remaja yang lebih matang.

Momen haru itu belum benar-benar berakhir ketika panitia membagikan bunga mawar kepada siswa. Setiap anak kemudian berjalan menuju tempat duduk orang tua masing-masing.
Satu per satu bunga diserahkan dengan pelukan hangat yang sulit dilupakan. Tangis bahagia pun pecah di berbagai sudut ruangan tanpa dapat ditahan lagi.
Akan tetapi, seperti kehidupan yang selalu bergerak maju, suasana sedih tidak berlangsung lama. Acara kembali dipenuhi tawa melalui tayangan perjalanan para siswa selama bersekolah.
Video demi video menampilkan kenangan yang selama ini tersimpan dalam arsip sekolah. Mulai dari kegiatan belajar hingga berbagai momen kebersamaan yang membentuk cerita indah.

Gelak tawa kembali terdengar ketika siswa membawakan lagu-lagu populer di atas panggung. Keceriaan itu semakin lengkap saat para guru turut memberikan penampilan spesial.
Mereka bernyanyi bersama sambil berjoget dengan kompak. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat dalam suasana belajar sehari-hari.
Di balik ketegasan seorang guru, ternyata tersimpan kehangatan yang begitu dekat. Hari itu, para siswa melihat sisi lain dari sosok yang selama ini membimbing mereka.
Di tengah suasana penuh kehangatan itu, perhatian Pemerintah Kota Malang turut hadir. Kehadiran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, menambah makna acara.
Ia datang membawa kabar menggembirakan tentang perkembangan dunia pendidikan Kota Malang. Menurutnya, capaian pendidikan daerah tersebut terus menunjukkan tren yang membanggakan.
Dalam sambutannya, Suwarjana menyampaikan hasil Tes Kemampuan Akademik tingkat SD dan SMP. Capaian Kota Malang berhasil melampaui rata-rata nasional maupun Provinsi Jawa Timur.
"Alhamdulillah semua tercapai, berturut-turut dua tahun kita mendapatkan penghargaan kementerian. Prestasi itu merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen pendidikan," kata Suwarjana.
Ia menilai, keberhasilan tersebut tidak mungkin diraih sekolah tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, ia mengapresiasi keterlibatan komite sekolah dan para wali murid.
Salah satu contohnya, kata Suwarjana, terlihat dari dukungan para orang tua dalam penyelenggaraan tasyakuran ini. Diyakini, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik dan dapat menjadi motivasi saat mereka menapaki jenjang pendidikan berikutnya.
"Anak-anak tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kenangan dan semangat meraih cita-cita. Kami harapkan semua siswa siswi sukses meraih cita-cita," ucapnya disambut tepuk tangan hangat dari seluruh hadirin.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Panitia Tasyakuran Kelas VI, Tanti Pravitasari. Mewakili seluruh orang tua, ia menyampaikan penghargaan kepada para guru.
Menurut Tanti, keberhasilan yang dirayakan hari itu bukan hasil kerja satu pihak. Ada kesabaran, keikhlasan, dan dedikasi yang diberikan para guru selama enam tahun.
"Tanpa bimbingan dan kerja keras Bapak Ibu guru, anak-anak kami tidak sampai di sini. Sekali lagi terima kasih," ucapnya.
Menjelang akhir sambutannya, Tanti menyampaikan pesan kepada para lulusan. Ia mengingatkan, bahwa kelulusan merupakan awal dari perjalanan yang lebih panjang.
"Selamat atas kelulusan kalian. Teruslah belajar dan menggapai cita-cita setinggi mungkin," ujarnya.

Tak lama kemudian, tibalah salah satu sesi yang paling ditunggu para siswa. Panitia mulai mengumumkan nama-nama penerima penghargaan dari berbagai kategori prestasi.
Satu per satu siswa dipanggil menuju panggung utama menerima plakat dan buket penghargaan. Riuh tepuk tangan mengiringi setiap langkah mereka menuju depan ruangan.
Namun, kebahagiaan itu tidak hanya dirasakan para penerima penghargaan. Teman-teman mereka juga ikut bersorak dan memberikan dukungan dengan tulus.
Pemandangan tersebut menghadirkan pelajaran sederhana tentang arti kebersamaan. Bahwa keberhasilan seseorang tidak mengurangi kesempatan orang lain untuk ikut berbahagia.
Daftar Peraih Penghargaan Tasyakuran Kelas VI SDN Lowokwaru 3 Kota Malang 2026
Penghargaan Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tertinggi Matematika:
- Chalisa Adelle Salsabila
- Sahrul Romadon
- Alverreli Laksmana Djatmiko
Penghargaan Nilai TKA Tertinggi Bahasa Indonesia:
- Kim Zheira Jaden
- Cahaya Cinta Az-zahra
- Kirana Maya Susanto
Penghargaan Nilai Rata-rata TKA Tertinggi:
- Kim Zheira Jaden
- Chalisa Adelle Salsabila
- Alverreli Laksmana Djatmiko
- Andani Yurie Gastiasih
- Wisanggeni Aksa Nugroho
Penghargaan Berkarakter
dan Berprestasi
- Keynetha Auliannisa Prasetyo
- Mikayla Reynia Pramesthi
- Nayla Rahma Azzahra
- Hiero Gahyaka Hasan
- Rizki Dewa Wicaksana
Penghargaan Prestasi Non Akademik
- Andani Yurie Gastiasih
- Khanza Shafia Kurniawan
- Revina Putri Felisa
- Nafisah Aila Cahya Rafani
- Ardiansyah Rafi Wardana
- Falisha Zian Rizwana
- Sazkia Fianjoyo
- Queenza Faiha Azzahra
- Nailin Najwah Nur Assyifah
- Mohammad Fajri Aldiansyah
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....