Kisah Inspiratif Adi Chandra, Mengabdi dari Ujung Negeri

  • 26 Nov 2024 09:16 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang : Guru, sebutan pahlawan tanpa tanda jasa ini tak berlebihan jika diberikan kepada Adi Chandra, seorang guru bakti yang telah mengabdikan diri selama 19 tahun. Ia merupakan guru mata pelajaran matematika lulusan Universitas Islam Negeri di Aceh. Sosok guru yang sederhana dan bersahaja, mengabdikan ilmu yang dimilikinya dari tahun 2005 hingga saat ini. Ia memulai perjuangannya mengabdi di salah satu Madrasah Swasta di Aceh Besar.

Chandra, panggilan akrabnya. Mengisahkan awal perjuangannya menjalani profesi yang sangat dicita-citakan dari sejak ia kecil. Ia mulai mengajar sebanyak 12 jam perhari, dari pelajaran ekstrakulikuler pramuka, pelajaran TIK (Teknik Informasi Komunikasi), lalu diperbantukan pada pelajaran Matematika. “Dari tahun 2005 sampai 2011 dengan status bakti murni, saya hanya dibayar Rp 100 – Rp 150/ tiga bulan”, ujarnya.

Meski demikian, ia tak berputus asa. Tahun 2012, ia mengikuti ujian sertifikasi dan dinyatakan lulus. Rasa syukur yang tak terhingga, walaupun masih berstatus guru bakti, namun usaha dan perjuangannya telah maju satu langkah. Sejak saat itu, ia sudah memperoleh penghasilan Rp 1.500.000/bulan. Ternyata menjadi guru bakti sertifikasi, tak semudah seperti yang dibayangkan. Ia harus mencukupi 24 jam pelajaran, sedangkan ia saat itu baru memenuhi 12 jam pelajaran dari pelajaran matematika.

Tahun 2017, Chandra harus hijrah untuk mengajar disalah satu Madrasah di Teunom Kecamatan Aceh Jaya. Hal ini terpaksa harus dilakukan, agar ia tetap bisa menerima gaji sebagai guru bakti sertifikasi. “Meskipun penuh perjuangan karena harus meninggalkan keluarga di Banda Aceh, saya mengabdikan diri di Teunom selama 3 tahun, karena di Sekolah tersebut saya full bisa mengajar matematika 24 jam pelajaran” ungkap Chandra berlinang air mata.

Setelah mengabdikan diri selama 3 tahun di Aceh Jaya, Chandra kembali mengajar di Madrasah Swasta Aceh Besar pada tahun 2019. “Saya kembali mengajar di Aceh Besar, karena lebih dekat dengan keluarga dan jam mengajar saya penuh (24 jam pelajaran), sehingga sertifikasi saya bisa diakui” jelasnya.

Tak hanya pindah ke Aceh Jaya, tahun 2022 Chandra juga terpaksa harus kembali pindah ke Pulau Sabang dan mengajar di salah satu Madrasah Swasta di Pulau Weh ini. Dengan gigih dan penuh perjuangan ia rela berpindah-pindah tugas demi baktinya untuk negeri. “Saya pernah beberapa kali mengajukan lamaran untuk mengikuti tes CPNS atau guru PPPK, namun saya gagal. Karena terbentur dengan aturan, saya hanya memiliki SK Madrasah Swasta”, ujar Chandra.

Mengingat usinya yang saat ini sudah 42 tahun, meskipun tak dapat lagi mengikuti tes CPNS, ia berharap dapat lulus menjadi guru PPPK. Perjuangan Chandra tak hanya sampai disini, ia berusaha meraih peluang untuk bisa mengajar di Madrasah Negeri, agar status pekerjaanya di akui oleh negara. Selain mengajar selama 27 jam pelajaran pada Madrasah Swasta di Sabang, sejak tahun 2023 ia juga sudah mengajar sebagai guru Matematika di MAN Kota Sabang.

“Usaha yang tak akan pernah menghianati hasil”, itulah ungkapan akhir yang diucapkan oleh Chandra di akhir wawancara pada moment hari Guru Nasional 2024. Harapannya sejauh usahanya yang telah berjuang selama 19 tahun menjadi guru bakti, mengabdi dari ujung negeri untuk ibu pertiwi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....