Database Petani Disiapkan untuk Percepat Investasi Perkebunan di Fakfak

  • 18 Jun 2026 19:29 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak bersama Yayasan Akape Inma (YAI) sepakat memperkuat kerja sama dalam pengembangan database petani dan perkebunan sebagai dasar perencanaan pembangunan, peningkatan investasi, serta pengembangan hilirisasi komoditas unggulan daerah, khususnya Pala Tomandin Fakfak.

Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi dan diskusi yang berlangsung di Kantor Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Pertemuan membahas berbagai isu strategis mulai dari pendataan petani, pemetaan potensi perkebunan, pemberdayaan masyarakat adat, hingga peluang investasi berbasis komoditas pala.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, mengatakan keberadaan database petani dan perkebunan menjadi kebutuhan mendasar dalam membangun sektor perkebunan yang terarah dan berkelanjutan.

Menurutnya, investor yang ingin berinvestasi di Fakfak membutuhkan data yang jelas terkait luas lahan, jumlah petani, potensi produksi, hingga kondisi sosial masyarakat di wilayah pengembangan. Karena itu, data yang akurat menjadi kunci dalam menarik investasi dan menyusun program yang tepat sasaran.

“Database menjadi kunci perencanaan. Kalau kita ingin menarik investasi dan menyusun program yang tepat sasaran, maka semuanya harus dimulai dari data yang akurat,” ujar Widhi.

Ia mengakui penyusunan database perkebunan secara menyeluruh membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun, Dinas Perkebunan terus melakukan pendataan secara bertahap melalui kelompok tani dan berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat pekebun.

“Dengan keterbatasan anggaran yang ada, kami menginventarisasi data petani melalui kelompok tani yang menjadi sasaran program pemerintah. Setiap kegiatan kami manfaatkan untuk memperkuat data petani dan lahan perkebunan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Akape Inma (YAI), Anton Tanggahma, menyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah daerah dalam membangun database perkebunan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Menurut Anton, data perkebunan tidak cukup hanya memuat luas lahan dan jumlah produksi, tetapi juga harus menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat, wilayah adat, karakteristik petani, serta potensi ekonomi yang dimiliki setiap kampung.

“Data yang baik tidak hanya berisi angka-angka, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi masyarakat dan potensi daerah secara utuh. Dengan begitu pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam menyusun kebijakan, sementara investor mendapatkan gambaran yang jelas sebelum berinvestasi,” kata Anton.

Selain penguatan database, pertemuan tersebut juga membahas upaya peningkatan mutu dan kualitas Pala Tomandin Fakfak. Dinas Perkebunan terus mendorong petani untuk menerapkan panen buah matang, memperbaiki penanganan pascapanen, serta memenuhi standar mutu agar harga jual pala meningkat.

“Kami ingin petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik. Kuncinya ada pada mutu dan kualitas hasil panen. Semakin baik kualitas pala yang dihasilkan, semakin tinggi pula harga yang diterima petani,” tegas Widhi.

Pemerintah daerah juga terus mengembangkan berbagai inovasi seperti pembangunan rumah pengering (solar dryer), rumah produksi, pengembangan teknologi pascapanen, serta pemanfaatan daging buah pala menjadi produk turunan bernilai ekonomi.

Melalui kolaborasi antara Dinas Perkebunan dan Yayasan Akape Inma, pengembangan Pala Tomandin Fakfak diharapkan semakin terarah, mampu menarik investasi, mendorong hilirisasi, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....