Pala Tomandin Tetap Jadi Andalan Ekonomi Fakfak di tengah El Niño

  • 01 Okt 2026 20:42 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Komoditas Pala Tomandin terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Fakfak. Hingga September 2026, penerimaan retribusi dari aktivitas perdagangan antarpulau pala mencapai Rp505.681.650.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan pala tetap bergerak meski produktivitas menghadapi tantangan akibat kondisi iklim.

“Kita patut bersyukur karena sampai dengan September 2026 penerimaan retribusi dari komoditas pala telah mencapai Rp505,68 juta. Angka ini terus mengalami kenaikan dari bulan ke bulan, meskipun kenaikannya tidak terlalu tajam.” ujar Widhi.

Berdasarkan data Januari hingga September 2026, total produksi pala yang tercatat melalui aktivitas perdagangan antarpulau mencapai 1.157,58 ton atau 1.157.583 kilogram. Produksi tersebut terdiri atas pala kulit 850.189 kilogram, pala ketok 146.987 kilogram, serta fuli atau bunga pala sebanyak 160.407 kilogram.

Dari pergerakan produksi bulanan, volume tertinggi tercatat pada Februari sebesar 262,40 ton, disusul Januari 233,25 ton dan Mei 146,71 ton. Produksi kemudian mengalami penurunan cukup signifikan pada Juni dan Juli, sebelum kembali bergerak pada Agustus dan September.

Pada September 2026, penerimaan retribusi tercatat Rp51.316.000, meningkat dibandingkan Agustus sebesar Rp49.356.500 dan Juli Rp44.247.250. Sementara nilai transaksi perdagangan pala antarpulau selama Januari hingga September mencapai Rp174.099.736.250.

Menurut Widhi, nilai transaksi tersebut menggambarkan besarnya perputaran ekonomi dari komoditas pala yang melibatkan petani pekebun, pedagang, pelaku usaha hingga rantai distribusi antardaerah.

Namun, capaian tersebut berlangsung di tengah tantangan musim kering berkepanjangan dan fenomena El Niño yang berdampak terhadap tanaman pala masyarakat. Kekeringan tidak hanya memengaruhi tanaman yang sudah produktif, tetapi juga tanaman pala remaja yang sedang memasuki fase belajar berbuah.

“Di beberapa wilayah, tanaman pala mengalami kekeringan yang cukup berat. Bahkan tanaman remaja yang sebenarnya sedang dipersiapkan memasuki masa produksi mengalami kondisi fatal akibat kekurangan air dan sebagian mengalami kematian.” ungkap Widhi.

Meski demikian, peluang pasar Pala Tomandin masih terbuka. Widhi menyebut permintaan terhadap fuli pala mengalami peningkatan yang ikut mendorong harga hingga sekitar Rp325 ribu per kilogram, bahkan berada di atas standar harga yang selama ini ditetapkan pemerintah daerah.

“Kita patut bersyukur dan tetap optimis. Harga yang meningkat, khususnya fuli pala, menunjukkan bahwa pasar memberikan apresiasi terhadap produk kita. Tetapi jangan sampai kenaikan harga membuat kita mengabaikan mutu.” tambahnya.

Selain produksi dan perdagangan, pengendalian peredaran bibit pala juga terus diperkuat. Hingga September 2026, tercatat sebanyak 35.296 pohon telah memperoleh sertifikasi peredaran bibit pala untuk memastikan bahan tanam yang beredar memenuhi ketentuan dan standar yang ditetapkan.

Widhi berharap petani, pedagang, pelaku usaha, pemerintah, MPIG-PTF, penangkar dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat kolaborasi, termasuk melalui pemeliharaan kebun, rehabilitasi tanaman terdampak serta peningkatan mutu produksi.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan Pala Tomandin sekaligus meningkatkan manfaat ekonominya bagi masyarakat dan daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....