Bijak Teknologi dan Didik Generasi Penerus Bangsa
- 18 Feb 2026 09:54 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang kian pesat, pemahaman tentang mandat Allah dan tanggung jawab manusia menjadi semakin relevan. Pesan inilah yang ditegaskan Pendeta Anton dalam pembinaan rohani yang disiarkan melalui Obrolan Mutiara Pagi RRI Entikong, Sabtu 14 Februari 2026.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan dengan tujuan yang jelas dan kapasitas yang telah diukur secara khusus. Tidak ada satu pun yang hadir di dunia ini tanpa makna.
“Tidak ada manusia yang diciptakan tanpa potensi Tuhan sudah mengukur kemampuan setiap orang, sehingga tidak ada alasan untuk merasa kurang atau membandingkan diri secara berlebihan,” kata Anton.
Ia menjelaskan, manusia memang diciptakan serupa dengan Allah, namun bukan berarti setara dengan-Nya. Keserupaan itu tercermin dalam kemampuan berpikir, memiliki kehendak, serta hati nurani, meski demikian, manusia tetaplah ciptaan yang terbatas dan sepenuhnya bergantung pada Sang Pencipta.
Dalam konteks kehidupan modern, Pendeta Anton mengingatkan bahwa relasi spiritual yang kuat dengan Tuhan menjadi fondasi utama membangun karakter dan integritas. Kesuksesan sejati, katanya, tidak hanya diukur dari materi atau jabatan, melainkan dari keselarasan hidup dengan kehendak Tuhan.
“Kesuksesan bukan hanya soal materi atau jabatan, tetapi bagaimana hidup berjalan seiring dengan kehendak Tuhan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi yang tak terelakkan. Menurutnya, teknologi pada dasarnya bersifat netral. dampak positif atau negatifnya sangat ditentukan oleh cara manusia menggunakannya.
“Gunakan teknologi untuk membangun, bukan merusak. Untuk mempererat relasi, bukan memecah belah,” katanya mengingatkan.
Selain itu, pendidikan generasi penerus menjadi perhatian utama. Ia menekankan pentingnya penanaman nilai moral dan spiritual sejak dini agar anak-anak mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Pendeta Anton menilai, anak-anak masa kini tumbuh di tengah arus informasi tanpa batas. Karena itu, peran keluarga, sekolah, dan gereja menjadi sangat strategis dalam membimbing serta membentuk karakter mereka.
“Anak-anak perlu pendampingan yang konsisten agar tetap memahami siapa diri mereka sebagai ciptaan Tuhan dan tidak terseret arus yang salah,” ucapnya.