Analogi Lembur 83 Tahun, Inilah Keutamaan Malam Lailatul Qadar
- 11 Mar 2026 13:26 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi fase paling istimewa dalam bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada periode inilah terdapat malam Lailatul Qadar, malam penuh kemuliaan yang disebut dalam Al-Qur’an memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan sekitar 83 tahun ibadah.
Keistimewaan malam tersebut menjadikan sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai momentum yang sangat berharga bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Banyak umat Muslim berupaya menghidupkan malam-malam ini dengan salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memperdalam zikir sebagai bentuk upaya meraih keberkahan Lailatul Qadar.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Meliau, Rahmadhani Adiyatma, menjelaskan bahwa keutamaan malam Lailatul Qadar merupakan kesempatan besar yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Ia menilai, kesempatan ini menjadi peluang yang sangat berharga untuk meraih pahala yang nilainya jauh melampaui ibadah di waktu-waktu biasa.
“Ada pepatah yang mengatakan Ramadan dzahaba nishfuhu wa nishfuhu dzahabun, yang bermakna Ramadan telah berlalu setengahnya dan setengah yang tersisa adalah emas, sepuluh hari terakhir ini adalah waktu yang sangat berharga karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan,” ungkap Rahmadhani dalam Obrolan Tauladan Pro 2 RRI Sanggau, Selasa, 10 Maret 2026.
Rahmadhani menjelaskan bahwa besarnya keutamaan malam tersebut sering kali sulit dibayangkan oleh sebagian masyarakat. Oleh karena itu, ia mengatakan para ulama kerap menggunakan berbagai analogi sederhana agar umat lebih mudah memahami nilai besar dari ibadah di malam Lailatul Qadar.
“Bayangkan jika seseorang diminta lembur satu malam, lalu dibayar setara dengan gaji selama 83 tahun. Tentu siapa pun akan bersemangat menerima kesempatan itu, karena nilainya sangat luar biasa,” ucapnya.
Ia menuturkan, analogi tersebut menggambarkan betapa besar kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, meskipun usia manusia pada masa sekarang relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu, Allah memberikan peluang luar biasa melalui malam Lailatul Qadar agar umat Islam tetap memiliki kesempatan meraih pahala yang sangat besar.
“Allah memberikan Lailatul Qadar sebagai anugerah luar biasa bagi umat Nabi Muhammad yang usianya relatif lebih pendek dibanding umat sebelumnya. Dengan satu malam ini, umat Islam memiliki kesempatan meraih pahala yang nilainya melampaui puluhan tahun ibadah,” jelasnya.
Rahmadhani menambahkan bahwa kehadiran Lailatul Qadar menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak menyia-nyiakan sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada malam-malam tersebut merupakan kesempatan langka yang tidak selalu datang dua kali dalam kehidupan seseorang.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan waktu yang tersisa di bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memohon ampunan kepada Allah SWT. Menurutnya, kesungguhan dalam memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dapat menjadi jalan bagi umat Islam untuk meraih keberkahan, ampunan, serta pahala yang berlipat ganda.