Nostalgia Kapal Feri Legendaris Masih Menyusuri Selat Madura
- 08 Jul 2026 06:15 WIB
- Sumenep
Poin Utama
- Kapal Feri Kamal–Ujung pernah menjadi urat nadi Madura
- Kapal Feri kini menjadi wisata nostalgia
- Masih bertahan dengan adanya Suramadu
- Kapal Legendaris KMP. Jokotole
RRI.CO.ID, Bangkalan – Sebelum hadirnya Jembatan Suramadu pada 2009, kapal feri lintasan Kamal–Ujung menjadi urat nadi utama mobilitas masyarakat Madura menuju Surabaya maupun sebaliknya. Bagi banyak orang, perjalanan menyeberangi Selat Madura bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari kenangan yang sulit dilupakan.
Namun, sejak diresmikannya Jembatan Suramadu, jumlah pengguna jasa penyeberangan menurun drastis. Armada kapal yang sebelumnya mencapai belasan unit perlahan dikurangi karena minimnya penumpang. Meski demikian, layanan feri tetap dipertahankan sebagai moda transportasi alternatif.


Kini, kapal feri Kamal–Ujung justru menghadirkan nuansa berbeda. Banyak masyarakat sengaja menaikinya untuk mengenang masa lalu, menikmati hembusan angin laut, serta menyaksikan panorama Selat Madura dari dek kapal.
Salah seorang penumpang, Fenny, asal Sumenep, memilih tidak melintasi Jembatan Suramadu saat menuju Surabaya. Ia sengaja menyeberangi Selat Madura menggunakan kapal feri Kamal–Ujung untuk mengenang masa-masa kuliah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), kampus negeri yang berada di Kecamatan Kamal, Bangkalan.
"Saya sudah belasan tahun tidak naik kapal feri. Kangen rasanya. Dulu waktu kuliah di UTM, saya sering naik kapal kalau hendak ke Surabaya," kenangnya.
Salah satu kapal yang masih lekat dalam ingatan masyarakat adalah KMP Jokotole. Kapal tersebut menjadi salah satu armada yang melayani lintasan Kamal–Ujung. Meski jumlah penumpangnya jauh berkurang dibandingkan masa kejayaannya, kapal itu tetap beroperasi dan menjadi simbol sejarah transportasi laut yang menghubungkan Madura dengan Pulau Jawa.


Bagi masyarakat Madura, kapal feri Kamal–Ujung bukan sekadar alat transportasi. Kapal ini menjadi saksi perjalanan para perantau, mahasiswa, pedagang, hingga keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan mobilitasnya pada jalur laut. Deru mesin kapal, bunyi peluit sebelum berlayar, dan pemandangan Surabaya dari tengah laut telah menjadi bagian dari memori.
Hingga kini, meski Jembatan Suramadu telah mengambil alih sebagian besar arus transportasi, keberadaan feri Kamal–Ujung tetap menyimpan nilai historis. Bagi sebagian masyarakat, perjalanan dengan kapal ini bukan hanya cara menyeberang, melainkan juga kesempatan untuk kembali mengenang masa ketika kapal feri menjadi satu-satunya penghubung utama antara Madura dan Surabaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....