Dampak Kemarau Panjang, Ratusan KK di Desa Galeh Sragen Krisis Air Bersih

  • 20 Jul 2026 16:23 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Dampak musim kemarau panjang mulai dirasakan secara signifikan oleh warga di Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen. Akibat tidak turunnya hujan selama lebih dari satu bulan, ratusan Kepala Keluarga (KK) di Desa Galeh kini dilaporkan tengah menghadapi krisis pasokan air bersih akibat mengering dan mendalamnya sumber mata air tanah di wilayah mereka.

Mengantisipasi kondisi yang semakin meluas, Pemerintah Desa (Pemdes) Galeh bergerak cepat berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Tangen untuk melayangkan permohonan dropping bantuan air bersih secara resmi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen.

Kepala Desa Galeh, Triyono, mengonfirmasi bahwa setidaknya ada sekitar 8 RT yang rawan kekeringan dengan rata-rata berpenduduk 60 hingga 80 KK per RT. Selain debit air sumur yang menyusut tajam, kualitas air tanah yang tersisa di wilayah terdampak tidak bisa dikonsumsi secara aman akibat tingginya kadar kapur.

"Untuk mencukupi kebutuhan masak dan minum harian, mayoritas warga selama ini terpaksa membeli air kiriman dari gunung seharga Rp4.000 hingga Rp5.000 per galon," katanya kepada rri.co.id Senin 20 Juli.

Pasca-adanya laporan kelangkaan air, bantuan armada air bersih kini mulai mengalir masuk ke lokasi secara berangsur-angsur. Pasokan bantuan tersebut datang dari berbagai pihak, baik melalui armada resmi pemerintah (BPBD), program CSR instansi, komunitas sosial, hingga organisasi partai politik.

Kendati pasokan bantuan air mulai terpenuhi, Pemdes Galeh mengaku saat ini menghadapi kendala krusial berupa minimnya fasilitas penampungan (tandon air) di titik-titik distribusi. Banyaknya bantuan yang datang secara tiba-tiba tanpa koordinasi berkala membuat pengelola di lapangan kesulitan menampung air secara optimal.

Guna menyiasati hal tersebut, pihak desa secara swadaya telah membuat kolam penampung darurat menggunakan lapisan terpal di 4 titik lokasi bencana. Kami berharap adanya bantuan tandon penampung tambahan untuk memaksimalkan retensi air bersih bagi warga yang bekerja di ladang," ucap Kades.

Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen telah mengalokasikan pasokan reguler sebanyak 500 tangki air bersih untuk disalurkan ke wilayah-wilayah terdampak. Warga yang membutuhkan bantuan diharapkan mengajukan permohonan secara resmi dan menyiapkan tandon air.

Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sragen, Ahmad Subekti mengungkapkan bahwa permohonan bantuan air bersih diajukan lewat Pemerintah Desa dan Kecamatan. Setelah itu dikirimkan kepada BPBD.

"Nanti petugas BPBD akan survey apakah lokasi benar-benar membutuhkan dan sudah menyiapkan tandon. Kalau belum ada tandon, warga diharapkan menyiapkan tandon darurat menggunakan terpal agar saat armada datang, air bisa langsung ditampung dan warga tidak perlu mengantre lama," kata Ahmad.

BPBD Kabupaten Sragen kini mulai mengirimkan bantuan air bersih kepada wilayah-wilayah terdampak kekeringan. "Sementara dari BPBD baru 12 tangki mas, informasi yang kami terima dari CSR hari Minggu kemarin enam tangki, besok tiga tangki, Selasa empat tangki. Jadi kalau sudah didropping CSR, dari BPBD nunggu selanjutnya," ujar Ahmad. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....