Unsoed dan WWF Gelar Pelatihan Identifikasi Spesies Laut Terancam

  • 17 Jul 2026 15:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Pusat Biodiversitas dan Maritim, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), bekerja sama dengan WWF Indonesia menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan Identifikasi Endangered Species bertema “Mengenal dan Melindungi Keanekaragaman Hayati Laut melalui Identifikasi Spesies Kunci” pada Selasa (14/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat LPPM Unsoed Lantai 2 ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Indonesia, dan Universitas Diponegoro.

Pelatihan menghadirkan Ratih R. Ayustina, Marine ETP Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia, sebagai narasumber utama. Materi yang disampaikan berfokus pada konservasi Marine Endangered, Threatened, and Protected (ETP) Species, yakni spesies laut yang terancam punah, mengalami tekanan populasi, dan/atau dilindungi. Kelompok spesies yang menjadi perhatian meliputi hiu paus, pari, penyu, mamalia laut, dan ikan karang yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed, Dr. rer. nat. Riyanti, S.T., M.Biotech., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan literasi dan keterampilan teknis di bidang konservasi keanekaragaman hayati laut.

“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami karakteristik spesies kunci, tetapi juga mampu mengolah dan menginterpretasikan data visual untuk mendukung kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati laut,” ujarnya.

Workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam mengenali dan mengidentifikasi spesies laut terancam, khususnya melalui metode Photo Identification (Photo ID) dan Baited Remote Underwater Video (BRUV). Kedua metode tersebut merupakan teknik pemantauan biota laut yang efektif, non-destruktif, serta mendukung kegiatan monitoring jangka panjang.

Dalam paparannya, Ratih menjelaskan bahwa spesies laut yang termasuk kategori Marine ETP menghadapi berbagai ancaman, seperti bycatch, pemanfaatan langsung, perdagangan ilegal, kejadian terdampar, pariwisata yang tidak bertanggung jawab, penangkapan berlebih, degradasi habitat, pencemaran, hingga perubahan iklim.

“Berbagai ancaman tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas identifikasi dan monitoring sebagai dasar pengambilan keputusan konservasi yang berbasis data,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, serta praktik teknis identifikasi spesies. Peserta mendapatkan materi mengenai status konservasi hiu, pari, penyu, dan ikan karang, dampak aktivitas manusia terhadap spesies laut, pelatihan identifikasi menggunakan Photo ID, serta pengenalan metode BRUV untuk pemantauan bawah air.

Melalui kegiatan ini, Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed bersama WWF Indonesia berharap peserta dapat berperan aktif dalam kegiatan pemantauan dan pelestarian keanekaragaman hayati laut. Kolaborasi tersebut juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat jejaring antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat dalam mendukung perlindungan spesies laut terancam secara berkelanjutan.

Penyelenggaraan workshop ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Jenderal Soedirman dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang konservasi laut. Dengan keterampilan identifikasi yang semakin baik, peserta diharapkan mampu berkontribusi dalam pengumpulan data, pemantauan populasi, serta perlindungan spesies kunci yang berperan penting bagi kesehatan ekosistem laut Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....