Sri Sultan Raih Anugerah Maestro Penggerak Inklusivitas 2026

  • 16 Jul 2026 16:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima Anugerah Kehormatan Maestro Penggerak Inklusivitas dalam ajang Jogja Brand and Business Award (JBBA) 2026. Ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Harian Jogja tersebut berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo pada Rabu, 15 Juli 2026.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Sri Sultan dalam mendorong pembangunan DIY yang inklusif, berbudaya, dan berkelanjutan. Mengusung tema Smartly Cultured, Sustainably Driven, JBBA 2026 mengangkat praktik bisnis dan organisasi yang mampu memadukan nilai budaya Yogyakarta dengan inovasi serta kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa falsafah Hamemayu Hayuning Bawana tetap relevan sebagai pedoman menghadapi perkembangan teknologi, termasuk di sektor keuangan digital. Menurutnya, setiap kemajuan harus memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas, bukan hanya menghasilkan keuntungan bagi segelintir pihak.

"Falsafah ini menuntun kita, bahwa setiap kemajuan, termasuk kemajuan teknologi keuangan, harus tunduk pada satu ukuran, apakah ia menyejahterakan sesama, ataukah hanya memperkaya sebagian. Dalam kerangka inilah, teknologi keuangan bukan sekadar alat efisiensi, melainkan proxy modern dari ungkapan Tuna Satak, Bathi Sanak," katanya.

Sri Sultan menjelaskan bahwa filosofi Tuna Satak, Bathi Sanak bukan sekadar konsep berdagang, melainkan cara membangun hubungan yang berkelanjutan dengan menempatkan kepercayaan di atas keuntungan semata.

"Sama halnya ketika sebuah aplikasi pembayaran memberi diskon ongkos kirim kepada pembeli baru, atau ketika platform digital memperluas jangkauan pelanggan bagi bakul kecil di pasar. Prinsipnya, sedikit kerugian di depan, demi ekosistem pelanggan yang berkelanjutan di kemudian hari. Bedanya hanya instrumen: dahulu senyum ramah dan potongan harga, kini algoritma dan QRIS," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penguatan inklusi keuangan perlu diiringi dengan pengembangan UMKM agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas. Menurutnya, DIY kini mengembangkan paradigma Local Value for Money dengan menjadikan UMKM sebagai pilar utama perekonomian daerah.

"UMKM DIY bukan pelengkap dalam ekosistem ekonomi daerah. Mereka adalah tulang punggungnya. Keunggulan mereka nyata, adaptabilitas produk lokal, konektivitas rantai pasok berbasis bahan baku daerah, serta kualitas yang lahir dari keahlian dan warisan budaya," katanya.

Ia menambahkan bahwa ekosistem digital SiBakul telah menjadi sarana yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, termasuk pasar pengadaan pemerintah. Platform tersebut diharapkan mampu memperkuat kolaborasi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha para perajin di berbagai wilayah DIY.

Menutup sambutannya, Sri Sultan mengajak dunia usaha untuk menjadikan kepercayaan masyarakat sebagai ukuran utama dalam menjalankan bisnis.

"Kepada para pemegang merek, pengelola lembaga keuangan, dan pemimpin korporasi yang hadir hari ini, saya titipkan pesan sederhana. Bangunlah bisnis dengan hati, sebagaimana nenek moyang membangun pasarnya. Sebab keuntungan yang sejati bukan hanya yang tercatat di neraca, tetapi yang tertanam dalam kepercayaan rakyat, dan yang mengalir kembali ke desa-desa penghasil produk lokal," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Harian Jogja Arif Budisusilo mengungkapkan bahwa tema JBBA 2026 dipilih untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur Hamemayu Hayuning Bawana sebagai pedoman dalam pembangunan dan dunia usaha.

"Artinya setiap kebijakan yang kita lahirkan, baik oleh para pemimpin birokrasi maupun perusahaan, dan setiap strategi bisnis yang dijalankan oleh korporasi, harus bermuara pada satu hal, yakni kesejahteraan dan ketentraman hidup rakyat, tanpa merusak alam tempat kita tinggal atau berpijak. Ketika institusi menjalankan Hamemayu Hayuning Bawana, masyarakat luas akan mendapatkan dampak positifnya," katanya.

Arif menilai bahwa modernisasi dan pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat. Melalui JBBA, Harian Jogja ingin mendorong lahirnya standar baru dalam mengukur keberhasilan pembangunan dan bisnis.

"Kami ingin mengubah standar, di mana kesuksesan bukan lagi dilihat dari banyaknya laba bersih atau kemegahan infrastruktur yang dibangun pemerintah. Sukses menjadi kemenangan sejati ketika beriringan dengan komitmen menjaga lingkungan, mendemokratisasikan ruang digital, melestarikan budaya, serta mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....