Kyai Horeg Bumi hingga Kyai Ngujiwat Dijamas di RRI Yogyakarta

  • 07 Jul 2026 14:13 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – LPP RRI Yogyakarta kembali menggelar kegiatan jamasan gamelan dan wayang kulit di halaman RRI Yogyakarta, Senin, 6 Juli 2026. Jamasan merupakan tradisi penyucian gamelan dan wayang kulit yang rutin dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada bulan Sura. Sejak masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwana IX atau tepatnya pada 1866, RRI Yogyakarta turut menyimpan belasan gamelan dan ratusan wayang kulit. Seluruhnya dalam kondisi terawat dan masih terus digunakan untuk mengiringi gelaran ketoprak ataupun pagelaran wayang.

Pada kegiatan jamasan kali ini, setidaknya ada 4 gong yang turut dijamas. Keempat gong itu bernama Kyai Horeg Bumi, Kyai Sadak Pengasih, Kyai Kuntul Wilanten, dan Kyai Ngujiwat. Ada pula gamelan jenis Kempyang dan Keprak yang ikut disucikan. Selain itu, terdapat 8 wayang kulit yang dijamas. Meliputi wayang Sanghyang Wenang, Batara Guru, Batara Wisnu, dan Puntadewa. Lalu, ada wayang Semar, Dewi Sri, wayang Macan, dan wayang Kayon.

Kepala Bagian Tata Usaha RRI Yogyakarta Nunuk Harianti menjelaskan gelaran jamasan ini bukan hanya sekedar momentum untuk membersihkan gamelan dan wayang kulit secara fisik. Namun, juga pembersihan secara spiritual sekaligus menjadi upaya melestarikan kebudayaan Jawa.

“RRI sebagai media publik mempunyai kewajiban untuk melestarikan budaya, apalagi budaya lokal yang saat ini memang menjadi tugas pokok kita. Jamasan juga sebagai penyambung sejarah antara kita sampai dengan nanti penerus budaya bangsa. Jadi, kita berkomitmen untuk menguatkan warisan budaya, menghidupkan budaya, dan tentu saja menjaga jati diri bangsa untuk generasi muda di masa yang akan datang,” kata Nunuk di RRI Yogyakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Sementara, Budayawan yang juga turut memimpin kegiatan jamasan, Kasidi menjelaskan prosesi jamasan diawali dengan pembakaran dupa dan atur panuwun atau pembacaan doa syukurs serta mohon keselamatan. Lalu dilanjutkan dengan penyiraman gamelan dengan menggunakan air bunga. Bunga digunakan sebagai simbol kesucian hati. Ada pula asam jawa yang digunakan pada prosesi jamasan sebagai bahan pembersih alami. Dia menambahkan, bulan Sura menjadi bulan yang baik untuk memanjatkan doa. Untuk itu, tradisi jamasan tak hanya bermaksud untuk membersihkan gamelan dan wayang kulit dari berbagai macam kotoran. Namun, juga sebagai momentum untuk memanjatkan doa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Ini menjadi upaya ngleluri budaya, atau melanjutkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan yang pernah diberikan, diwariskan kepada kita oleh para leluhur kita. Kalau bahasa lain edi peni dan adi luhung. Edi itu indah, adi luhung itu luhur. Jadi mengangkat harkat martabat siapa pun itu kan perlu,” ucap Kasidi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....