Moderasi Beragama Jadi Bekal Generasi Muda Hadapi Tantangan Era Digital
- 16 Jul 2026 14:03 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Perkembangan teknologi informasi membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain juga memunculkan tantangan berupa penyebaran ujaran kebencian, provokasi, hingga informasi yang memecah belah. Karena itu, generasi muda perlu memiliki pemahaman mengenai moderasi beragama agar mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Perwakilan Forum Persaudaraan Umat Beragama (FORSA) Banyumas, Budi Rohadi, mengatakan keberagaman merupakan keniscayaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menurutnya, setiap manusia memiliki keunikan sehingga perbedaan seharusnya dipandang sebagai kekuatan untuk saling melengkapi.
"Perbedaan itu bukan menjadi suatu penghalang, tetapi menjadi suatu kekuatan yang bisa untuk saling melengkapi dan akan tercipta keharmonisan," kata Budi dalam program SPADA Pro 2 RRI Purwokerto.
Ia menuturkan, masih banyak konflik yang muncul karena masyarakat belum saling mengenal. Padahal, dengan memahami latar belakang dan keyakinan orang lain, prasangka dapat diminimalkan sehingga kehidupan yang harmonis lebih mudah terwujud.
Senada, Anjar Wahyu Adi menilai moderasi beragama menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, generasi muda harus dibekali ruang belajar yang mampu memperkuat nilai-nilai toleransi melalui berbagai kegiatan positif.
"Kami sering mengadakan Sekolah Pancasila, Sekolah Keragaman, dan kegiatan yang melibatkan anak-anak muda agar mereka bisa saling mengenal dan saling menghargai," ujarnya.
Selain itu, Anjar menekankan pentingnya literasi digital untuk menangkal berbagai narasi negatif yang banyak beredar di media sosial. Anak muda didorong agar tidak mudah terprovokasi sekaligus mampu menghadirkan konten-konten yang membawa pesan damai. Menurut Budi, langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
"Kita harus menyaring dulu sebelum sharing. Kalau kontennya berpotensi memecah belah, jangan ikut menyebarkannya," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa toleransi bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama masing-masing. Justru setiap orang perlu menjalankan ajaran agamanya dengan baik, sekaligus menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.
Sementara itu, Anjar menilai keluarga, sekolah, kampus, hingga organisasi kepemudaan memiliki peran penting dalam membangun budaya toleransi sejak dini. Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui kebiasaan berdialog, bekerja sama, hingga menghargai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.
Budi berharap generasi muda dapat menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat. Menurutnya, memilih jalan damai bukan menunjukkan kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam menempatkan persaudaraan di atas ego pribadi.
"Mari memilih jalan damai bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cukup dewasa untuk memahami bahwa persaudaraan lebih berharga daripada kemenangan ego kita," pungkasnya. (Kartika)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....