Ustad Adi: Ketenangan Hati Lahir dari Iman dan Kepasrahan kepada Allah
- 15 Jul 2026 10:01 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ketenangan menjadi harapan setiap insan dalam menjalani kehidupan. Namun, ketenangan yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa sedikit masalah yang dihadapi, melainkan dari seberapa dekat seseorang kepada Allah SWT. Sebab, hati yang dipenuhi iman dan kepasrahan kepada-Nya akan tetap tenang meski berada di tengah ujian.
Hal itu disampaikan Sekretaris Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PERSIS) Jawa Timur, Ustad Nur Adi Septanto, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya bertajuk "Mereka Bisa Setenang Itu", Rabu 15 Juli 2026.
Dalam tausiyahnya, Ustad Adi menjelaskan bahwa frasa "Mereka Bisa Setenang Itu" dapat dipahami dari dua perspektif. Perspektif pertama merupakan ketenangan yang bernilai positif, yakni ketenangan yang dimiliki seseorang ketika kehidupannya berjalan baik maupun saat menghadapi berbagai ujian, musibah, dan persoalan hidup.
Menurutnya, ketenangan seperti itu bukan muncul karena seseorang terbebas dari masalah, melainkan karena hatinya dipenuhi keimanan dan tawakal kepada Allah SWT.
"Ketenangan yang sejati datang dari Allah SWT. Ketika seseorang memiliki iman dan kepasrahan kepada Allah, maka tidak ada kegelisahan yang menguasai jiwanya. Ia tetap berikhtiar, tetapi hatinya yakin bahwa semua yang Allah tetapkan adalah yang terbaik," ujar Ustad Adi.
Pernyataan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd ayat 28: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ketenangan hati merupakan karunia Allah bagi hamba-Nya yang senantiasa mengingat, beriman, dan berserah diri kepada-Nya.
Ustaf Adi menambahkan, terdapat perspektif kedua yang perlu menjadi renungan bersama. Tidak sedikit orang yang tampak tenang meski melakukan kejahatan, kezaliman, atau berbagai bentuk pelanggaran. Menurutnya, kondisi tersebut bukanlah ketenangan yang hakiki.
"Ada orang yang berbuat buruk tetapi terlihat tenang. Itu bukan berarti hatinya damai. Bisa jadi hatinya telah tertutup dari petunjuk Allah sehingga ia tidak lagi menganggap perbuatannya sebagai sebuah kesalahan," katanya.
Ia menjelaskan, ketika hati telah tertutup dari hidayah Allah, seseorang akan kehilangan kepekaan terhadap dosa dan kemaksiatan yang dilakukan. Kondisi tersebut sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya: "Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup. Bagi mereka azab yang besar." (QS. Al-Baqarah:7)
Lebih lanjut, Ustad Adi mengingatkan bahwa ketenangan yang dirasakan pelaku kezaliman hanyalah bersifat sementara. Pada akhirnya, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan-kegelapan pada hari kiamat." (HR. Bukhari No. 2447 dan Muslim No. 2578)
Menurutnya, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kezaliman tidak pernah menghadirkan ketenangan yang sesungguhnya. Sebaliknya, setiap perbuatan zalim akan membawa seseorang semakin jauh dari petunjuk Allah dan berujung pada penyesalan di akhirat.
Mengakhiri tausiyahnya, Ustad Adi mengajak umat Islam untuk senantiasa memperkuat keimanan, memperbanyak zikir, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta menumbuhkan sikap tawakal dalam setiap keadaan. Dengan demikian, hati akan tetap tenang, baik ketika memperoleh nikmat maupun saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.
"Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika hati tetap yakin kepada Allah dalam segala keadaan. Itulah ketenangan yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....