Bantuan Rp2 Miliar Batal, Griya Lansia Pilih Integritas
- 12 Jul 2026 18:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo – Pembatalan bantuan dana kemanusiaan senilai Rp2 miliar untuk Griya Lansia dan Griya Yatim di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, menjadi perhatian publik. Pengelola yayasan, Arief Camra, akhirnya buka suara terkait alasan di balik batalnya kerja sama dengan seorang donatur yang sebelumnya berkomitmen memberikan bantuan tersebut.
Menurut Arief Camra, komitmen bantuan awal yang disampaikan donatur mencapai Rp2 miliar, dengan pembagian masing-masing Rp1 miliar untuk Griya Lansia dan Rp1 miliar untuk Griya Yatim. Namun sebelum kerja sama dibatalkan, pihak donatur baru mentransfer dana sebesar Rp250 juta.
"Dari total komitmen Rp2 miliar itu, yang sudah masuk ke rekening yayasan sebesar Rp250 juta. Setelah terjadi pembatalan, saya diminta mengembalikan sisa dana yang belum digunakan," kata Arief saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu, 12 Juli 2026.
Arief menjelaskan, sebagian dana yang telah diterima digunakan untuk kesejahteraan karyawan Griya Lansia. Sebanyak 49 karyawan menerima bantuan masing-masing Rp2,5 juta atau total sekitar Rp122,5 juta. Dana tersebut, kata dia, tidak diminta kembali oleh pihak donatur.
"Yang tidak ditarik kembali adalah dana yang sudah dibagikan kepada karyawan Griya Lansia. Sedangkan sisanya diminta untuk dikembalikan. Total yang saya kembalikan sebesar Rp152.500.000," ujarnya.
Ia menegaskan seluruh proses penggunaan hingga pengembalian dana dilakukan secara terbuka. Menurutnya, transparansi penting dilakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Saya tidak menutup-nutupi apa pun. Semua penggunaan dan pengembalian dana saya sampaikan apa adanya kepada publik," tegasnya.
Arief mengungkapkan, perbedaan pandangan terkait penamaan fasilitas sosial menjadi salah satu faktor utama yang membuat kesepakatan bantuan tidak berlanjut. Ia menyebut pihak donatur mengusulkan penyematan nama tertentu pada fasilitas yang akan dibangun, termasuk masjid dan area pemakaman di lingkungan yayasan.
Menurut Arief, usulan tersebut tidak pernah dibahas maupun disepakati pada awal komunikasi bantuan. Karena itu, ia memilih mempertahankan identitas yayasan dan tidak melanjutkan kerja sama meskipun nilai bantuan yang ditawarkan cukup besar.
"Kalau sejak awal ada syarat seperti itu, tentu akan kami pertimbangkan dari awal. Yang menjadi persoalan adalah syarat tersebut muncul belakangan dan tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan awal," katanya.
Arief menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan bentuk apresiasi kepada donatur selama dilakukan secara proporsional. Namun ia menilai identitas utama lembaga sosial yang telah dibangun selama bertahun-tahun perlu tetap dijaga.
"Saya tidak keberatan jika nama donatur dicantumkan sebagai bentuk penghargaan. Tetapi kalau sampai mengubah identitas fasilitas sosial yang sudah ada, tentu kami harus mempertimbangkannya dengan matang," ujarnya.
Meski muncul berbagai respons dan perdebatan setelah pembatalan bantuan tersebut, Arief mengaku tetap berpegang pada prinsip yang diyakininya. Baginya, menjaga integritas serta misi sosial yayasan lebih penting daripada mempertahankan bantuan yang disertai syarat yang tidak sejalan dengan nilai-nilai lembaga yang dikelolanya.
"Saya hanya menyampaikan fakta yang terjadi. Yang terpenting bagi kami adalah menjaga amanah dan tujuan sosial yayasan agar tetap berjalan sesuai prinsip yang selama ini kami pegang," ucap Arief Camra.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....