Bendungan Jlantah Dongkrak Produksi Padi, Petani Bisa Panen Tiga Kali Setahun

  • 10 Jul 2026 20:17 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kehadiran Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar membawa harapan baru bagi petani yang selama ini kerap menghadapi kekurangan air saat musim kemarau. Infrastruktur sumber daya air tersebut kini memungkinkan lahan pertanian memperoleh pasokan air yang lebih stabil sehingga intensitas tanam dapat meningkat.

Koordinator Kelompok Petani Pemakai Air Desa Tlobo, Sugeng, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibanding sebelum bendungan dibangun. Pada masa lalu, petani hanya mampu menanam dua kali karena musim tanam ketiga sering gagal akibat kekurangan air.

"Kalau dulu sebelum ada bendung, petani hanya bisa dua musim tanam. Musim tanam ketiga tidak bisa panen karena kekurangan air. Setelah ada bendung ini, sekarang sudah bisa tiga musim tanam," ujarnya.

Menurut Sugeng, petani sebelumnya harus bergiliran mengatur distribusi air setiap pekan agar seluruh lahan tetap mendapatkan pasokan. Namun upaya tersebut belum mampu mengatasi krisis air yang rutin terjadi saat kemarau.

Saat ini kondisi tersebut mulai berubah karena aliran air tetap tersedia bahkan pada periode yang biasanya paling rawan kekeringan. Para petani pun memiliki kepastian yang lebih baik dalam merencanakan musim tanam dan meningkatkan hasil panen.

Sugeng menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan Balai Besar Wilayah Sungai yang telah merealisasikan pembangunan Bendungan Jlantah. Ia berharap pembangunan jaringan irigasi di bagian hilir juga segera dituntaskan agar manfaat bendungan dapat dirasakan lebih luas.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar karena apa yang menjadi harapan masyarakat akhirnya bisa terpenuhi," tuturnya.

Untuk diketahui, bendungan yang berada di Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, itu menjadi salah satu yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto secara daring pada Jumat 10 Juli 2026. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno hadir langsung di lokasi untuk mengikuti peresmian tersebut.

Menurut Sumarno, pembangunan Bendungan Jlantah merupakan bentuk dukungan pemerintah pusat dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air di Jawa Tengah. Manfaatnya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga pengendalian banjir dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.

Dari sisi pertanian, bendungan tersebut mampu mengairi sekitar 1.500 hektare lahan sawah yang sudah ada dan mendukung pengembangan 229 hektare lahan pertanian baru. Ketersediaan air yang lebih terjamin diyakini akan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Sumarno menjelaskan, pasokan air dari bendungan memungkinkan petani melakukan penanaman hingga tiga kali dalam setahun. Dengan rata-rata produksi enam ton gabah per hektare setiap musim tanam, Bendungan Jlantah diperkirakan mampu menopang produksi sekitar 27 ribu ton padi per tahun.

"Ini tentu akan meningkatkan kapasitas produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya," katanya.

Selain mendukung pertanian, Bendungan Jlantah juga akan menyediakan air baku bagi masyarakat dengan kapasitas sekitar 125 liter per detik. Ketersediaan air tersebut diharapkan mampu meningkatkan pelayanan air bersih dan memenuhi kebutuhan dasar warga.

Manfaat bendungan juga akan diperluas ke sektor energi melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga air. Dengan demikian, keberadaan Bendungan Jlantah tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan energi terbarukan.

Meski telah diresmikan, pemerintah masih perlu menyelesaikan pembangunan jaringan irigasi agar manfaat bendungan dapat dirasakan secara optimal. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengusulkan pembangunan jaringan tersebut melalui Instruksi Presiden.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....