Pemprov NTT Imbau Penggunaan LPG 50 Kg Diprioritaskan untuk Horeka

  • 09 Jul 2026 14:00 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Kupang - Pemerintah Nusa Tenggara Timur mengimbau agar penggunaan gas LPG ukuran 50 kilogram diprioritaskan untuk sektor hotel, restoran, kafe, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), dan usaha laundry. Imbauan ini disampaikan Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi NTT SelfI H. Nanga di Pro1 RRI Kupang, Kamis 9 Juli 2026, sebagai upaya menjaga ketersediaan LPG di tengah kelangkaan tabung ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram di masyarakat.

“Terkait dengan penggunaan Gas LPG, kita berharap gas LPG ukuran 50 kilogram hanya digunakan untuk hotel, restoran dan kafe atau Horeka, dapur MBG, dan juga laundry. Kenapa demikian? Karena kita mengalami kelangkaan itu, salah satu penyebabnya sehingga masyarakat tidak bisa membeli, ada kelangkaan di 5,5 kilogram dan 12 kilogram,” ujar Selfi.

Menurutnya, penggunaan LPG 50 kilogram di luar sektor yang telah ditetapkan dapat memperburuk distribusi gas bersubsidi dan nonsubsidi di pasaran. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada masyarakat yang membutuhkan LPG ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Pemerintah berharap pelaku usaha yang membutuhkan LPG dalam jumlah besar dapat mematuhi ketentuan penggunaan tabung 50 kilogram. Dengan demikian, distribusi LPG untuk rumah tangga dapat berjalan lebih lancar dan kelangkaan dapat diminimalkan.

“Itu himbauan dari pemerintah. Kami berharap penggunaan LPG 50 kilogram dilakukan sesuai peruntukannya agar pasokan untuk masyarakat tetap terjaga,” ujar Selfi.

Selain imbauan penggunaan LPG, masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan panic buying di tengah kondisi pasokan yang terbatas. Pembelian berlebihan dinilai dapat memperparah kelangkaan dan menghambat distribusi bagi masyarakat lain yang membutuhkan.

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pola hidup hemat dengan membeli kebutuhan secara bijak. Pembelian barang, termasuk LPG, diharapkan dilakukan sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan semata.

“Kami menghimbau jangan panic buying, lalu kemudian belajarlah hidup hemat dengan kondisi yang ada sekarang, dan juga membeli sesuai dengan kebutuhan dan bukan keinginan,” kata Selfy Nangge.

Dalam kesempatan yang sama, narasumber menyinggung tingginya harga komoditas cabai yang dinilai dapat menjadi peluang usaha bagi pelaku UMKM. Saat terjadi surplus produksi, cabai dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti saus dan produk olahan lainnya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai blessing in disguise karena dapat mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan inovasi produk. Dengan pengolahan yang tepat, cabai dapat menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang bisnis menjanjikan bagi UMKM.

“Dari komoditas cabai yang tinggi ini sebenarnya membuka peluang bagi pelaku usaha. Pada saat surplus, mereka bisa meningkatkan nilai tambah dengan membuat saus dan lain sebagainya, sehingga cabai dapat menjadi salah satu komoditas yang mempunyai peluang bisnis khususnya bagi pelaku usaha UMKM,” ujarnya, mengakhiri. (ST)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....