Seminar PGRI Banjarnegara Bahas Kepemimpinan Pembelajaran di Era AI

  • 09 Jul 2026 07:41 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara: Penguasaan teknologi digital menjadi kompetensi yang tidak lagi bisa ditawar bagi kepala sekolah maupun guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kemampuan memanfaatkan perangkat digital dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan kepemimpinan pembelajaran yang efektif di era digital.

Hal tersebut disampaikan Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. Nurcholis, saat menjadi narasumber Seminar Pendidikan bertema "Pengembangan Kepemimpinan Pembelajaran Digital" yang diikuti ratusan anggota PGRI Banjarnegara di Rumah Guru PGRI Banjarnegara, Rabu (8/7/2026).

Menurut Nurcholis, kepala sekolah dan guru minimal harus mampu mengoperasikan berbagai perangkat digital sebagai bagian dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab di dunia pendidikan. Kehadiran AI juga harus dimanfaatkan secara bijak sebagai alat bantu pembelajaran, bukan dijadikan sumber informasi tanpa verifikasi.

"Penguasaan perangkat digital oleh kepala sekolah dan guru adalah keniscayaan di era seperti sekarang ini. Ditambah dengan kemajuan AI, maka kepala sekolah dan guru harus memilah mana yang cocok menjadi alat bantu dalam melaksanakan tugas. Penggunaannya harus penuh tanggung jawab dan tetap divalidasi agar tidak termakan hoaks," tegasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi digital perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang baik. Dengan demikian, guru tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga dapat memastikan informasi yang digunakan dalam proses pembelajaran memiliki akurasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua PGRI Banjarnegara, Heling Suhono, mengatakan transformasi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Meski masih terdapat berbagai kendala di lapangan, seperti keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah, menurutnya proses adaptasi harus terus dilakukan secara bertahap.

"Kami tahu banyak tantangan di lapangan, termasuk ketersediaan jaringan. Namun semuanya harus dimulai dari hal kecil, dari satu aplikasi, dari satu jam pelajaran, hingga akhirnya menjadi budaya di sekolah," ujarnya.

Heling menegaskan, guru saat ini dituntut tidak hanya mampu mengajar di kelas, tetapi juga menguasai berbagai keterampilan digital, seperti membuat konten pembelajaran, mengelola kelas digital, memanfaatkan data dalam proses penilaian, serta membangun jejaring dengan komunitas profesional.

Ia juga mendorong para guru untuk terus meningkatkan kompetensi melalui berbagai pelatihan maupun studi lanjut agar mampu menjawab kebutuhan pendidikan yang terus berkembang.

"Guru harus terus meningkatkan kompetensi, termasuk melalui pelatihan dan studi lanjut. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menghadapi perubahan dan mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....