Waspada, Instalasi Listrik Lama dan LPG Jadi Ancaman Utama Kebakaran
- 08 Jul 2026 10:35 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Meningkatnya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat menjadi perhatian serius Forum Komunikasi (Forkom) Damkar Swasta Kalimantan Barat. Ketua Harian Forkom Damkar Swasta Kalbar, Eddy Zulkarnaen, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap kondisi instalasi listrik yang sudah tua, penggunaan peralatan listrik yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), hingga potensi kebocoran gas LPG.
Hal tersebut disampaikan Eddy dalam program Kentongan yang membahas tema "Pontianak Waspada Api: Mengatasi Risiko Kebakaran di Permukiman Padat", Selasa, 7 Juli 2026, yang dipandu Budiman Taher selaku Host.
Menurut Eddy, penyebab utama kebakaran di Kota Pontianak masih didominasi oleh faktor kelistrikan. Ia menilai perkembangan pembangunan rumah tidak selalu diikuti dengan pembaruan instalasi listrik yang sesuai standar.
"Yang paling utama adalah listrik. Kita lihat pembangunan begitu cepat, tapi tidak dibarengi dengan pembaruan instalasi listrik. Belum lagi kalau menggunakan peralatan listrik yang tidak SNI. Itu sangat berisiko ketika ada penambahan beban listrik," ujar Eddy.
Selain itu, Ia menegaskan, pihaknya tidak bermaksud menyalahkan penyedia listrik. Namun, kondisi pemadaman listrik yang terjadi dalam durasi cukup lama dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya korsleting pada instalasi listrik yang sudah tua.
"Berdasarkan pengalaman kami di lapangan, ketika listrik kembali menyala, arus yang masuk cukup besar. Instalasi listrik yang lama dan tidak sesuai standar sangat berisiko menerima lonjakan arus tersebut sehingga bisa memicu korsleting," katanya.
Eddy menyebut sebagian besar bangunan yang mengalami kebakaran merupakan bangunan berusia tua yang belum pernah dilakukan peremajaan instalasi listrik. Ia mencontohkan sejumlah kejadian kebakaran di kawasan Jalan Tanjungpura hingga Pasar Tengah yang didominasi bangunan lama.
"Rata-rata bangunan yang terbakar itu bangunan yang sudah cukup tua. Bisa jadi instalasi listriknya tidak pernah diperbarui. Ditambah lagi ada faktor tikus atau rayap yang merusak kabel sehingga memicu hubungan arus pendek," jelasnya.
Selain listrik, penggunaan gas LPG juga menjadi penyebab kebakaran yang cukup sering ditemukan di lapangan. Namun, menurut Eddy, masyarakat masih banyak memiliki pemahaman yang keliru dalam menangani kebocoran gas.
"Gas itu tidak langsung meledak kalau kita tahu cara penanganannya. Yang sering salah, api dari kompor disiram pakai air. Itu justru membuat api semakin membesar," ujarnya.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menutup sumber api menggunakan kain atau handuk basah agar suplai oksigen terhenti.
"Gunakan kain basah atau handuk basah untuk menutup api. Jangan langsung disiram air. Kalau gas bocor di dalam ruangan, jangan menyalakan lampu atau peralatan listrik. Buka pintu dan jendela agar sirkulasi udara berjalan," katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Eddy menyarankan setiap rumah memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR), terutama jenis foam yang dinilai efektif untuk menangani berbagai jenis kebakaran awal.
"APAR sangat perlu untuk penanggulangan awal. Yang bagus menggunakan foam karena efektif untuk beberapa klasifikasi kebakaran," ujarnya.
Selain kesiapsiagaan di rumah, Eddy juga mengingatkan pentingnya masyarakat memahami jalur evakuasi ketika berada di gedung maupun tempat umum.
"Kalau masuk bioskop, mal atau gedung, lihat dulu jalur evakuasinya. Masyarakat sering tidak memperhatikan hal seperti itu sampai akhirnya terjadi musibah," katanya.
Sedangkan dalam penanganan kebakaran, Eddy mengungkapkan petugas pemadam masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari akses jalan yang macet hingga minimnya sumber air di beberapa kawasan padat penduduk. Ia berharap pemerintah memperbanyak embung, hidran, serta menjaga saluran air agar tetap berfungsi saat terjadi kebakaran.
"Kami tidak bisa hanya mengandalkan air PDAM. Parit dan embung harus dipelihara. Kalau sumber air tidak ada, proses pemadaman tentu akan lebih sulit," ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyoroti masih banyaknya masyarakat yang memenuhi lokasi kebakaran sehingga menghambat akses mobil pemadam.
"Kadang masyarakat justru menutup akses jalan karena ingin menonton. Padahal itu menghambat petugas menuju lokasi," ujarnya.
Di akhir wawancara, Eddy menegaskan seluruh relawan pemadam kebakaran swasta bekerja berdasarkan panggilan kemanusiaan tanpa menerima gaji.
"Mereka bergabung karena panggilan hati nurani. Tidak digaji dan tidak bergaji. Ini murni pengabdian untuk membantu masyarakat ketika terjadi musibah," tuturnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati selama terjadi pemadaman listrik bergilir dengan memastikan seluruh instalasi listrik dalam kondisi aman demi mencegah kebakaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....