Memory Investing Tren Keuangan Baru Utamakan Pengalaman Bermakna Hidup
- 07 Jul 2026 21:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya- Generasi muda kini mulai mengadopsi pendekatan baru dalam mengelola keuangan yang dikenal sebagai memory investing. Berbeda dengan investasi konvensional yang berorientasi pada aset finansial, konsep ini menitikberatkan pada pengalokasian dana untuk menciptakan pengalaman hidup yang berkesan dan bernilai jangka panjang.
Dilansir dari laman popmama.com, konsep memory investing semakin mendapat perhatian setelah laporan “Sound Investments” yang dirilis Cash App pada Mei 2025 menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung memprioritaskan pengalaman seperti liburan, konser, maupun waktu berkualitas bersama keluarga dan sahabat dibanding sekadar membeli barang-barang konsumtif.
Head of Financial Wellness Jenius Bank, Julie Guntrip, menjelaskan bahwa memory investing merupakan cara membelanjakan uang secara sadar untuk pengalaman yang akan terus dikenang selama bertahun-tahun. Pendekatan ini tidak mengabaikan masa depan finansial, melainkan menyeimbangkan kebutuhan menabung dengan menikmati momen bermakna di masa kini.
Selain memberikan pengalaman yang berkesan, memory investing dinilai mampu meningkatkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama dibanding kepuasan dari kepemilikan barang. Aktivitas seperti berlibur bersama keluarga, merayakan pencapaian bersama sahabat, atau melakukan perjalanan sederhana juga dinilai dapat mempererat hubungan emosional.
Konsep ini juga membantu seseorang lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Dengan menyediakan anggaran khusus untuk pengalaman yang direncanakan, seseorang dapat menghindari pengeluaran impulsif sekaligus tetap menikmati hasil kerja kerasnya secara lebih bermakna.
Meski demikian, memory investing tetap memiliki risiko apabila tidak dikelola secara bijaksana. Pengeluaran yang berlebihan demi mengejar pengalaman dapat mengganggu kondisi keuangan, bahkan berpotensi menimbulkan utang apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Selain itu, tekanan media sosial juga dapat memicu fenomena fear of missing out (FOMO), sehingga seseorang terdorong mengikuti gaya hidup orang lain tanpa mempertimbangkan prioritas keuangan. Jika tidak seimbang, pengeluaran untuk pengalaman dapat mengurangi alokasi dana darurat, tabungan, maupun tujuan keuangan jangka panjang lainnya.
Untuk menerapkan memory investing secara sehat, para pakar menyarankan agar masyarakat menentukan pengalaman yang benar-benar bermakna, menyusun anggaran khusus, memulai dari aktivitas sederhana, menabung secara rutin, serta mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Dengan keseimbangan yang tepat, investasi kenangan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang tetap sehat sekaligus memberikan kebahagiaan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....