BPS Catat Ekspor Kalbar Mei 2026 Turun, Neraca Tetap Surplus

  • 06 Jul 2026 17:26 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ekspor Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat menurun cukup tajam, namun neraca perdagangan daerah masih mampu mencatat surplus positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat nilai ekspor Kalimantan Barat pada Mei 2026 sebesar 160,68 juta dolar Amerika Serikat atau turun 19,60 persen dibandingkan April 2026. Secara tahunan, ekspor juga mengalami penurunan sebesar 1,51 persen.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh Saichudin, di Pontianak, Senin 6 Juli 2026 mengatakan penurunan ekspor dipengaruhi melemahnya pengiriman sejumlah komoditas utama. "Secara bulanan, penurunan terjadi karena ekspor lemak dan minyak hewani maupun nabati mengalami penurunan, terutama komoditas gliserol mentah yang turun 40,04 persen, minyak kelapa mentah turun 60,36 persen, serta buah-buahan turun 41,98 persen," ujarnya.

Muh Saichudin menambahkan, secara tahunan penurunan ekspor juga dipicu berkurangnya pengiriman komoditas karet dan barang dari karet atau C20 sebesar 28,92 persen, ekspor kelapa tua yang turun hingga 82,55 persen, serta garam, belerang, kapur, dan pasir kuarsa yang menurun 39,83 persen.

Di tengah penurunan tersebut, Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Kalimantan Barat dengan nilai mencapai 78,17 juta dolar Amerika Serikat atau 49,27 persen dari total ekspor. Posisi berikutnya ditempati India dengan kontribusi 16,60 persen atau sekitar 26,68 juta dolar Amerika Serikat.

"Ekspor Kalimantan Barat masih didominasi sektor industri pengolahan dengan nilai mencapai 156 juta dolar Amerika Serikat atau 97,09 persen dari total ekspor. Komoditas utamanya meliputi alumina, asam lemak, dan produk C20," kata Muh Saichudin.

Sementara itu, nilai impor Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 99,52 juta dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut meningkat 19,10 persen dibandingkan April 2026 dan melonjak 145,55 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya.

Menurut Muh Saichudin, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar ke Kalimantan Barat dengan nilai 60,66 juta dolar Amerika Serikat atau 60,95 persen dari total impor. "Komoditas utama yang diimpor dari Tiongkok adalah ketel uap senilai 26,16 juta dolar Amerika Serikat. Selanjutnya Malaysia sebesar 22,27 juta dolar Amerika Serikat atau 22,38 persen yang didominasi komoditas tenaga listrik, disusul Singapura sebesar 5,57 persen," jelasnya.

Meski ekspor menurun dan impor meningkat, neraca perdagangan Kalimantan Barat pada Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar 61,16 juta dolar Amerika Serikat. Namun, surplus tersebut mengalami penurunan 46,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 50,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Surplus neraca perdagangan masih terjaga, meskipun nilainya mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan. Kondisi ini menunjukkan perdagangan luar negeri Kalimantan Barat masih berada di zona positif, namun tetap perlu diwaspadai karena beberapa komoditas ekspor utama mengalami pelemahan," pungkas Muh Saichudin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....