Mahasiswa Ilmu Komunikasi USM Suarakan Isu Sosial lewat Film Dokumenter
- 06 Jul 2026 13:07 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang– Suasana berbeda tampak di Gedung Menara Lantai 6 Universitas Semarang (USM), Jumat, 3 Juli 2026. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) USM tidak hanya duduk sebagai penonton, tetapi menjadi pembuat cerita yang mengangkat berbagai persoalan sosial melalui karya film dokumenter.
Lewat kegiatan Journalistic Documentary Screening (JDS) 2026, mahasiswa mempresentasikan hasil kerja lapangan mereka setelah berbulan-bulan melakukan riset, observasi, hingga proses pengambilan gambar di berbagai lokasi. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus evaluasi terhadap karya mahasiswa dari kelas Jurnalistik Audiovisual dan Videografi.
Dalam proses produksinya, mahasiswa tidak sekadar belajar teknik merekam gambar. Mereka turun langsung menemui narasumber, menyusun alur cerita, menggali data, hingga menangkap realitas yang selama ini jarang mendapat perhatian publik.
Tiga film dokumenter diputar dalam kegiatan tersebut. Film pertama, Tambak di Ujung Harapan, mengajak penonton melihat kehidupan masyarakat pesisir Tambaklorok yang harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan akibat rob dan abrasi. Melalui visual keseharian warga, mahasiswa mencoba menggambarkan bagaimana masyarakat tetap bertahan di tengah ancaman yang terus menggerus wilayah tempat tinggal mereka.
Film berikutnya, Panggung yang Kupilih, menghadirkan kisah seorang penari yang tetap mempertahankan kecintaannya terhadap seni tradisional di tengah perubahan zaman. Dokumenter ini memperlihatkan bahwa panggung bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan ruang perjuangan untuk menjaga identitas budaya agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Sementara itu, film Menjaga Denyut Rawa Pening mengangkat persoalan lingkungan yang dihadapi Danau Rawa Pening. Mahasiswa merekam upaya masyarakat dan berbagai pihak dalam menjaga ekosistem danau yang menghadapi ancaman pendangkalan, pencemaran, hingga pertumbuhan eceng gondok yang semakin masif, menampilkan bagaimana kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan salah satu danau terbesar di Jawa Tengah itu.

Ketiga film tersebut menunjukkan keberanian mahasiswa Ilmu Komunikasi USM mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan dokumenter, mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan sisi kemanusiaan di balik setiap persoalan.
Usai pemutaran film, peserta mengikuti sesi bedah karya bersama jurnalis senior Tempo Semarang sekaligus Video Journalist Reuters, Budi Purwanto, yang juga dikenal sebagai Director Paper Sinema. Pada kesempatan itu, Budi turut memutar dua film dokumenternya, Pasijah: The Untold Story dan Satu Tuhan Tiga Jalan, sebagai referensi bagi mahasiswa.
Dalam sesi diskusi, Budi memberikan berbagai masukan terkait proses riset, pembangunan alur cerita, teknik pengambilan gambar, hingga pentingnya menjaga sudut pandang jurnalistik dalam sebuah film dokumenter. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan mahasiswa, dosen, dan perwakilan media internal Universitas Semarang.
Dosen Pembimbing JDS 2026, Muhamad Nur Rohman, M.I.Kom., mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menguji hasil karya sekaligus memperoleh masukan langsung dari praktisi yang telah berpengalaman di bidang film dokumenter.
"Harapannya, mahasiswa Ilkom semakin mencintai dokumenter karena medium ini mampu menghadirkan informasi secara utuh. Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang sering kali terpotong-potong, film dokumenter justru mampu menghadirkan kisah nyata yang lebih mendalam dan sering luput dari perhatian media arus utama," ujarnya.
Menurut Rohman, tema-tema yang dipilih mahasiswa merupakan persoalan nyata yang ada di sekitar masyarakat. Karena itu, proses produksi dokumenter juga menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk belajar memahami realitas sosial secara langsung, bukan hanya melalui teori di ruang kelas.

Ketua Pelaksana JDS 2026, Patrick Bernardian, berharap kegiatan tersebut dapat terus menjadi agenda tahunan Program Studi Ilmu Komunikasi USM. "Saya berharap kegiatan ini terus dilanjutkan oleh adik-adik tingkat. JDS memberikan pengalaman yang sangat berharga karena kami tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk memproduksi karya yang memiliki nilai jurnalistik dan sosial," katanya.
Melalui Journalistic Documentary Screening 2026, Program Studi Ilmu Komunikasi USM ingin mendorong mahasiswa menghasilkan karya dokumenter yang tidak hanya memenuhi tugas akademik. Akan tetapi, juga mampu menjadi media edukasi, refleksi, dan penyampai berbagai isu sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....