Game Online Jadi Lahan Baru Penyebaran Radikalisme
- 18 Jun 2026 17:36 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Game online kini dijadikan ladang baru penyebaran radikalisme menyasar anak-anak. Jika tak diwaspadai, anak yang jadi kelompok rentan bisa tergelincir lebih jauh melakukan kekerasan hingga aksi teror berdampak bisa berhadapan dengan hukum.
Hal itu terungkap saat kegiatan Bacaaja Goes to School: Cegah IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) Kalangan Gen-Z di Ruang Digital, kerjasama Bacajaa - Soegijapranata Catholic University (SCU) - Dinas Pendidikan Provinsi Jateng dan Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror. Kegiatan digelar di Kampus SCU Bendan, Kota Semarang, Kamis 18 Juni 2026 dengan audiens siswa siswi SMA/SMK Kota Semarang dan mahasiswa setempat.
"Anak-anak adalah kelompok rentan, seringkali belum memahami dampak informasi yang diterima. Mereka rawan dipengaruhi pihak-pihak tertentu," kata Katim Semarang Raya Satgaswil Jateng Densus 88/AT, Iptu Yusuf.
Pihaknya saat ini menemukan pola bahwa game online dijadikan alat perekrutan kelompok radikal. Salah satu prosesnya, interaksi antar-pemain, kemudian diarahkan ke chat pribadi, komunikasi lewat aplikasi perpesanan lebih tertutup hingga di situ disisipkan berbagai doktrin kekerasan.
"Di Jawa Tengah kami menemukan pola seperti itu," ucapnya. Sepanjang tahun 2025, kata dia, ada sekira 22 anak di Jateng yang teridentifikasi terpapar kekerasan dari ruang digital. Tahun 2026, jumlahnya bertambah.
Dalam kesempatan yang sama, Psikolog SCU Christa Vidia Rana Abimanyu mengemukakan saat ini platform digital menggantikan ruang-ruang offline yang sebelumnya jadi sarana interaksi sosial. "Secara psikologis, orang terpapar tidak terjadi semalam, tetapi ada prosesnya, dari intoleran, radikalisme, ekstremisme hingga terorisme," ungkap Abi, sapaannya.
Dia mengiyakan Gen-Z rentan terpapar paham seperti itu di ruang digital. Game online hingga platform digital jadi sarananya. "Dijadikan eksploitasi taktis kelompok ini," ungkapnya.
Sementara, Wakil Rektor SCU, Gregorius Yoga Panji Asmara berargumen pencegahan tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan yang bersifat melarang. "Jauh lebih penting adalah membangun pola pikir yang sehat sehingga generasi muda mampu menilai sendiri informasi yang diterima," kata Gego, sapaannya.
Advokat sekaligus dokter ini menyebut ruang kelas jadi sarana efektif membangun kesadaran itu. "Sebagai pendidik, tugas kami bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, kami juga bertanggungjawab membentuk pribadi yang berkarakter kuat dan tidak mudah terjebak paham-paham tertentu," ujarnya.
Rektor SCU, Setiawan Aji Nugroho mengatakan, perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru. Hal inilah yang perlu dipahami oleh generasi muda.
Sementara, perwakilan Bacaaja, Prihati Puji Utami menyebut kegiatan pencegahan dan sosialisasi seperti ini kali kedua dilakukan di Kota Semarang melalui kerjasama positif yang dibangun. "Kami ingin beri pemahaman ke adik-adik pelajar bahwa IRET itu berbahaya," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....