Strategi Desa Serang Optimalkan Potensi Wisata Alam
- 03 Jul 2026 15:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purbalingga - Desa Serang yang terletak di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, berhasil mengubah statusnya dari desa miskin ekstrem menjadi desa mandiri melalui optimalisasi potensi wisata alam berkelanjutan. Kesuksesan yang dicapai melalui pengelolaan yang transparan dan pelibatan aktif masyarakat lokal ini diungkapkan Kepala Desa Serang, Sugito, S.E. pada Sabtu (27/6/2026).
Sugito mengungkapkan bahwa perjalanan membangun desa yang berada di lereng Gunung Slamet ini dimulai sejak tahun 2007. Pada masa awal kepemimpinannya, Desa Serang masuk ke dalam zona merah kemiskinan dan keterpencilan akibat aksesibilitas yang terbatas.
"Motivasi saya menjadi kepala desa memang saya kepengin merubah desa saya yang tadinya desa miskin atau desa zona merah dulu itu menjadi desa mandiri," ujar Sugito.
Transformasi tersebut diawali dengan pembentukan kelompok Agro Education Tourism dan tim outbound yang digerakkan oleh para pemuda setempat. Seiring meningkatnya tren wisata petik stroberi, pemerintah desa berinisiatif membangun fasilitas rest area pada tahun 2013.
Kawasan tersebut kini berkembang pesat menjadi destinasi wisata Lembah Asri Serang (D'Las) yang mampu mencatatkan angka kunjungan hingga 750.000 wisatawan per tahun sebelum masa pandemi. Sugito menegaskan bahwa kunci utama dalam menggerakkan partisipasi warga adalah keterbukaan dalam tata kelola anggaran.
Rasa percaya masyarakat yang terbangun dari transparansi finansial memudahkan implementasi berbagai program kerja desa. Saat ini, pengelolaan unit wisata di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) telah menyerap 85 tenaga kerja lokal serta menaungi 143 pelaku UMKM setempat.
Guna menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan dataran tinggi, Pemerintah Desa Serang menerapkan sistem perhutanan sosial. Melalui regulasi tersebut, masyarakat diarahkan untuk beralih dari tanaman sayuran semusim yang rentan memicu erosi ke tanaman keras yang bernilai ekonomi, seperti kopi, alpukat, dan jeruk.
Dalam waktu dekat, Desa Serang juga bersiap menyelenggarakan agenda tahunan Festival Gunung Slamet (FGS) ke-9 yang berlangsung pada 3-5 Juli. Event nasional yang didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga ini diproyeksikan menjadi pemantik roda perekonomian daerah melalui perputaran omset UMKM yang signifikan selama tiga hari pelaksanaan.
Mengakhiri penjelasannya, Sugito menegaskan bahwa kunci keberhasilan membangun kemandirian desa bukan terletak pada besarnya modal finansial, melainkan pada fokus, konsistensi, dan integritas dalam kepemimpinan. Ia mencontohkan Desa Wisata Serang yang berhasil berkembang hingga memiliki aset bernilai puluhan miliar rupiah meski dirintis dengan modal awal yang sangat terbatas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....