Inflasi Jakarta Terkendali meski Harga BBM Nonsubsidi dan Tiket Pesawat Naik
- 02 Jul 2026 16:30 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Inflasi DKI Jakarta pada Juni 2026 tetap terkendali meski terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tarif angkutan udara. Secara tahunan, inflasi ibu kota tercatat sebesar 2,78 persen (year on year/yoy), terendah di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen (yoy).
Berdasarkan data Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta, secara bulanan inflasi Jakarta mencapai 0,41 persen (month to month/mtm) pada Juni 2026, meningkat dibandingkan Mei yang sebesar 0,12 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang tercatat 0,44 persen (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan peningkatan inflasi terutama dipicu oleh kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 2,54 persen (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai 10 Juni 2026 serta meningkatnya tarif angkutan udara akibat tingginya permintaan perjalanan selama libur sekolah.
“Komoditas bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,29 persen, sementara kenaikan harga mobil dan telepon seluler turut memberi tekanan akibat meningkatnya biaya impor seiring pelemahan nilai tukar rupiah. Harga telepon seluler bahkan mencatat inflasi 4,01 persen (mtm), tertinggi dalam empat tahun terakhir,” kata Iwan, di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Iwan menjelaskan, tekanan inflasi juga terlihat pada kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan yang mengalami inflasi sebesar 0,53 persen (mtm), serta kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga yang mencatat inflasi 0,29 persen (mtm).
Di sisi lain, laju inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi yang didorong penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, pepaya, dan ikan kembung.
Menurut Iwan, penurunan harga daging ayam dan telur terjadi seiring melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi di tengah permintaan yang relatif stabil. Sementara itu, harga cabai rawit turun karena meningkatnya pasokan, terutama dari Jawa Barat, serta normalisasi permintaan setelah berakhirnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Namun, penurunan inflasi pangan tertahan oleh kenaikan harga wortel dan cabai merah akibat berkurangnya produktivitas yang dipengaruhi cuaca panas,” ujarnya.
Sepanjang Juni 2026, TPID DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Berbagai langkah ditempuh melalui penyelenggaraan pasar murah, Program Pangan Bersubsidi, penyaluran bantuan beras dan minyak goreng, pengembangan urban farming, pelatihan hilirisasi komoditas pangan, optimalisasi distribusi menggunakan truk keliling BUMD, hingga penguatan koordinasi penyusunan proyeksi kebutuhan pangan.
Ke depan, TPID DKI Jakarta mewaspadai sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi, baik dari faktor global maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik diperkirakan masih dapat memengaruhi harga energi dan nilai tukar. Sementara dari dalam negeri, potensi El Ninoyang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026 berisiko mengganggu produksi pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....