Senapan Mesin Dikerahkan, Tetapi Burung Emu Tetap Bertahan (Bagian 2)

  • 30 Jun 2026 21:05 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Operasi militer dimulai pada November 1932 di bawah komando Mayor Gwynydd Purves Wynne-Aubrey Meredith dari Royal Australian Artillery. Ia memimpin dua personel lain yang dipersenjatai dua senapan mesin Lewis dan 10.000 butir peluru.

Operasi semula dijadwalkan dimulai pada Oktober, tetapi hujan menyebabkan kawanan emu berpencar sehingga pengerahan pasukan ditunda. Setelah hujan berhenti pada 2 November, pasukan bergerak ke Campion untuk membantu para petani.

Sekitar 50 burung emu terlihat pada hari pertama operasi. Namun, kawanan burung berada di luar jangkauan senjata sehingga para petani berusaha menggiring mereka ke dalam jebakan. Upaya itu tidak berjalan sesuai rencana karena burung-burung tersebut berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga sulit dijadikan sasaran.

Pada 4 November, pasukan menyiapkan penyergapan di dekat sebuah bendungan setelah melihat lebih dari 1.000 burung emu mendekati lokasi. Para penembak menunggu hingga kawanan burung berada dalam jarak dekat sebelum melepaskan tembakan. Namun, senapan mesin macet setelah sekitar 12 burung tertembak. Kawanan emu kemudian berpencar sebelum lebih banyak burung dapat ditembak.

Dalam beberapa hari berikutnya, Meredith memindahkan operasi ke wilayah yang lebih selatan setelah mendapat laporan bahwa burung-burung di sana lebih jinak. Meski demikian, hasil yang diperoleh tetap terbatas.

Pada hari keempat operasi, para pengamat militer mencatat bahwa setiap kawanan emu tampaknya memiliki seekor burung pemimpin yang terus mengawasi keadaan dan memberi peringatan ketika pasukan mendekat.

Meredith juga sempat memasang salah satu senapan mesin di atas sebuah truk. Namun, cara itu tidak efektif karena kendaraan tidak mampu mengejar burung emu, sementara guncangan di jalan membuat penembak kesulitan melepaskan tembakan.

Hingga 8 November, sekitar 2.500 butir peluru telah ditembakkan. Artikel tersebut menyebut jumlah burung emu yang mati masih diperdebatkan. Ada sumber yang memperkirakan sekitar 50 ekor, sementara sumber lain menyebut antara 200 hingga 500 ekor.

Dalam laporan resminya, Meredith menyatakan tidak ada korban di pihak pasukan, "kecuali harga diri mereka."

Setelah mendapat sorotan negatif dari media lokal yang melaporkan hanya sedikit burung emu yang berhasil dibunuh, pemerintah menarik personel militer dan senapan mesin pada 8 November.

Setelah operasi dihentikan, Meredith membandingkan burung emu dengan prajurit Zulu. Ia mengatakan, jika Australia memiliki satu divisi militer dengan kemampuan membawa peluru seperti burung-burung itu, pasukan tersebut dapat menghadapi tentara mana pun di dunia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....