Kementan Gandeng UGM Hilirisasi Riset Demi Swasembada Pangan
- 30 Jun 2026 16:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, mengajak Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kolaborasi dalam hilirisasi hasil riset untuk mendukung terwujudnya swasembada dan kedaulatan pangan nasional. Ajakan tersebut disampaikan saat menerima delegasi UGM yang dipimpin Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., bersama jajaran pimpinan universitas, fakultas, dosen, dan mahasiswa di kediamannya di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Amran menilai berbagai inovasi yang dikembangkan UGM memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam pembangunan sektor pertanian nasional. Menurutnya, hilirisasi hasil penelitian menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas impor sekaligus meningkatkan daya saing pertanian Indonesia.
"Banyak dari hasil karya UGM yang dapat diterapkan untuk sektor pertanian Indonesia," ujarnya.
Ia mengungkapkan, nilai ekspor sektor pertanian saat ini mencapai sekitar Rp760 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran. Di sisi lain, nilai impor sektor pertanian juga berhasil ditekan sekitar Rp41 triliun, meski peluang untuk menggantikan komoditas impor dengan produk dalam negeri masih terbuka lebar.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah dan UGM membahas pengembangan sekitar enam komoditas strategis dengan nilai kerja sama mencapai Rp40 miliar yang akan dihibahkan kepada UGM. Sejumlah program yang dibahas meliputi pengembangan kedelai, bawang putih, pakan ternak, pupuk berbahan batu bara, hingga inovasi sapi perah hasil penelitian UGM.
Amran menjelaskan, varietas kedelai hasil pengembangan UGM memiliki sejumlah keunggulan karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) serta berukuran lebih besar dibandingkan kedelai impor. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi peluang besar untuk memperkuat pemanfaatan benih lokal.
Pemerintah pun berencana mendukung uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000 hingga 2.000 hektare yang direncanakan berada di wilayah Jawa Tengah.
"Kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, kenapa kita harus beli dari luar?" katanya.
Ia menegaskan, pemerintah ingin memastikan hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti sebatas penandatanganan nota kesepahaman, tetapi benar-benar diimplementasikan di lapangan. Menurutnya, percepatan pembangunan pertanian hanya dapat terwujud melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, mengatakan pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah terjalin sebelumnya antara UGM dan Kementerian Pertanian.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Menurut Danang, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras juga harus diiringi dengan penguatan kemandirian benih melalui pengembangan varietas unggul yang dihasilkan perguruan tinggi.
"Salah satu faktornya adalah bagaimana kita memiliki kedaulatan benih. Kampus menghasilkan varietas, khususnya padi Gamagora, untuk bisa diserap oleh pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan tersebut," ujarnya.
Danang berharap hasil riset UGM, baik di bidang padi maupun komoditas strategis lainnya, dapat dimanfaatkan lebih luas dalam berbagai program pemerintah. Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap inovasi perguruan tinggi akan mempercepat pemanfaatan hasil penelitian dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, khususnya di sektor pangan.
“Kerja sama ini juga yang kami tunggu-tunggu sebenarnya, bagaimana keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan keberpihakan terhadap kampus sehingga warisan dan hasil riset kampus bisa diserap oleh pemerintah,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....