Homeschooling Jadi Alternatif Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus
- 30 Jun 2026 12:44 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Homeschooling dinilai dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus karena menawarkan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Hal tersebut disampaikan Pendiri Homeschooling Bintang Harapan Bandung, Prihatini, saat menjadi pembicara dalam Indonesia Autism Summit (INAS) 2026, Sabtu, 13 Juni 2026, di Batam.
Dalam paparannya, Prihatini menjelaskan bahwa masih banyak anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama bagi orang tua, pendidik, maupun pemerintah untuk menghadirkan berbagai pilihan layanan pendidikan yang mampu mengakomodasi karakteristik setiap anak.
Ia mengatakan homeschooling hadir bukan untuk menggantikan sekolah formal maupun sekolah luar biasa, melainkan menjadi salah satu solusi bagi keluarga yang membutuhkan sistem belajar yang lebih fleksibel. Menurutnya, setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda sehingga pendekatan pendidikan juga tidak bisa diseragamkan.
"Salah satu solusi selain ada SLB dan sekolah inklusi adalah homeschooling. Kenapa homeschooling menjadi salah satu solusi buat anak-anak berkebutuhan khusus? Karena homeschooling itu fleksibel," ujar Prihatini.
Fleksibilitas tersebut, lanjutnya, terlihat dari pengaturan waktu belajar, durasi pembelajaran, hingga metode yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Di Homeschooling Bintang Harapan, proses belajar tidak selalu berlangsung seperti sekolah reguler. Anak dapat belajar secara individual, menggunakan berbagai pendekatan multisensori, hingga memperoleh jadwal terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Prihatini juga menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi sekolah inklusi, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik, penyusunan materi pembelajaran yang berbeda untuk setiap kebutuhan anak, hingga minimnya fasilitas pendukung. Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata karena kurangnya kepedulian guru, tetapi juga karena besarnya beban yang harus ditangani dalam satu kelas dengan jumlah siswa yang banyak.
Ia menambahkan, lingkungan belajar yang kondusif menjadi salah satu keunggulan homeschooling. Di lembaga yang dipimpinnya, anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak tipikal sehingga terbentuk budaya saling menerima tanpa adanya perundungan. Situasi tersebut dinilai mampu membantu perkembangan sosial sekaligus meningkatkan rasa percaya diri peserta didik.
"Homeschooling bukan sekadar alternatif bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi ini mungkin menjadi jalan yang terbaik agar setiap anak dapat tumbuh, belajar, berkarya, dan berkontribusi dalam dunia nyata," kata Prihatini.
Melalui Indonesia Autism Summit 2026, Prihatini berharap semakin banyak pihak memahami bahwa tidak ada satu model pendidikan yang paling tepat untuk semua anak. Yang terpenting, menurutnya, setiap anak memperoleh kesempatan belajar sesuai potensinya sehingga mampu berkembang, mandiri, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....