Makna Batawakalan dan Bacucubaan, Nilai Tauhid dalam Kearifan Lokal Banjar
- 29 Jun 2026 16:13 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Istilah batawakalan dan bacucubaan merupakan ungkapan yang akrab dalam kehidupan masyarakat Banjar. Di balik kesederhanaannya, kedua istilah tersebut mengandung makna keislaman yang mendalam tentang tauhid, ikhtiar, dan keteguhan mental dalam menghadapi kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustaz H. Ibnu Arabi, S.Ag., M.Fil.I., dalam acara Kuliah Subuh di RRI Pro1 Banjarmasin, Senin, 29 Juni 2026. Menurutnya, batawakalan menggambarkan sikap seseorang yang memulai usaha dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt. setelah melakukan ikhtiar.
| Baca juga: Doa Tulus untuk Sesama Datangkan Keberkahan |
“Seseorang yang berkata, ‘Aku batawakalan haja nah mambuka usaha ini,’ menunjukkan kesadaran bahwa kemampuan manusia terbatas,” ujarnya. “Namun, ia yakin Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang mau berusaha.”
Ustaz Ibnu menjelaskan, dalam syariat Islam, batawakalan merupakan perwujudan sifat tawakal. Tawakal bukan berarti berpangku tangan tanpa usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah ketika seseorang telah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin.
“Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 3 bahwa barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya,” kata Ustaz Ibnu. “Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan mengatur segala urusan hamba-Nya yang bertawakal kepada-Nya.”
Ia menambahkan, tafsir yang disampaikan Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata hasbuhu berarti Allah akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya. Jaminan tersebut diberikan kepada orang yang telah berusaha sesuai kemampuannya, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.
“Allah akan mengambil alih segala urusannya. Dengan cara yang sering kali tidak masuk dalam hitungan matematika manusia,” ujar Ustaz Ibnu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....