Guru Didorong Memanfaatkan Teknologi untuk Mendukung Pembelajaran Anak Berkebu

  • 29 Jun 2026 05:32 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Guru memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan teknologi sederhana yang mudah diakses di lingkungan sekolah.

Hal tersebut disampaikan Dosen dan Kepala Program Studi Sistem Informasi Institut Teknologi Batam (ITEBA), Alvendo Wahyu Aranski, saat memberikan materi mengenai teknologi pendukung bagi anak dengan kesulitan belajar di sekolah. Menurutnya, guru tidak harus menggunakan perangkat mahal untuk membantu proses pembelajaran.

Ia menjelaskan berbagai aplikasi yang sudah tersedia pada perangkat sehari-hari, seperti Microsoft Word maupun Google Docs, telah memiliki fitur pengubah suara menjadi teks yang dapat dimanfaatkan untuk melatih kemampuan membaca dan menulis anak.

"Bapak Ibu tidak perlu memikirkan aplikasi apa yang bagus. Semua aplikasi bagus tergantung kita mau pakai yang mana. Microsoft Word sudah punya fitur itu. Anak bisa berbicara lalu melihat apa yang dia ucapkan berubah menjadi tulisan," katanya.

Selain memanfaatkan teknologi digital, Alvendo juga mendorong guru mengombinasikannya dengan media belajar sederhana seperti kartu bergambar, permainan menyusun huruf, buku audio, maupun aktivitas mencari kata yang disembunyikan di dalam kelas. Menurutnya, pendekatan belajar yang dikemas seperti permainan akan membuat anak lebih antusias.

Ia mengatakan banyak anak sebenarnya mampu membaca, tetapi belum memahami isi bacaan. Kondisi tersebut sering ditemui terutama pada anak yang menjalani proses belajar pada masa pandemi Covid-19, ketika penggunaan gawai meningkat tanpa pendampingan yang memadai.

Karena itu, guru diharapkan tidak hanya menilai kemampuan membaca dari kelancaran melafalkan kata, tetapi juga memastikan anak memahami makna dari materi yang dibacanya.

Menurut Alvendo, sekolah juga perlu mulai menerima keberagaman karakter belajar siswa. Anak yang memiliki kesulitan belajar bukan berarti tidak mampu mengikuti pendidikan, melainkan membutuhkan metode yang berbeda dibandingkan teman-temannya.

"Anak ini cara belajarnya beda-beda. Ada yang disleksia, ada yang disgrafia, ada yang diskalkulia, ada juga yang sulit konsentrasi. Proses inilah yang sering menjadi tantangan besar bagi guru maupun orang tua," ujarnya.

Ia berharap pemanfaatan teknologi di sekolah semakin berkembang sehingga setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara sesuai kebutuhan masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....