Teknologi Dinilai Mampu Membantu Anak dengan Kesulitan Belajar, Bukan Menjadi Anc

  • 29 Jun 2026 09:56 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan dinilai dapat menjadi solusi bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di sekolah. Selama digunakan secara tepat dan didampingi oleh guru maupun orang tua, teknologi justru mampu membantu anak memahami materi sesuai dengan kebutuhan belajarnya.

Pandangan tersebut disampaikan Dosen dan Kepala Program Studi Sistem Informasi Institut Teknologi Batam (ITEBA), Alvendo Wahyu Aranski, dalam pemaparan materi bertajuk Teknologi Pendukung bagi Anak dengan Kesulitan Belajar di Sekolah di Indonesia Autism Summit (INAS) 2026 di Hotel Harmoni One Batam. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu yang dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan.

Alvendo mengatakan setiap anak memiliki karakteristik belajar yang berbeda. Karena itu, pendekatan pembelajaran juga tidak bisa disamaratakan. Anak yang mengalami disleksia, disgrafia, diskalkulia, maupun gangguan konsentrasi membutuhkan metode yang lebih adaptif agar mampu mengikuti proses belajar secara optimal.

"Kita harus paham teknologi itu jangan dianggap sebagai musuh. Bagaimana tidak, kalau Bapak Ibu menganggap teknologi ini musuh, TV ini, mic ini tidak akan saya gunakan. Handphone yang kita punya tidak akan mungkin kita pakai untuk nge-live, untuk promosi, untuk berjualan," ujarnya.

Ia menjelaskan saat ini berbagai perangkat dan aplikasi telah menyediakan fitur yang dapat membantu proses belajar anak. Salah satunya adalah fitur speech to text yang memungkinkan ucapan anak langsung berubah menjadi tulisan sehingga dapat membantu mereka yang mengalami kesulitan membaca maupun menulis.

Menurut Alvendo, teknologi juga dapat dikombinasikan dengan metode pembelajaran sederhana seperti permainan kartu bergambar, buku audio, hingga aktivitas menyusun kata berdasarkan warna. Pendekatan tersebut membuat anak belajar melalui aktivitas yang menyenangkan tanpa merasa sedang dipaksa belajar.

Ia menilai tantangan terbesar bukan terletak pada perkembangan teknologi, melainkan bagaimana orang dewasa mengelola penggunaannya. Anak tetap memerlukan pendampingan agar teknologi menjadi sarana belajar, bukan sekadar hiburan.

"Teknologi itu bukan pengganti untuk interaksi kita dengan manusia. Semua alat pendukung. Jangan ada yang merasa teknologi itu, ya sudah saya kasih handphone yang mahal, saya kasih tablet yang mahal, ya sudah kamu bermain dengan itu. Tidak. Boleh, tapi tetap harus didampingi," tegasnya.

Alvendo berharap guru dan orang tua mulai membangun cara pandang baru terhadap teknologi. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar untuk berkembang sesuai potensi yang mereka miliki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....