AMSI: Literasi Digital Jadi Benteng Lawan Ekstremisme
- 29 Jun 2026 07:02 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pengamat Media AMSI, Dr. I Nengah Muliartha, S.Si., M.Si., kepada RRI.CO.ID, Senin, 21 Juni 2026 menilai ancaman ekstremisme di ruang digital terhadap anak dan remaja semakin kompleks karena berlangsung secara halus, terstruktur, serta memanfaatkan kerentanan psikologis generasi muda. Menurutnya, anak-anak dan remaja berada pada fase pencarian jati diri sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, mereka belum memiliki kematangan berpikir yang cukup untuk menyaring informasi yang diterima dari media digital.
"Proses radikalisme digital pada generasi muda saat ini sering terjadi secara halus, tetapi terstruktur dan memanfaatkan kerentanan psikologis mereka. Anak-anak dan remaja berada dalam fase pencarian jati diri sehingga mudah terpengaruh," ujarnya.
Ia menjelaskan, algoritma media sosial turut memperkuat penyebaran konten yang memiliki muatan serupa dengan apa yang sering diakses pengguna. Kondisi tersebut membuat remaja terus menerima informasi yang sejenis hingga menganggap pandangan ekstrem sebagai sesuatu yang benar.
Menurutnya, narasi kekerasan saat ini juga banyak dikemas dalam bentuk yang dianggap menarik oleh kalangan remaja, seperti video pendek, meme, hingga percakapan di platform gim daring. "Konten-konten tersebut sering dibungkus sebagai budaya populer sehingga terlihat keren bagi remaja. Padahal, itu bisa menjadi pintu masuk doktrin ekstremisme," ungkapnya.
Selain itu, kelompok penyebar paham ekstrem juga kerap menawarkan rasa memiliki (sense of belonging) dan jawaban instan atas berbagai persoalan yang dialami remaja. Hal itu membuat mereka lebih mudah menerima ideologi yang sebenarnya berbahaya.
Karena itu, Muliartha menegaskan peran orang tua menjadi benteng pertama dalam mencegah penyebaran ekstremisme digital. Salah satunya dengan mengawasi penggunaan gawai anak serta membangun komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga.
"Orang tua harus menjadi tempat pertama yang aman bagi anak untuk berdiskusi tentang apa pun. Jangan sampai anak justru mencari jawaban di media sosial yang belum tentu benar," katanya.
Ia juga menilai pemblokiran situs semata tidak cukup mengatasi persoalan tersebut. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui penguatan literasi digital, pola asuh digital, serta kemampuan berpikir kritis dalam memilah informasi.
"Literasi digital bukan hanya soal mampu menggunakan gawai, tetapi bagaimana seseorang mampu menganalisis informasi secara kritis dan membedakan antara kebebasan berpendapat dengan ujaran kebencian," jelasnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya membatasi waktu penggunaan gawai pada anak dan remaja serta mewaspadai perubahan perilaku yang muncul, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, menghabiskan waktu berlebihan di dunia maya, atau menunjukkan perubahan cara berbahasa secara drastis. Muliartha mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif menghadirkan konten positif di ruang digital sebagai upaya melawan penyebaran ekstremisme.
"Melawan kekerasan tidak selalu dilakukan dengan cara yang keras. Kita harus memenuhi ruang digital dengan konten yang membangun toleransi, empati, serta nilai-nilai kebangsaan. Semua pihak memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang digital yang sehat bagi generasi muda," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....