Agronomis Dorong Stabilitas Harga Kakao Bali

  • 29 Jun 2026 07:59 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tingginya potensi komoditas kakao dinilai belum sepenuhnya berdampak optimal terhadap kesejahteraan petani. Fluktuasi harga yang masih dipengaruhi tengkulak menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Agronomis PT Bali Coklat Junglegold Bali, Awe Karan, kepada RRI.CO.ID, Kamis, 18 Juni 2026 mengatakan kakao memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan. Namun, petani masih menghadapi persoalan dalam memperoleh harga jual yang adil.

"Harapan ke depannya kakao bisa menjadi salah satu komoditas yang membuat petani sejahtera. Kakao tergolong cukup mudah dirawat. Kami juga berharap keterlibatan pemerintah bisa lebih dalam masuk ke sektor pertanian kakao," ujarnya.

Menurut Awe, salah satu persoalan yang masih sering ditemui adalah praktik tengkulak yang mengambil margin keuntungan terlalu besar sehingga harga di tingkat petani kerap berfluktuasi. "Banyak informasi yang masuk ke saya, tengkulak sering mempermainkan harga sehingga petani tidak bisa mendapatkan harga dengan baik," ungkapnya.

Ia menjelaskan persoalan harga tidak hanya disebabkan oleh rantai pemasaran, tetapi juga dipengaruhi kualitas hasil panen. Masih banyak petani yang belum memahami cara memilih dan menyortir biji kakao sesuai standar sehingga nilai jualnya menjadi lebih rendah.

"Sebenarnya ada dua faktor. Pertama, petani belum paham bagaimana memilih biji yang bagus dan menyortirnya. Kedua, tengkulaknya yang mencari margin sebesar-besarnya dalam pembelian biji," jelasnya.

Berbeda dengan sistem tersebut, Awe mengatakan perusahaan tempatnya bekerja menerapkan pembelian langsung dari petani tanpa perantara. Dalam mekanisme itu, petani diberikan ruang untuk menentukan harga sesuai kualitas hasil panennya.

"Kalau di tempat saya kerja, kami membeli langsung dari petani. Bukan kami yang menentukan harga, tetapi petaninya yang menawarkan harga, kemudian kami membeli sesuai harga tersebut," katanya.

Ia menilai semakin banyak petani memperoleh akses terhadap teknologi budidaya, pascapanen, dan informasi pasar, maka posisi tawar mereka akan semakin kuat. Dengan demikian, petani tidak lagi hanya mengikuti harga yang ditentukan oleh tengkulak, tetapi mampu menawarkan harga berdasarkan kualitas biji kakao yang dihasilkan.

Awe berharap penguatan pendampingan kepada petani terus dilakukan agar kakao mampu menjadi salah satu komoditas unggulan yang memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Bali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....