Produktivitas Kakao Bali Meningkat Berkat Teknologi dan Klon Unggul

  • 29 Jun 2026 08:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Produktivitas tanaman kakao di Bali menunjukkan tren peningkatan seiring semakin luasnya penerapan teknologi budidaya dan penggunaan klon unggul oleh para petani. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan sektor perkebunan kakao sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Agronomis PT Bali Coklat Junglegold Bali, Awe Karan, kepada RRI.CO.ID, Kamis, 18 Juni 2026 mengatakan peningkatan produktivitas kakao tidak terlepas dari semakin mudahnya petani memeroleh informasi mengenai teknik budidaya yang baik, mulai dari pemilihan varietas, tata cara penanaman, pemangkasan, hingga proses panen. "Untuk saat ini, produktivitas kakao di Indonesia dan khususnya di Bali mengalami peningkatan. Itu sejalan dengan teknologi dan informasi yang masuk ke petani. Mulai dari varietas klon, tata cara penanaman, pemangkasan sampai pemanenan sudah masuk ke petani sehingga produktivitas dan harga itu sejalan," ujarnya.

Menurutnya, wilayah Bali Barat, khususnya Kabupaten Jembrana, menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan kakao karena didukung kondisi tanah, iklim, serta ketinggian wilayah yang sesuai untuk budidaya tanaman tersebut. Ia mengungkapkan, saat ini petani mulai banyak menggunakan klon-klon unggul seperti MCC 02 (Masamba Cocoa Clone 02), Sulawesi 2, Buntu Batu 01, hingga beberapa klon lainnya yang memiliki produktivitas tinggi serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

"Klon MCC 02 memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit serta produktivitas yang tinggi. Dalam satu hektare lahan, produksinya bisa mencapai sekitar 2,5 hingga 3 ton per hektare," ungkapnya.

Awe menjelaskan, beberapa tahun lalu pengembangan kakao masih menghadapi kendala berupa keterbatasan bibit unggul dan minimnya kemampuan petani melakukan penyambungan tanaman (grafting). Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah karena semakin banyak petani yang telah menguasai teknik perbanyakan bibit secara mandiri.

"Sekarang di daerah Jembrana banyak petani sudah bisa melakukan grafting atau menyambung pucuk di kebunnya, sehingga bibit kakao tidak lagi sulit didapatkan," jelasnya.

Ia juga mengaku telah menerapkan peremajaan tanaman kakao di kebun milik keluarganya di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Kebun yang telah ditanam sejak 1996 kini direhabilitasi menggunakan klon-klon unggul agar produktivitasnya tetap terjaga.

Awe berharap kakao dapat terus berkembang sebagai salah satu komoditas perkebunan unggulan di Bali. Selain relatif mudah dibudidayakan, komoditas tersebut dinilai memiliki prospek ekonomi yang baik apabila didukung dengan pendampingan teknologi dan akses pasar yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....