Ngobras Mengulas Dampak Perang Dunia terhadap Surabaya Modern
- 25 Jun 2026 12:16 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Program Ngobras yang disiarkan Pro1 RRI Surabaya pada Rabu 24 Juni 2026, menghadirkan Muhammad Zaki Rabbani dari komunitas Begandring Soerabaia sebagai narasumber. Dipandu Joe Adi Yuanda, perbincangan kali ini mengajak pendengar menelusuri perjalanan sejarah Kota Surabaya yang ternyata tidak dapat dipisahkan dari pengaruh dua perang dunia. Meski konflik tersebut berlangsung jauh dari Indonesia, dampaknya turut membentuk perkembangan ekonomi, sosial, hingga politik Kota Pahlawan.
Saat hadir di studio, penampilan Zaki menarik perhatian karena mengenakan atribut yang menyerupai sosok Abdulrahman Saleh, pendiri RRI sekaligus tokoh Angkatan Udara Republik Indonesia.
Menurutnya, pilihan busana tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada figur yang dianggap memiliki dedikasi luar biasa bagi bangsa. “Beliau sosok multitalenta, bukan hanya dokter dan ahli radio, tapi juga mampu mempelajari dunia penerbangan dan kedirgantaraan dalam waktu yang sangat singkat. Itulah yang membuat saya terinspirasi untuk meneladani dan mengenang jasa beliau,” ujar Zaki.
Dalam dialog tersebut, Zaki mengungkapkan ketertarikannya pada buku Surabaya City of War karya Hawedik yang terbit pada 2003. Buku tersebut menjelaskan bagaimana dampak Perang Dunia I dan II turut memengaruhi kehidupan masyarakat Surabaya. “Hal ini mengingatkan kita pada situasi saat ini: meskipun perang terjadi di Timur Tengah, dampak ekonominya tetap terasa sampai ke sini. Begitu juga yang terjadi pada Surabaya sejak tahun 1914 hingga 1945,” kata Zaki.
Menurutnya, menjelang Perang Dunia I, Surabaya telah berkembang menjadi kota paling maju di Hindia Belanda. Posisi geografis yang strategis menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan wilayah barat dan timur Nusantara.
“Semua komoditas mulai dari rempah-rempah, minyak, hingga batu bara dari Kalimantan pasti melewati Surabaya. Perekonomiannya ditopang oleh industri gula, perkebunan tebu, dan juga kilang minyak pertama yang ada di daerah Kutisari dan Wonokromo,” jelasnya.
Kemajuan ekonomi tersebut mendorong Surabaya tumbuh sebagai kota kosmopolitan yang dihuni masyarakat dari berbagai bangsa. Jejak keberagaman itu, kata Zaki, masih dapat ditemukan hingga sekarang melalui berbagai peninggalan sejarah. “Bisa dilihat dari jejak makam orang Eropa, Jepang, dan bangsa lain yang masih ada. Mereka datang untuk bergerak di bidang pelayaran, perdagangan, dan pengelolaan perkebunan,” tambahnya.
Namun kondisi tersebut mulai berubah ketika Perang Dunia I pecah. Meski Belanda memilih bersikap netral, dampak perang tetap dirasakan melalui blokade dan embargo yang menghambat aktivitas perdagangan.
“Setelah perang usai, permintaan melonjak tajam dan harga melambung tinggi. Namun terlalu banyak uang yang beredar di masyarakat akhirnya memicu inflasi hebat, yang memicu krisis ekonomi dan gelombang pemogokan buruh di Surabaya,” ungkap Zaki.
| Baca juga: Kesuksesan Abadi dalam Islam |
Situasi semakin berat ketika wabah Flu Spanyol melanda dunia pada 1918. Sebagai kota pelabuhan yang ramai, Surabaya menjadi salah satu wilayah yang rentan terhadap penyebaran penyakit tersebut. “Mirip dengan pandemi COVID-19, saat itu pengetahuan medis masih sangat terbatas. Korban jiwa di Jawa Timur dan Surabaya tercatat sangat banyak, dan ini menjadi salah satu dampak tersembunyi dari perang dunia pertama,” jelasnya.
Zaki juga menyoroti perubahan besar yang terjadi ketika Jepang mengambil alih kekuasaan dari Belanda pada 1942. Menurutnya, masa pendudukan Jepang tidak hanya menghadirkan penderitaan, tetapi juga memunculkan pengalaman politik yang memperkuat kesadaran kebangsaan rakyat Indonesia.
“Perubahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang pada tahun 1942 menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah Indonesia karena membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Kesempatan yang diberikan kepada tokoh Indonesia untuk terlibat dalam administrasi dan organisasi menjadi pengalaman politik yang penting menjelang kemerdekaan,” kata Zaki.
Ia menegaskan bahwa berbagai peristiwa global yang terjadi antara 1914 hingga 1945 telah membentuk perjalanan Surabaya sekaligus menjadi bagian penting menuju lahirnya Indonesia merdeka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....