Keberagaman Budaya Kabupaten Kupang Jadi Kekuatan Sosial Masyarakat
- 24 Jun 2026 10:59 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Keberagaman budaya di Kabupaten Kupang kembali ditegaskan sebagai kekuatan sosial yang mampu mempererat persatuan masyarakat di tengah perbedaan identitas etnis, bahasa, dan tradisi. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan penutupan Bulan Budaya dan Bahasa Jemaat GMIT Sontetus Oe’ika di Desa Baumata Utara, Kecamatan Taebenu, Kamis 4 Juni 2026, yang turut dihadiri Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, bersama tokoh gereja, akademisi, dan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Aurum menegaskan bahwa keberagaman budaya yang dimiliki masyarakat Kabupaten Kupang bukanlah pembeda yang memisahkan, melainkan modal sosial yang memperkuat solidaritas dan kebersamaan. Ia menilai, interaksi budaya yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat menunjukkan adanya ruang hidup bersama yang harmonis.
Hal ini terlihat dalam berbagai simbol budaya, seperti penggunaan kain tenun dari berbagai daerah yang saling dipadukan dalam satu komunitas. Aurum juga mengapresiasi peran Jemaat GMIT Sontetus Oe’ika yang telah menghadirkan ruang perjumpaan budaya melalui kegiatan Bulan Budaya dan Bahasa, termasuk perlombaan budaya, workshop bahasa daerah, dan penelusuran sejarah masyarakat Baumata.
Kegiatan tersebut dinilai mampu memperkuat pemahaman masyarakat bahwa keberagaman tidak hanya perlu dihargai, tetapi juga dirayakan sebagai bagian dari identitas bersama. Dalam kesempatan yang sama, keterlibatan akademisi dari Universitas Kristen Artha Wacana Kupang dalam kajian sejarah dan budaya masyarakat Baumata juga menjadi penguat penting dalam dokumentasi nilai-nilai lokal yang beragam.
Para tokoh masyarakat menilai bahwa keberagaman budaya di Kabupaten Kupang merupakan aset sosial yang sangat berharga, karena mampu menjadi perekat dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, dan berbudaya. Pemerintah Kabupaten Kupang menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai keberagaman akan terus menjadi bagian dari arah pembangunan daerah, terutama dalam membangun masyarakat yang inklusif, toleran, dan berdaya saing.
Melalui kegiatan seperti Bulan Budaya dan Bahasa, pemerintah berharap masyarakat semakin menyadari bahwa keberagaman bukan sekadar kenyataan sosial, tetapi juga kekuatan utama dalam membangun masa depan daerah yang lebih harmonis dan berkelanjutan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....